Bisnis / Makro
Rabu, 08 April 2026 | 13:23 WIB
Menhub Dudy Purwagandhi saat konferensi pers di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (6/4/2026). [Suara.com/Dicky Prastya]
Baca 10 detik
  • Kemenhub siapkan water taxi Bandara-Canggu guna pangkas waktu tempuh dari 2 jam jadi 30 menit.
  • Pemerintah tawarkan swasta bangun pelabuhan di Amed dan Gunaksa untuk pecah arus logistik Bali.
  • DPR dan Gubernur Bali sepakat pindahkan beban truk dari darat ke laut demi urai macet Gilimanuk.

Suara.com - Kemacetan kronis di Pulau Dewata, Bali, mulai mendapatkan perhatian serius dari pemerintah pusat. Guna mengurai benang kusut kepadatan lalu lintas, khususnya yang dipicu oleh arus kendaraan dari Pelabuhan Gilimanuk, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyiapkan strategi "jalur biru" alias optimalisasi transportasi laut.

Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi mengungkapkan bahwa salah satu solusi jitu yang tengah digodok adalah pengembangan taksi air (water taxi). Moda ini diharapkan menjadi alternatif transportasi yang mengintegrasikan jalur darat, laut, dan udara secara efisien.

"Water taxi merupakan salah satu solusi alternatif untuk mengurangi kepadatan lalu lintas di Bali, khususnya di Kabupaten Badung. Ini akan menghubungkan Bandara I Gusti Ngurah Rai dengan kawasan wisata seperti Canggu," ujar Dudy dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI di Senayan, Rabu (8/4/2026).

Langkah ini diprediksi akan menjadi game changer bagi wisatawan. Jika biasanya perjalanan dari bandara menuju Canggu memakan waktu 1 hingga 2 jam akibat macet, melalui taksi air, waktu tempuh bisa dipangkas menjadi hanya 30 menit.

Tak hanya soal angkutan orang, pemerintah juga fokus membenahi distribusi logistik yang selama ini bertumpu pada lintasan Ketapang-Gilimanuk. Menhub menawarkan pihak swasta untuk terlibat dalam pengembangan pelabuhan di sejumlah titik strategis seperti Amed, Sangsit, dan Gunaksa untuk melayani kapal Ferry Ro-Ro.

"Untuk Celukan Bawang akan dikembangkan oleh Pelindo. Sementara titik lain seperti Amed dan Gunaksa kami tawarkan kepada swasta," tambah Dudy.

Gubernur Bali, I Wayan Koster, mendukung penuh langkah tersebut. Menurutnya, biang kerok kemacetan di Bali selatan adalah tumpukan truk logistik yang masuk dari Jawa melalui Gilimanuk lalu menyisir jalur darat Bali.

"Kami ingin kendaraan logistik dari Ketapang tidak lagi turun semua di Gilimanuk. Kalau mau ke Utara bisa ke Celukan Bawang atau Sangsit, ke Timur ke Amed, dan ke Selatan ke Gunaksa. Jadi tidak semua lewat darat," tegas Koster.

Kondisi di lapangan memang sudah mengkhawatirkan. Ketua Komisi V DPR RI, Lasarus, menyebut Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk kini sudah dalam status over capacity.

Baca Juga: Peringkat Terbaru Bali United Usai Bantai PSBS Biak 6-1

"Kapasitas daya tampungnya terbatas. Mau dikerahkan personel sebanyak apa pun, kalau volumenya berlebih tetap akan macet. Pengalihan jalur logistik ini harus dipertimbangkan serius seperti yang dilakukan di Merak-Bakauheni," kata Lasarus.

Dengan pengalihan arus logistik ke jalur laut dan kehadiran taksi air, pemerintah optimistis beban jalan raya di Bali akan berkurang drastis, sekaligus mengembalikan kenyamanan bagi para pelancong di destinasi wisata dunia tersebut.

Load More