Bisnis / Keuangan
Selasa, 14 April 2026 | 11:10 WIB
Ilustrasi Bank Indonesia (Unsplash/nimbostratus)
Baca 10 detik
  • Bank Indonesia mengoptimalkan bauran kebijakan moneter guna menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.
  • BI memperkuat intervensi pasar spot dan DNDF serta pembelian SBN didukung posisi cadangan devisa solid sebesar 148,3 miliar dolar.
  • BI memperketat tata kelola transaksi valas di atas 50 ribu dolar AS dengan mewajibkan kelengkapan dokumen pendukung aktivitas produktif.

Suara.com - Bank Indonesia (BI) berkomitmen penuh untuk mengoptimalkan bauran kebijakan demi menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah. Langkah ini diambil sebagai respons atas meningkatnya ketidakpastian global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah yang menekan pasar keuangan dan harga komoditas dunia.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa situasi saat ini tergolong tidak biasa (unusual). Oleh karena itu, diperlukan penguatan respons kebijakan yang konsisten, pre-emptive, dan terukur untuk menjaga ketahanan ekonomi domestik.

"Dinamika global mendorong meningkatnya tekanan di pasar keuangan. Bank Indonesia terus mengoptimalkan seluruh instrumen moneter secara kontinyu dan timely," ujar Destry dalam seminar bertajuk “Ketahanan Ekonomi Indonesia dalam Menghadapi Volatilitas Nilai Tukar Global" dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Selasa (14/4/2026).

Saat ini, rupiah sudah tembus Rp17.124 per dolar Amerika Serikat (AS). Untuk itu, BI memperkuat intervensi di pasar off-shore melalui Non-Deliverable Forward (NDF) serta intervensi di pasar domestik melalui pasar spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).

Selain itu, BI juga melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Ketahanan sektor eksternal ini didukung oleh posisi cadangan devisa Indonesia yang solid.

Per akhir Maret 2026 cadangan devisa tercatat sebesar 148,3 miliar dolar AS. Angka ini setara dengan pembiayaan 5,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, melampaui standar kecukupan internasional.

Petugas salah satu tempat penukaran mata uang asing menunjukkan uang rupiah dan dolar AS, Jakarta. (Suara.com/Alfian Winanto)

Senada yang sama, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, memastikan mekanisme pasar tetap berjalan efektif dengan likuiditas yang cukup. Salah satu instrumen andalan BI adalah Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

"Kami memperkuat strategi operasi moneter melalui lelang SRBI dengan imbal hasil yang kompetitif agar tetap menarik bagi investor asing (aliran modal masuk)," beber Erwin.

Dengan koordinasi erat antara Bank Indonesia dan Pemerintah, diharapkan ekspektasi pasar tetap terjaga sehingga pertumbuhan ekonomi nasional tetap berkelanjutan di tengah badai geopolitik global.

Baca Juga: Mata Uang Negara Lain Menguat, Rupiah Amblas ke Rp17.124 per Dolar AS

Selain itu, Chief Economist BCA, David Sumual, yang turut hadir dalam kesempatan tersebut, menekankan bahwa stabilitas nilai tukar bukan hanya soal level angka, melainkan stabilitas volatilitasnya.

"Bagi pelaku usaha dan investor, stabilitas volatilitas adalah faktor kunci untuk menjaga kepercayaan di pasar modal maupun sektor riil," jelas David.

Untuk mendukung hal tersebut, BI memperketat tata kelola transaksi valuta asing (valas). Setiap transaksi valas di atas 50 ribu dolar AS kini wajib disertai dokumen underlying yang lengkap guna memastikan transaksi tersebut mendukung aktivitas ekonomi produktif.

Load More