- Delegasi Amerika Serikat dan Iran mengakhiri perundingan selama 21 jam di Pakistan tanpa mencapai kesepakatan formal terkait Selat Hormuz.
- Ketidakjelasan sikap Donald Trump mengenai status keamanan Selat Hormuz menjadi hambatan utama dalam proses negosiasi diplomatik kedua negara.
- Iran menolak syarat Washington dan belum berencana melanjutkan dialog, meskipun Pakistan tetap berupaya menjaga saluran komunikasi tetap terbuka.
Suara.com - Perundingan maraton selama 21 jam yang berlangsung di Pakistan antara delegasi Amerika Serikat dan Iran berakhir tanpa kesepakatan.
Di balik kebuntuan diplomasi ini, terdapat satu faktor krusial yang dianggap sebagai pemicu utama: sikap Presiden Donald Trump yang dinilai sangat tidak jelas dan berubah-ubah terkait masa depan Selat Hormuz.
Jalur perairan paling strategis di dunia tersebut menjadi titik api yang membuat negosiasi berjalan sangat sulit.
Wakil Presiden AS, JD Vance, dalam sebuah konferensi pers singkat, mengonfirmasi bahwa pertemuan tersebut gagal mencapai titik temu.
Ia menyatakan bahwa pihak Iran memilih untuk menolak syarat-syarat yang diajukan oleh Washington. Kegagalan ini menandai babak baru ketegangan di kawasan Timur Tengah, meskipun kedua belah pihak masih menyisakan ruang tipis untuk dialog di masa depan.
Ketidakjelasan posisi Amerika Serikat berakar langsung dari pernyataan-pernyataan Donald Trump yang saling bertolak belakang dalam sepuluh hari terakhir.
Dalam satu kesempatan, Trump sempat menyatakan bahwa Selat Hormuz sama sekali bukan merupakan kepentingan Amerika Serikat.
Ia berargumen bahwa Washington tidak lagi membutuhkan minyak yang mengalir melalui jalur tersebut dan menyerahkan urusan keamanan kepada negara-negara lain untuk menyelesaikannya dengan Iran.
Dikutip via Aljazeera, hanya berselang beberapa hari, ia mengubah retorikanya secara drastis. Trump kemudian menyebut bahwa Selat Hormuz adalah prioritas utama dan pusat dari segala tuntutan Amerika Serikat.
Baca Juga: Pemerintah Sebut Nasib 2 Kapal Tanker Pertamina di Selat Hormuz Belum Jelas
Ia menegaskan bahwa tidak akan ada ruang negosiasi jika jalur perairan tersebut tidak tetap dibuka. Inkonsistensi ini membuat para diplomat di lapangan kesulitan menentukan arah kebijakan luar negeri AS yang sebenarnya.
“Kita sama sekali tidak tahu di mana posisinya, karena itu adalah dua posisi yang sama sekali tidak dapat didamaikan,” ungkap seorang analis mengenai ketimpangan pernyataan Trump, kepada Aljazeera.
Ketidakpastian ini pula yang diyakini menjadi inti dari sulitnya menjembatani perbedaan antara kedua negara dalam setiap putaran pembicaraan.
Reaksi Iran dan Strategi Kartu Truf
Di pihak lain, Iran tampak tetap pada pendiriannya. Bagi Teheran, kendali atas Selat Hormuz adalah kartu truf paling kuat yang mereka miliki dalam peta geopolitik global.
Iran menunjukkan niat yang jelas bahwa mereka tidak akan melepaskan kontrol tersebut tanpa mendapatkan keuntungan maksimal di meja perundingan.
Berita Terkait
-
Iran Tetapkan Tarif Selat Hormuz, Harga Bitcoin Malah Anjlok Parah
-
Donald Trump Murka, China Akan Hadapi Masalah Besar Jika Nekat Pasok Senjata ke Iran
-
Konflik Selat Hormuz, Kenapa Strategi Pembersihan Ranjau Laut AS Ditolak Mentah-Mentah Militer Iran?
-
Ancaman Rudal Manpads China Persulit Posisi Amerika Saat Gencatan Senjata dengan Iran
-
Iran: Tak Ada Keistimewaan, Kapal Pertamina Bisa Bebas Jika Indonesia Negosiasi dengan IRGC
Terpopuler
- Intip Kekayaan Ida Hamidah, Pimpinan Samsat Soetta yang Dicopot Dedi Mulyadi gara-gara Pajak
- Dicopot Dedi Mulyadi Gegara KTP, Segini Fantastisnya Gaji Kepala Samsat Soekarno-Hatta!
- 6 HP Snapdragon Paling Murah RAM 8 GB untuk Investasi Gadget Jangka Panjang
- HP Xiaomi yang Bagus Tipe Apa? Ini 7 Rekomendasinya di 2026
- Sabun Cuci Muka Apa yang Bagus untuk Atasi Kulit Kusam? Ini 5 Pilihan agar Wajah Cerah
Pilihan
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
-
Buat Kaum dengan Upah Pas-pasan, Nabung dan Investasi Adalah Kemewahan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
Terkini
-
Pemerintah Klaim Daya Beli Masyarakat Masih Kuat, Begini Datanya
-
BI Sebut Kepercayaan Masyarakat Terhadap Ekonomi RI Tinggi
-
Iran Tetapkan Tarif Selat Hormuz, Harga Bitcoin Malah Anjlok Parah
-
Danantara Rebut Pengelolaan Sekuritas Himbara, Mau Bentuk Holding Baru
-
Pertamina Wisuda 168 Binaan Usaha Ultra Mikro, Total Cuan hingga Rp2,7 Miliar
-
Purbaya Targetkan Legalisasi Rokok Ilegal Berlaku Mei 2026 demi Tambah Pendapatan Negara
-
Purbaya Siapkan Insentif Motor Listrik, Bagaimana Nasib Mobil Listrik?
-
Aturan Baru OJK Minta Bank Biayai MBG hingga KDMP, Purbaya Klaim APBN Masih Cukup
-
Kementerian ESDM Lelet Urus RKAB, Perhapi: Banyak Perusahaan Tambang Tak Berfungsi
-
Iran: Tak Ada Keistimewaan, Kapal Pertamina Bisa Bebas Jika Indonesia Negosiasi dengan IRGC