- Senat AS memperkenalkan RUU "Mined in America" untuk mengurangi ketergantungan pada perangkat keras penambangan Bitcoin buatan China.
- RUU ini mendorong pemanfaatan emisi metana berbahaya menjadi energi penambangan guna mendukung kelestarian lingkungan.
- Pemerintah AS berencana membentuk Cadangan Bitcoin Strategis menggunakan aset digital sitaan untuk tujuan cadangan jangka panjang.
Suara.com - Anggota Senat Amerika Serikat resmi memperkenalkan rancangan undang-undang (RUU) ambisius bertajuk "Mined in America".
Kebijakan strategis ini dirancang untuk memperkuat kedaulatan teknologi AS dalam industri penambangan Bitcoin (BTC) sekaligus mengakhiri ketergantungan kronis terhadap perangkat keras manufaktur China.
Meski saat ini Amerika Serikat menguasai sekitar 38% pangsa pasar penambangan global, sebuah laporan dari Cryptopolitan pada Selasa (31/3/2026) mengungkapkan fakta sekitar 97% mesin tambang khusus (ASIC) yang beroperasi di AS ternyata diproduksi oleh perusahaan asal China.
Para senator menilai dominasi ini sebagai ancaman serius bagi keamanan nasional dan stabilitas rantai pasok infrastruktur keuangan digital.
RUU ini menetapkan peta jalan bagi perusahaan penambangan untuk beralih menggunakan peralatan buatan dalam negeri secara bertahap. Pemerintah menargetkan kemandirian total perangkat keras tambang pada akhir dekade ini.
Sebagai instrumen utama, kebijakan ini memperkenalkan program sertifikasi "Mined in America". Label ini akan diberikan kepada perusahaan yang terbukti menggunakan perangkat keras aman dan mematuhi standar operasional lokal.
Selain meningkatkan kepercayaan investor, regulasi ini mewajibkan lembaga pemerintah untuk aktif mempromosikan dan mendukung pengembangan pabrik mesin tambang di wilayah AS.
Inovasi Hijau: Mengubah Limbah Metana Menjadi Aset Digital
Salah satu poin paling progresif dalam RUU ini adalah pengintegrasian penambangan Bitcoin dengan program kelestarian lingkungan dan pembangunan pedesaan. Penambangan Bitcoin tidak lagi dipandang sebagai beban listrik, melainkan alat penyeimbang beban (load balancing) bagi jaringan listrik nasional.
Senat mengusulkan pemanfaatan emisi gas metana dari ladang minyak dan tempat pembuangan akhir (TPA) sebagai sumber energi mesin tambang. Metana dikenal sebagai gas rumah kaca yang jauh lebih berbahaya daripada karbon dioksida. Dengan membakarnya untuk menghasilkan listrik bagi penambangan, perusahaan dapat:
Baca Juga: Perang Klaim AS-Iran: Teheran Tepis Kabar Damai yang Digagas Trump
Mengurangi dampak pemanasan global secara drastis.
Mendapatkan akses pendanaan pemerintah melalui program energi terbarukan dan pertanian.
Mengubah limbah berbahaya menjadi aset finansial yang produktif.
Pembentukan Cadangan Bitcoin Strategis (Strategic Bitcoin Reserve)
Visi besar lainnya adalah instruksi kepada Departemen Keuangan AS untuk mengelola Cadangan Bitcoin Strategis. Alih-alih hanya menjual Bitcoin hasil sitaan kasus hukum, pemerintah berencana menyimpannya sebagai aset cadangan jangka panjang, setara dengan peran emas atau cadangan minyak bumi nasional.
Sistem ini dirancang agar tidak membebani anggaran negara atau pajak rakyat. Pendanaan cadangan akan bersumber dari pemanfaatan aset digital sitaan lainnya melalui mekanisme staking atau perolehan airdrop.
Sebagai pemanis, perusahaan tambang bersertifikat "Mined in America" akan diberikan insentif khusus berupa pembebasan pajak keuntungan modal (capital gains tax) jika mereka menjual Bitcoin hasil tambangnya langsung kepada pemerintah AS. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat cadangan devisa digital AS di tengah persaingan geopolitik.
Berita Terkait
-
Prajurit TNI Gugur di Lebanon, DPR Minta Pasukan Segera Ditarik Pulang
-
Rupiah Mulai Bangkit, Dolar AS Turun ke Level Rp16.995
-
Robert De Niro Bakar Semangat Jutaan Warga AS di Jalan: Tidak Ada Raja Trump!
-
Strategi Jitu Pemerintah Jajaki Pasar China untuk Produk Unggulan Indonesia
-
Tok! Harga BBM Bakal Naik Tengah Malam Ini, Cek Bocorannya
Terpopuler
- Promo Long Weekend Alfamart, Diskon Camilan untuk Liburan sampai 60 Persen
- Jokowi Sembuh dan Siap Keliling Indonesia, Pengamat: Misi Utamanya Loloskan PSI ke Senayan!
- Siapa Ayu Aulia? Bongkar Ciri-ciri Bupati R yang Membuatnya Kehilangan Rahim
- 3 Sepatu Lari Skechers Terbaik untuk Pemula dan Pelari Harian
- 6 Warna Pakaian yang Dipercaya Bawa Keberuntungan untuk Shio di Tahun Kuda Api 2026
Pilihan
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
-
Menilik Sepatu Lari 'Anak Jaksel' di Lapangan Banteng: Brand Lokal Mulai Mendominasi?
-
SMAN 1 Pontianak Tolak Ikut Lomba Ulang, Sampaikan Salam: Sampai Jumpa di LCC Tahun Depan!
-
Keluar Kau Setan! Ricuh di Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping
Terkini
-
Pasar Properti Ditopang Rumah Kecil dan Menengah
-
Dari Piutang hingga Tata Kelola, Ini PR Besar Perusahaan Sebelum IPO
-
Tarif Listrik Tak Naik sejak 2022, Kok Tagihan Bisa Membengkak?
-
QRIS Masuk Sektor Logistik, UMKM Agen Paket Ikut Kecipratan Manfaat
-
India Akhirnya Naikkan Harga BBM Setelah 4 Tahun Bertahan
-
Begini Ramalan Nilai Tukar Rupiah dalam Waktu Dekat, Bisa Tembus Rp 20.000?
-
Pemerintah Klaim Potensi Resesi RI Lebih Rendah dari AS, Jepang, dan Kanada
-
Bukan Belanja Pemerintah, Purbaya Klaim Konsumsi Rumah Tangga Dorong Ekonomi Tumbuh 5,61%
-
Gaji Ke-13 PNS dan Pensiunan Kapan Cair? Kabar Gembira, Jadwal Pencairan PPPK Sudah Diumumkan
-
Purbaya Blak-blakan Restrukturisasi Utang Whoosh Lelet, Padahal Sudah Diputuskan