Bisnis / Makro
Selasa, 31 Maret 2026 | 20:26 WIB
Industri kimia dan petrokimia sangat terdampak karena bergantung pada bahan baku impor dari kawasan Timur Tengah. [Istimewa]
Baca 10 detik
  • Konflik Iran-AS-Israel menyebabkan krisis energi global yang menekan kinerja industri dalam negeri tertentu.
  • Industri kimia dan petrokimia sangat terdampak karena bergantung pada bahan baku impor dari kawasan Timur Tengah.
  • Kemenperin mengimbau industri efisiensi energi dan mengantisipasi kenaikan biaya logistik global untuk menjaga kinerja.

Suara.com - Konflik di Timur Tengah imbas perang Iran Vs Amerika Serikat (AS)-Israel mulai memberi tekanan terhadap kinerja industri dalam negeri. Sebab, memanasnya situasi geopolitik itu mengakibatkan krisis energi pada berbagai negara.

Juru Bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Antoni Arif mengatakan dampak konflik yang melibatkan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel saat ini memang belum merata, namun sudah terasa pada subsektor tertentu.

“Dampaknya terhadap industri masih terbatas pada subsektor tertentu,” ujar Febri di Kantor Kemenperin, Selasa (31/3/2026).

Ia menjelaskan, sektor yang paling terdampak adalah industri yang bergantung pada bahan baku impor dari kawasan Timur Tengah, terutama industri kimia dan petrokimia.

Menurut dia, gangguan pada rantai pasok energi global berpotensi menghambat distribusi bahan baku yang menjadi input penting bagi berbagai industri turunan, mulai dari plastik, kemasan, hingga otomotif dan makanan-minuman.

“Untuk bahan baku pada industri hulu yang menggantungkan bahan bakunya dari Timur Tengah itu memang sedikit tersendat,” katanya.

Selain gangguan pasokan, tekanan juga datang dari kenaikan biaya energi dan logistik global. Kondisi ini dinilai dapat meningkatkan biaya produksi industri dalam negeri jika tidak diantisipasi dengan cepat.

“Kami harus jujur menyampaikan bahwa setiap terjadi kenaikan biaya energi itu akan menekan kinerja industri,” ujarnya.

Merespons kondisi tersebut, Kementerian Perindustrian mengimbau pelaku industri untuk melakukan efisiensi, terutama dalam penggunaan energi.

Baca Juga: Kemenperin Akui Baja China Jadi Masalah di Indonesia

“Untuk melakukan efisiensi penggunaan energi dalam proses produksi ataupun aktivitas pendukung industri,” katanya.

Selain itu, pelaku industri juga diminta mengantisipasi kenaikan biaya logistik, baik untuk kegiatan ekspor maupun impor bahan baku.

“Salah satu yang memang perlu dicermati oleh industri ke depan adalah kenaikan biaya logistik,” ujarnya.

Di sisi lain, pemerintah juga akan berupaya menjaga permintaan terhadap produk industri, baik dari pasar domestik maupun ekspor, agar kinerja sektor manufaktur tetap terjaga di tengah tekanan global.

Untuk pasar domestik, pemerintah berencana memperkuat perlindungan terhadap produk dalam negeri dari serbuan impor. Sementara untuk pasar ekspor, industri didorong meningkatkan daya saing agar dapat memanfaatkan peluang di pasar global.

“Kami akan coba mendorong agar demand domestik produk industri itu bisa dilindungi dari banjir produk impor,” katanya.

Load More