- Mantan pejabat BNI, Andi Hakim, menggelapkan dana umat Gereja Paroki Aek Nabara sebesar Rp28 miliar melalui investasi fiktif.
- Tindakan personal ini terungkap pada Februari 2026 setelah bilyet deposito palsu gagal dicairkan oleh pengurus gereja tersebut.
- Kepolisian menangkap Andi Hakim di Australia pada 30 Maret 2026, sementara BNI berkomitmen mengembalikan dana nasabah secara bertahap.
Suara.com - Tabir gelap penggelapan dana umat milik Gereja Paroki St Fransiskus Asisi di Aek Nabara, Sumatera Utara, kian benderang. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) mengonfirmasi bahwa seluruh tindakan ilegal yang merugikan nasabah hingga Rp28 miliar tersebut berpusat pada peran tunggal Andi Hakim, mantan pejabat bank di unit tersebut.
Direktur Human Capital and Compliance BNI, Munadi Herlambang, dalam konferensi pers virtual pada Minggu (19/4/2026), menegaskan bahwa berdasarkan hasil penyidikan kepolisian, Andi Hakim diduga kuat sebagai aktor intelektual yang menjalankan aksi ini secara personal di luar sistem perbankan resmi.
Penyalahgunaan Jabatan dan Modus "BNI Deposito Investment"
Andi Hakim, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Kantor Kas BNI Unit Aek Nabara, memanfaatkan otoritasnya untuk mendekati pengurus Credit Union (CU) Paroki Aek Nabara sejak tahun 2018.
Ia menawarkan produk investasi fiktif bertajuk "BNI Deposito Investment" dengan iming-iming imbal hasil atau bunga tinggi mencapai 8 persen per tahun.
Kepercayaan jemaat yang terkumpul melalui koperasi gereja tersebut disalahgunakan oleh Andi. Sebagai pejabat bank, ia meyakinkan para korban dengan memberikan bilyet atau sertifikat deposito yang belakangan diketahui sebagai dokumen palsu yang ia tanda tangani sendiri.
“Transaksi ini sama sekali tidak masuk ke dalam sistem operasional BNI secara korporasi. Ini merupakan tindakan pribadi Andi Hakim dengan bilyet palsu. Karena itulah, fraud ini baru terdeteksi oleh audit internal kami pada Februari 2026,” jelas Munadi Herlambang, dalam keterangan resmi yang disiarkan secara daring pada Minggu (19/4/2026).
Hasil investigasi mendalam mengungkap bahwa dana senilai Rp28 miliar yang disetorkan oleh sekitar 1.900 anggota koperasi gereja tersebut tidak pernah mengalir ke brankas bank.
Sebaliknya, Andi Hakim mengalihkan dana jumbo tersebut ke sejumlah rekening pribadi dan pihak terafiliasi guna kepentingan personal.
Baca Juga: BNI Lepas Timnas ke Thomas & Uber Cup 2026, Tegaskan Komitmen Jaga Tradisi Juara
Aliran dana masuk ke rekening pribadi Andi Hakim, rekening istrinya yang bernama Camelia Rosa, serta rekening PT Chiara Keanu Chareem Sejahtera, sebuah perusahaan milik mereka.
Dana tersebut diduga digunakan untuk membiayai berbagai gaya hidup dan lini bisnis pribadi, termasuk pengembangan sebuah usaha kafe.
Skandal ini mulai pecah pada Februari 2026 ketika pengurus gereja mencoba mencairkan dana senilai Rp10 miliar untuk keperluan operasional jemaat, namun ditolak oleh sistem perbankan resmi. Menyadari aksinya telah tercium, Andi Hakim sempat melakukan upaya pelarian ke luar negeri.
Setelah sempat melarikan diri ke Australia, langkah pelariannya terhenti setelah kepolisian berhasil melacak keberadaannya. Polda Sumatera Utara secara resmi menangkap dan menahan Andi Hakim pada 30 Maret 2026.
Hingga saat ini, Andi Hakim menjadi satu-satunya pihak yang ditetapkan sebagai tersangka dan diperiksa secara intensif terkait pemalsuan dokumen serta penggelapan dana.
Komitmen Pemulihan dan Proses Hukum
Berita Terkait
-
Viral Gerakan Tutup Rekening, BNI Janji Kembalikan Dana Gereja di Aek Nabara
-
Skandal Dana Umat di Aek Nabara, BNI Janji Dana Gereja Dikembalikan Sepenuhnya
-
BNI Pastikan Proses Pengembalian Dana Aek Nabara Sesuai Perkembangan Penyidikan
-
wondr Kemala Run 2026 Dorong Aksi Donasi, Peserta Diajak Berlari Sambil Berbagi
-
BNI Perkuat Literasi Keamanan Digital Nasabah BNIdirect untuk Waspadai Kejahatan Siber
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
FIFA Buka Voting Tim Terbaik Piala Dunia 2026: Argentina Sumbang 5 Pemain, Spanyol?
-
Dari Pameran Kudatuli, Megawati Titip Pesan untuk Generasi Muda Indonesia
-
Kasus Dugaan Penculikan Atlet Golf Jesslyn Wijaya, Polisi Telusuri Perjalanan hingga Kuala Lumpur
-
Bukan Sekedar Catatan Masa Lalu, Peristiwa Kudatuli Merupakan Simbol Perjuangan Lawan Ketidakadilan
-
Usut Aliran Rp 91 Miliar Suap Bea Cukai, KPK Tetapkan Tersangka Baru
-
Korupsi Disebut Kejahatan HAM, Mengapa Hak Korban Belum Jadi Perhatian?
-
Aksesori Estetik Makin Digemari, Ini Tempat Belanja Lengkap Incaran Reseller hingga Jastiper
-
Salah Setting Aplikasi Navigasi, Pemotor RX-King Nekat Masuk Tol Jagorawi
-
Anggaran Jasa Belanja Tenaga Ahli Banten Tembus Rp55,47 Miliar, Kepala BPKAD Mengaku Kaget
-
Jembatan di Serang Mulai Dibangun Andra Soni Usai 25 Tahun Tak Tersentuh Perbaikan