- Konflik Iran-AS-Israel menyebabkan krisis energi global yang menekan kinerja industri dalam negeri tertentu.
- Industri kimia dan petrokimia sangat terdampak karena bergantung pada bahan baku impor dari kawasan Timur Tengah.
- Kemenperin mengimbau industri efisiensi energi dan mengantisipasi kenaikan biaya logistik global untuk menjaga kinerja.
Suara.com - Konflik di Timur Tengah imbas perang Iran Vs Amerika Serikat (AS)-Israel mulai memberi tekanan terhadap kinerja industri dalam negeri. Sebab, memanasnya situasi geopolitik itu mengakibatkan krisis energi pada berbagai negara.
Juru Bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Antoni Arif mengatakan dampak konflik yang melibatkan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel saat ini memang belum merata, namun sudah terasa pada subsektor tertentu.
“Dampaknya terhadap industri masih terbatas pada subsektor tertentu,” ujar Febri di Kantor Kemenperin, Selasa (31/3/2026).
Ia menjelaskan, sektor yang paling terdampak adalah industri yang bergantung pada bahan baku impor dari kawasan Timur Tengah, terutama industri kimia dan petrokimia.
Menurut dia, gangguan pada rantai pasok energi global berpotensi menghambat distribusi bahan baku yang menjadi input penting bagi berbagai industri turunan, mulai dari plastik, kemasan, hingga otomotif dan makanan-minuman.
“Untuk bahan baku pada industri hulu yang menggantungkan bahan bakunya dari Timur Tengah itu memang sedikit tersendat,” katanya.
Selain gangguan pasokan, tekanan juga datang dari kenaikan biaya energi dan logistik global. Kondisi ini dinilai dapat meningkatkan biaya produksi industri dalam negeri jika tidak diantisipasi dengan cepat.
“Kami harus jujur menyampaikan bahwa setiap terjadi kenaikan biaya energi itu akan menekan kinerja industri,” ujarnya.
Merespons kondisi tersebut, Kementerian Perindustrian mengimbau pelaku industri untuk melakukan efisiensi, terutama dalam penggunaan energi.
Baca Juga: Kemenperin Akui Baja China Jadi Masalah di Indonesia
“Untuk melakukan efisiensi penggunaan energi dalam proses produksi ataupun aktivitas pendukung industri,” katanya.
Selain itu, pelaku industri juga diminta mengantisipasi kenaikan biaya logistik, baik untuk kegiatan ekspor maupun impor bahan baku.
“Salah satu yang memang perlu dicermati oleh industri ke depan adalah kenaikan biaya logistik,” ujarnya.
Di sisi lain, pemerintah juga akan berupaya menjaga permintaan terhadap produk industri, baik dari pasar domestik maupun ekspor, agar kinerja sektor manufaktur tetap terjaga di tengah tekanan global.
Untuk pasar domestik, pemerintah berencana memperkuat perlindungan terhadap produk dalam negeri dari serbuan impor. Sementara untuk pasar ekspor, industri didorong meningkatkan daya saing agar dapat memanfaatkan peluang di pasar global.
“Kami akan coba mendorong agar demand domestik produk industri itu bisa dilindungi dari banjir produk impor,” katanya.
Berita Terkait
-
Indeks Kepercayaan Industri Anjlok di Februari, Tapi Masih di Zona Ekspansi
-
Imbas Konflik Timur Tengah, Chandra Asri Group Nyatakan Force Majeure
-
Kemenperin Catat Industri, Kimia dan Tekstil Lagi Loyo di Februari
-
Belanja Pakaian Naik Tapi Pabrik Tekstil Boncos, Kemenperin: Impor Terus
-
Impor Masih Dominan, Emiten Petrokimia TPIA Bidik Penguatan Pasar Domestik
Terpopuler
- Jokowi Sembuh dan Siap Keliling Indonesia, Pengamat: Misi Utamanya Loloskan PSI ke Senayan!
- Promo Long Weekend Alfamart, Diskon Camilan untuk Liburan sampai 60 Persen
- 6 Warna Pakaian yang Dipercaya Bawa Keberuntungan untuk Shio di Tahun Kuda Api 2026
- 5 HP Xiaomi RAM Besar Termurah, Baterai Awet untuk Multitasking Harian
- Siapa Ayu Aulia? Bongkar Ciri-ciri Bupati R yang Membuatnya Kehilangan Rahim
Pilihan
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
-
Menilik Sepatu Lari 'Anak Jaksel' di Lapangan Banteng: Brand Lokal Mulai Mendominasi?
-
SMAN 1 Pontianak Tolak Ikut Lomba Ulang, Sampaikan Salam: Sampai Jumpa di LCC Tahun Depan!
-
Keluar Kau Setan! Ricuh di Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping
Terkini
-
Serbu Promo Superindo Weekend, Ada Beli 1 Gratis 1 Minyak Goreng sampai Produk Bayi
-
Harga Minyak Terus Naik, DEN: Pembatasan BBM Akan Berdasarkan CC dan Jenis Kendaraan
-
Pasar Properti Ditopang Rumah Kecil dan Menengah
-
Dari Piutang hingga Tata Kelola, Ini PR Besar Perusahaan Sebelum IPO
-
Tarif Listrik Tak Naik sejak 2022, Kok Tagihan Bisa Membengkak?
-
QRIS Masuk Sektor Logistik, UMKM Agen Paket Ikut Kecipratan Manfaat
-
India Akhirnya Naikkan Harga BBM Setelah 4 Tahun Bertahan
-
Begini Ramalan Nilai Tukar Rupiah dalam Waktu Dekat, Bisa Tembus Rp 20.000?
-
Pemerintah Klaim Potensi Resesi RI Lebih Rendah dari AS, Jepang, dan Kanada
-
Bukan Belanja Pemerintah, Purbaya Klaim Konsumsi Rumah Tangga Dorong Ekonomi Tumbuh 5,61%