Bisnis / Energi
Rabu, 15 April 2026 | 10:09 WIB
Ilustrasi fasilitas minyak mentah. [Pexels]
Baca 10 detik
  • Harga minyak dunia melemah pada 15 April 2026 akibat harapan kelanjutan pembicaraan damai antara AS dan Iran.
  • Konflik di Selat Hormuz menyebabkan gangguan pasokan energi global yang berdampak pada ketidakstabilan harga minyak mentah.
  • Amerika Serikat memutuskan tidak memperpanjang pelonggaran sanksi minyak terhadap Iran dan Rusia yang memicu kekhawatiran pasokan.

Suara.com - Harga minyak kembali melemah pada Rabu, 15 April 2026, menyusul harapan akan berlanjutnya pembicaraan damai antara AS dan Iran.

Kesepakatan ini diharapkan dapat mengalirkan kembali pasokan minyak dari Timur Tengah yang sempat terhenti akibat penutupan Selat Hormuz.

Mengutip dari Reuters, harga minyak mentah Brent berjangka turun 52 sen atau 0,55 persen , menjadi 94,27 dolar AS per barel pada pukul 00.54 GMT (07.54 WIB), setelah turun 4,6 persen pada sesi sebelumnya.

Minyak mentah West Texas Intermediate AS turun 1,04 dolar AS atau 1,1 persen, menjadi 90,24 dolar AS setelah turun 7,9 persen pada sesi sebelumnya.

Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan berlanjutnya pembicaraan damai antara AS, Israel, dan Iran di Pakistan pekan ini.

Dialog ini diharapkan menjadi solusi untuk mengakhiri konflik serta membuka kembali jalur ekspor minyak mentah yang sempat terhenti akibat blokade pelabuhan Iran oleh Amerika Serikat.

Ilustrasi gencatan senjata antara AS dan Iran. (Dok. Suara.com)

Sebagaimana dilaporkan, perang telah melumpuhkan aktivitas di Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital bagi pasokan energi dunia ke Asia dan Eropa.

Meski gencatan senjata sementara sudah berjalan dua minggu, volume lalu lintas kapal masih jauh di bawah normal dan keberlangsungan transit masih belum pasti.

Di lapangan, ketegangan tetap tinggi setelah kapal perusak AS mencegat dua tanker minyak Iran. Analis dari Schork Group menilai bahwa meski ada sinyal diplomasi, kondisi riil yang tidak stabil membuat pasar minyak saat ini lebih fokus menghitung risiko gangguan pasokan ketimbang pemulihan stabilitas harga.

Baca Juga: Rusia Raup 'Durian Runtuh' Rp 325 Triliun dari Perang Iran Vs AS-Israel

"Meskipun berita-berita diplomatik mengindikasikan kemungkinan dimulainya kembali pembicaraan AS-Iran dan bahkan pelonggaran sementara pembatasan transit, realitas fisik tetap terfragmentasi. Akibatnya, pasar terus memberikan harga berdasarkan opsi yang terkait dengan gangguan arus, alih-alih kembali ke keseimbangan," kata Schork Group dalam sebuah catatan.

Adapun pasokan minyak global diprediksi akan semakin ketat. Berdasarkan pernyataan dari dua pejabat AS kepada Reuters, AS yang tidak memperpanjang pelonggaran sanksi terhadap minyak asal Iran dan Rusia.

Keputusan ini secara otomatis menutup celah perdagangan minyak dari kedua negara tersebut yang sebelumnya sempat diizinkan secara terbatas.

Pelaku pasar saat ini tengah menunggu laporan resmi cadangan energi AS dari Energy Information Administration. Meski ada prediksi kenaikan tipis pada stok minyak mentah, persediaan bahan bakar olahan seperti bensin diperkirakan justru menurun.

Data awal dari API menunjukkan tren peningkatan stok minyak mentah Amerika Serikat dalam tiga pekan terakhir.

Load More