- Kemenhub siapkan water taxi Bandara-Canggu guna pangkas waktu tempuh dari 2 jam jadi 30 menit.
- Pemerintah tawarkan swasta bangun pelabuhan di Amed dan Gunaksa untuk pecah arus logistik Bali.
- DPR dan Gubernur Bali sepakat pindahkan beban truk dari darat ke laut demi urai macet Gilimanuk.
Suara.com - Kemacetan kronis di Pulau Dewata, Bali, mulai mendapatkan perhatian serius dari pemerintah pusat. Guna mengurai benang kusut kepadatan lalu lintas, khususnya yang dipicu oleh arus kendaraan dari Pelabuhan Gilimanuk, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyiapkan strategi "jalur biru" alias optimalisasi transportasi laut.
Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi mengungkapkan bahwa salah satu solusi jitu yang tengah digodok adalah pengembangan taksi air (water taxi). Moda ini diharapkan menjadi alternatif transportasi yang mengintegrasikan jalur darat, laut, dan udara secara efisien.
"Water taxi merupakan salah satu solusi alternatif untuk mengurangi kepadatan lalu lintas di Bali, khususnya di Kabupaten Badung. Ini akan menghubungkan Bandara I Gusti Ngurah Rai dengan kawasan wisata seperti Canggu," ujar Dudy dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI di Senayan, Rabu (8/4/2026).
Langkah ini diprediksi akan menjadi game changer bagi wisatawan. Jika biasanya perjalanan dari bandara menuju Canggu memakan waktu 1 hingga 2 jam akibat macet, melalui taksi air, waktu tempuh bisa dipangkas menjadi hanya 30 menit.
Tak hanya soal angkutan orang, pemerintah juga fokus membenahi distribusi logistik yang selama ini bertumpu pada lintasan Ketapang-Gilimanuk. Menhub menawarkan pihak swasta untuk terlibat dalam pengembangan pelabuhan di sejumlah titik strategis seperti Amed, Sangsit, dan Gunaksa untuk melayani kapal Ferry Ro-Ro.
"Untuk Celukan Bawang akan dikembangkan oleh Pelindo. Sementara titik lain seperti Amed dan Gunaksa kami tawarkan kepada swasta," tambah Dudy.
Gubernur Bali, I Wayan Koster, mendukung penuh langkah tersebut. Menurutnya, biang kerok kemacetan di Bali selatan adalah tumpukan truk logistik yang masuk dari Jawa melalui Gilimanuk lalu menyisir jalur darat Bali.
"Kami ingin kendaraan logistik dari Ketapang tidak lagi turun semua di Gilimanuk. Kalau mau ke Utara bisa ke Celukan Bawang atau Sangsit, ke Timur ke Amed, dan ke Selatan ke Gunaksa. Jadi tidak semua lewat darat," tegas Koster.
Kondisi di lapangan memang sudah mengkhawatirkan. Ketua Komisi V DPR RI, Lasarus, menyebut Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk kini sudah dalam status over capacity.
Baca Juga: Peringkat Terbaru Bali United Usai Bantai PSBS Biak 6-1
"Kapasitas daya tampungnya terbatas. Mau dikerahkan personel sebanyak apa pun, kalau volumenya berlebih tetap akan macet. Pengalihan jalur logistik ini harus dipertimbangkan serius seperti yang dilakukan di Merak-Bakauheni," kata Lasarus.
Dengan pengalihan arus logistik ke jalur laut dan kehadiran taksi air, pemerintah optimistis beban jalan raya di Bali akan berkurang drastis, sekaligus mengembalikan kenyamanan bagi para pelancong di destinasi wisata dunia tersebut.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Motor Listrik Paling Kuat di Tanjakan 2026, Anti Ngeden dan Tetap Bertenaga
- 7 Bedak Anti Luntur Kena Keringat saat Cuaca Panas, Makeup Tetap On Seharian
- Geger! Saiful Mujani Serukan "Gulingkan Prabowo": Dinasihati Nggak Bisa, Bisanya Hanya Dijatuhkan
- Therese Halasa, Perempuan Palestina yang Tembak Benjamin Netanyahu
- 4 HP Tahan Air yang Bisa Digunakan saat Berenang, Anti Rusak dan Anti Rewel
Pilihan
-
Regime Change! Kongres AS Usul Donald Trump dan Menteri Perang Dicopot Pekan Depan
-
Kebakaran di Gedung Satreskrim Polres Jakarta Barat, 13 Mobil Damkar Dikerahkan
-
90 Menit yang Menentukan! Trump Tak Jadi Pakai Senjata Nuklir ke Iran karena Ditekan?
-
Donald Trump Umumkan Gencatan Senjata Perang Iran Selama Dua Pekan
-
Berkas 4 Oknum BAIS TNI Tersangka Penyiraman Air Keras ke Andrie Yunus Dilimpahkan ke Otmil
Terkini
-
IHSG Terbang 3% ke Level 7.207 di Sesi I, 592 Saham Naik
-
Cadangan Devisa Indonesia Mulai Menipis, Sisa Rp2.519 Triliun
-
Target Emisi Tercapai, Pertamina Ajak Masyarakat Bijak Gunakan Energi
-
Pangkas Ketergantungan APBN, Pemerintah Segera Revisi Perpres Cadangan Penyangga Energi
-
Sejarah Kelam Rp17.100 per Dolar AS: Bagaimana Konflik Timur Tengah Menguras Kas APBN Kita?
-
Kesepakatan AS-Iran: Gencatan Senjata Dimulai, Selat Hormuz Kembali Dibuka
-
Emas Antam Naik Lagi, Hari Ini Dibanderol Rp 2,9 Juta/Gram
-
Harga Pangan Mulai Melandai, Tapi Cabai Masih Tinggi
-
Pembatasan BBM Subsidi 50 Liter per Hari Berlaku sampai Mei 2026
-
Kenapa Harga E-Katalog Lebih Mahal? Begini Penjelasan LKPP