Suara.com - Pesona Selat Malaka ternyata membuat Singapura jatuh hati sehingga enggan membayar tarif Selat Hormuz ke Iran.
Adapun baru-baru ini, Iran sedang 'galak-galaknya' dengan negara-negara raksasa ekonomi seperti Singapura dengan menggalakkan tarif Selat Hormuz.
Tak keok dengan sikap Iran, Singapura enggan membayar tarif tersebut.
Menlu Singapura Vivian Balakrishnan dalam keterangan tegasnya, dikutip Kamis (9/4/2026) mengatakan negaranya emoh untuk membayar sepeserpun ke Iran demi kapal-kapal dagang bisa lewat.
Bukan tanpa alasan, sikap Singapura tersebut merujuk kepada hak lintas damai kapal internasional diatur dalam hukum UNCLOS yang berlaku bagi seluruh negara di dunia.
Lebih lanjut, Balakrishnan menilai bahwa negaranya lebih menggantungkan diri dengan Selat Malaka yang lebih strategis untuk perdagangan.
Berkaca dari lokasi Selat Malaka yang strategis, Balakrishnan sesumbar mengatakan bahwa Singapura juga menjadi salah satu arteri perekonomian dunia.
Lantas, siapakah pemilik Selat Malaka sebenarnya yang menjadi 'pembuluh darah' perekonomian Singapura? Apakah benar Singapura punya hak paling besar atas Selat Malaka?
Selat Malaka bukan milik Singapura saja
Baca Juga: Pemerintah Indonesia Respons Positif Gencatan Senjata Iran-AS
Pernyataan Balakrishnan tak sepenuhnya salah, karena Singapura juga menjadi 'pemain utama' dalam perdagangan di Selat Malaka.
Kendati demikian, Selat Malaka tidak dimiliki oleh satu negara tunggal, melainkan dikelola secara kolektif oleh tiga negara littoral states yakni Indonesia, Malaysia, dan Singapura.
Berdasarkan hukum laut internasional (UNCLOS 1982), kedaulatan atas perairan ini dibagi sesuai batas wilayah laut teritorial masing-masing negara.
Thailand juga memiliki peran di bagian utara, namun manajemen utama lalu lintas dan keamanan berada di bawah koordinasi ketiga negara tersebut.
Mengenai pernyataan Menlu Balakrishnan, memang benar bahwa posisi geografis Singapura sebagai pelabuhan transit utama, namun bukan penguasaan kepemilikan.
Klaim bahwa Singapura adalah pemilik tunggal adalah keliru secara hukum dan politik.
Singapura memang titik krusial secara ekonomi, namun regulasi perdagangan tetap melibatkan kerja sama regional demi menjaga stabilitas kawasan.
Adapun dampak dari penutupan Selat Hormuz sangat besar terhadap lalu lintas di Selat Malaka.
Jika Selat Hormuz ditutup akibat ketegangan Iran, pasokan energi dunia akan terganggu, sehingga peran Selat Malaka sebagai jalur alternatif dan distribusi global menjadi semakin vital.
Selat Malaka berfungsi sebagai "nadi" utama yang menghubungkan Samudra Hindia dan Pasifik.
Jika stabilitas di satu titik terganggu, tekanan ekonomi pada Selat Malaka akan meningkat drastis, mempertegas mengapa pengelolaan bersama antarnegara pantai sangat krusial bagi keamanan energi dunia.
Benarkah Selat Malaka lebih unggul dari Selat Hormuz?
Selat Malaka dan Selat Hormuz sering dijuluki sebagai dua "urat nadi" paling vital dalam perdagangan dunia, namun keduanya memiliki karakteristik dan keunggulan yang sangat berbeda.
Namun, ada beberapa hal yang lebih unggul pada Selat Malaka ketimbang Selat Hormuz, yakni sebagai berikut.
- Diversitas komoditas perdagangan
Selat Hormuz hampir sepenuhnya bergantung pada arus keluar energi (minyak mentah dan gas alam cair).
Sementara itu, Selat Malaka adalah jalur multikomoditas.
Selain energi dari Timur Tengah menuju Asia Timur selat ini mengangkut barang manufaktur, bahan pangan, hingga bahan baku industri dari Barat ke Timur dan sebaliknya.
- Konektivitas dua samudra besar
Keunggulan geografis utama Selat Malaka adalah perannya sebagai jembatan terpendek yang menghubungkan Samudra Hindia dengan Samudra Pasifik.
Tanpa jalur ini, kapal-kapal harus memutar jauh melalui Selat Lombok atau Selat Sunda, yang akan menambah waktu tempuh dan biaya operasional secara signifikan.
Selat Hormuz, di sisi lain, bersifat "kantong" yang menghubungkan Teluk Persia ke laut lepas.
- Stabilitas politik dan kerja sama regional
Meskipun menghadapi tantangan seperti pembajakan, Selat Malaka dikelola oleh negara-negara yang relatif stabil dan memiliki mekanisme kerja sama keamanan yang solid (seperti Malacca Straits Patrol).
Sebaliknya, Selat Hormuz berada di zona geopolitik yang sangat panas.
Kedekatannya dengan wilayah konflik membuat Selat Hormuz sering digunakan sebagai alat tawar politik atau ancaman blokade militer yang dapat melumpuhkan ekonomi dunia seketika.
Kontributor : Armand Ilham
Berita Terkait
Terpopuler
- Lupakan Aerox atau NMAX, Skutik Baru Yamaha Ini Punya Traksi dan Agresivitas Sempurna di Trek Basah
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
- 3 Sampo yang Mengandung Niacinamide untuk Atasi Rambut Rontok dan Ketombe
- Anggota DPR RI Mendadak Usul Bangun 1.000 Bioskop di Desa Pakai Dana APBN 2027
- 4 Bedak Padat Wardah yang Tahan 12 Jam, Coverage Tinggi dan Nyaman Dipakai Seharian
Pilihan
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
Terkini
-
Daftar Lokasi dan Jadwal Perbaikan Tol Jakarta - Tangerang Periode Mei 2026
-
5 Cara Amankan Cicilan KPR saat Suku Bunga Naik
-
Daftar Negara dengan Utang Paling Ekstrem, Indonesia Termasuk?
-
Awas Aksi Jual Asing! Saham Perbankan Jadi Sasaran Empuk Profit Taking
-
Ekonom Ramal Rupiah Susah Turun ke Level Rp 16.000/USD
-
Bos GoTo Lapor ke Seskab Teddy, Telah Turunkan Potongan Komisi Ojol 8%
-
Prabowo Diminta Evaluasi PLN Imbas Insiden Blackout Sumatra: Rakyat Rugi Besar!
-
Tekanan Ekonomi Bikin Investor RI Mulai Lirik Aset Kripto dan Emas Digital
-
Begini Kondisi Listrik di Sumatra, Masih Banyak yang Padam?
-
OJK Lihat Bisnis BPD Masih Baik-baik Saja