- UNVR berencana jual Buavita demi rampingkan operasional dan fokus pada segmen pertumbuhan tinggi.
- Aksi ini menyusul penjualan SariWangi ke Grup Djarum senilai Rp1,5 triliun pada Januari lalu.
- UBS dikabarkan jadi penasihat keuangan, memisahkan proses jual Buavita dari aset SariWangi sebelumnya.
Suara.com - PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) nampaknya kian agresif melakukan "bersih-bersih" portofolio bisnisnya. Setelah resmi melepas merek teh legendaris SariWangi, emiten konsumsi raksasa ini dikabarkan tengah menimbang rencana untuk menjual lini bisnis jus buah ikonik mereka, Buavita.
Langkah ini disebut-sebut sebagai bagian dari strategi besar perseroan untuk merampingkan operasional. UNVR ingin lebih ramping dengan keluar dari kategori non-inti (non-core) guna memfokuskan sumber daya pada segmen yang memiliki pertumbuhan serta margin jauh lebih tinggi di pasar domestik.
Mengutip laporan DealStreetAsia, Kamis (9/4/2026), rencana divestasi Buavita ini merupakan kelanjutan dari aksi korporasi yang dimulai awal tahun ini. Sebagaimana diketahui, pada Januari lalu, UNVR telah menuntaskan penjualan merek SariWangi kepada PT Savoria Kreasi Rasa entitas di bawah naungan Grup Djarum dengan nilai transaksi fantastis mencapai Rp1,5 triliun.
Sumber internal yang mengetahui rencana tersebut membisikkan bahwa raksasa perbankan investasi asal Swiss, UBS, kemungkinan besar telah ditunjuk sebagai penasihat keuangan untuk mengawal proses divestasi Buavita.
Menariknya, UBS awalnya sempat mempertimbangkan untuk menyatukan penjualan SariWangi dan Buavita dalam satu paket transaksi. Namun, rencana itu akhirnya urung dilakukan.
“Pada akhirnya (penjualannya) dipilih secara terpisah, mengingat kategori produk yang berbeda dan profil calon pembeli yang berbeda pula,” ungkap sumber anonim tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, manajemen Unilever Indonesia belum memberikan pernyataan resmi terkait detail nilai transaksi maupun calon pembeli potensial yang akan meminang Buavita. Namun, langkah ini menegaskan sinyal bahwa UNVR tengah fokus memoles performa fundamental dengan mengandalkan produk-produk unggulan yang lebih menguntungkan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Lupakan Aerox atau NMAX, Skutik Baru Yamaha Ini Punya Traksi dan Agresivitas Sempurna di Trek Basah
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
- 3 Sampo yang Mengandung Niacinamide untuk Atasi Rambut Rontok dan Ketombe
- Anggota DPR RI Mendadak Usul Bangun 1.000 Bioskop di Desa Pakai Dana APBN 2027
- 4 Bedak Padat Wardah yang Tahan 12 Jam, Coverage Tinggi dan Nyaman Dipakai Seharian
Pilihan
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
Terkini
-
Saham Diborong, Smelter Dibangun: Inilah Tentakel Nikel Haji Isam
-
IHSG Mulai Bangkit di Level 6.200 pada Sesi I, 540 Saham Hijau
-
IHSG Anjlok ke Level 6.000, OJK Beri Pesan untuk Investor
-
Kemenkeu Buktikan Indonesia Jauh dari Krisis Ekonomi ala 1998, Ini Datanya
-
Listrik Sumatra Kembali Normal, Penyelidikan Polri dan PLN Ungkap Temuan Baru
-
Ekspor CPO hingga Batu Bara Bakal Lewat Satu Pintu, Aturannya Rampung Hari Ini
-
Ekonom Senior Wanti-wanti Pemerintah Soal Potensi Monopoli Ekspor SDA
-
Ekspor Lewat PT DSI, Beban Pungutan hingga Bea Keluar Tak Lagi Ditanggung Eksportir
-
Dongkrak Kinerja Bisnis, Pertamina Optimalisasi AI dan Digitalisasi
-
Waspada! Pemerintah Mulai Sidak SPKLU, Isi Daya Mobil Listrik Bisa Tak Sesuai Bayaran?