Bisnis / Energi
Kamis, 02 April 2026 | 14:11 WIB
Sejumlah petugas pemadam kebakaran Kota Bekasi melakukan pendinginan sisa kebakaran Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) Cimuning di Mustikajaya, Bekasi, Jawa Barat, Kamis (2/4/2026). [ANTARA FOTO/Paramayuda/rwa]
Baca 10 detik
  • Pertamina belum mengungkap jumlah korban dan penyebab pasti kebakaran SPBE di Bekasi.
  • Data korban kebakaran SPBE Bekasi masih simpang siur, investigasi Pertamina dinilai lambat.
  • SPBE Bekasi terbakar, Pertamina alihkan pasokan LPG ke titik lain demi cegah kelangkaan.

Suara.com - Tragedi kebakaran hebat yang melanda Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) PT Indogas Andalan di Bekasi, Jawa Barat, pada Rabu (1/4/2026) malam, menyisakan luka mendalam dan tanda tanya besar.

Meski api berhasil dijinakkan pada Kamis (2/4/2026) dini hari, pihak Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat (JBB) terkesan masih meraba-raba terkait dampak nyata dari insiden maut tersebut.

Hingga saat ini, publik belum mendapatkan kepastian mengenai jumlah korban jiwa maupun luka-luka. Area Manager Communications, Relations & CSR Regional JBB PT Pertamina Patra Niaga, Susanto August Satria, hanya bisa menjanjikan proses pendataan yang entah kapan akan rampung.

"Adapun data jumlah korban masih dalam proses pendataan dan akan disampaikan lebih lanjut," cetus Susanto dalam keterangan resminya, Kamis (2/4/2026).

Ketidakpastian ini kian mempertebal keraguan publik terhadap standar keamanan di objek vital tersebut. Ironisnya, meski api sudah padam berjam-jam yang lalu, penyebab pasti ledakan dan kebakaran di SPBE tersebut masih "gelap". Pertamina berdalih proses investigasi bersama aparat berwenang masih berlangsung, tanpa memberikan estimasi waktu yang jelas.

Tak hanya soal korban, trauma masyarakat sekitar juga menjadi sorotan. Pertamina memang mengklaim telah meminta pihak SPBE melakukan "penanganan terbaik", namun di lapangan, kekhawatiran warga akan keamanan operasional energi di lingkungan mereka kian memuncak.

Meski Pertamina sibuk mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan panic buying dan menjamin pasokan aman melalui skema Regular Alternative Emergency (RAE), sejarah mencatat bahwa gangguan pada satu titik distribusi sering kali memicu efek domino di pasar.

Pertamina kini mengandalkan suplai dari tiga titik darurat:

  • SPBE PT Kenrope Sarana Pratama (jarak ±5,8 km)
  • SPBE PT Pacific Sumber Segara (jarak ±7,1 km)
  • SPBE PT Dharma Wira Sentosa (jarak ±7,9 km)

Publik kini menanti keberanian Pertamina untuk buka-bukaan soal kelalaian yang mungkin terjadi di SPBE PT Indogas Andalan. Jangan sampai, jargon "keselamatan masyarakat" hanya menjadi pemanis di tengah kepulan asap sisa kebakaran yang menghantui warga Bekasi.

Baca Juga: Lokasi SPBE Cimuning Dekat Pemukiman Warga Jadi Sorotan, Wawako Bekasi: Ini Pelajaran Mahal

Load More