Bisnis / Makro
Jum'at, 17 April 2026 | 18:39 WIB
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. [Antara]
Baca 10 detik
  • Lembaga S&P menetapkan peringkat kredit Indonesia di level BBB dengan outlook stabil pada Jumat, 17 April 2026.
  • Pemerintah berkomitmen menjaga defisit APBN di bawah tiga persen terhadap PDB demi stabilitas fiskal dan kepercayaan investor.
  • Penerimaan pajak yang tumbuh signifikan pada awal 2026 menunjukkan pemulihan ekonomi domestik dan penguatan basis pendapatan negara.

Suara.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengomentari soal peringkat kredit Indonesia di level Triple BBB dari lembaga pemeringkat internasional Standard & Poor’s (S&P).

Meskipun diberi outlook stabil, Menkeu Purbaya mengaku Pemerintah tetap mewaspadai rasio pembayaran bunga utang terhadap pendapatan negara. Ia akan memonitor agar tidak mengganggu ruang fiskal di masa depan.

“Saya bilang itu akan kita monitoring terus dan pastikan keadaan ekonomi tetap baik dan fiskal akan tetap kita jaga,” ujar Purbaya, dikutip Jumat (17/4/2026).

Selain rasio bunga utang, S&P juga meminta penjelasan Purbaya soal kondisi fiskal Indonesia, khususnya defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dua tahun belakangan.

“Mereka menanyakan cukup detail kondisi fiskal kita termasuk defisit tahun ini dan tahun lalu. Utamanya mereka ingin melihat apakah kita konsisten menjaga di bawah 3 persen dari PDB,” katanya.

Ia menegaskan bahwa Presiden RI Prabowo Subianto telah memberikan arahan agar defisit APBN tetap dijaga secara prudent. Menurutnya, komitmen tersebut menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Selain fiskal yang sehat, ketahanan ekonomi Indonesia juga tercermin dari membaiknya penerimaan negara. Purbaya menyebut pertumbuhan pajak pada dua bulan pertama 2026 mencapai 30 persen, sementara periode Januari-Maret tumbuh sekitar 20 persen dibanding tahun lalu.

Kinerja tersebut menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi domestik terus pulih dan basis penerimaan negara semakin kuat. Pemerintah juga telah melakukan restrukturisasi organisasi Direktorat Jenderal Pajak dan Bea Cukai guna meningkatkan efektivitas pengumpulan penerimaan.

“Ketika kita beritahu bahwa dua bulan tahun ini pertumbuhan pajak 30 persen dan Januari-Maret dibanding tahun lalu tumbuh 20 persen, mereka sepertinya cukup puas,” beber dia.

Baca Juga: Rata-rata Lama Sekolah Warga RI Cuma 8,8 Tahun, Tantangan Utama Indonesia Emas 2045

Menurut dia, S&P juga mencermati perbaikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan keempat tahun lalu. Selain itu, berbagai indikator makro dan mikro dinilai menunjukkan tren positif pada awal pemerintahan Presiden Prabowo.

Hal tersebut menandakan bahwa ekonomi Indonesia memiliki daya tahan yang kuat, ditopang konsumsi domestik besar, reformasi fiskal berkelanjutan, dan prospek investasi yang tetap terjaga.

Sekadar informasi, peringkat BBB dari S&P merupakan kategori investment grade yang menunjukkan Indonesia dinilai memiliki risiko gagal bayar yang relatif rendah dan tetap layak menjadi tujuan investasi internasional. Status ini penting untuk menjaga kepercayaan investor, menekan biaya pinjaman, serta memperkuat arus modal ke dalam negeri.

Load More