- KFC Indonesia boncos Rp366,04 miliar sepanjang 2025, rapor merah masih berlanjut.
- Efisiensi berdarah: 25 gerai KFC tutup dan 1.442 karyawan kena pangkas sepanjang tahun.
- Keuangan timpang, liabilitas tembus Rp4,51 triliun sementara ekuitas cuma Rp435,85 miliar.
Suara.com - Kabar kurang sedap kembali berembus dari raksasa fast food tanah air, PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST). Meski tahun 2025 telah berlalu, emiten pengelola gerai KFC Indonesia ini nyatanya masih belum mampu keluar dari jerat zona merah.
Berdasarkan laporan Keterbukaan Informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), KFC terpantau masih "boncos" dengan mencatatkan rugi bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp366,04 miliar sepanjang tahun 2025.
Walaupun angka kerugian ini menyusut jika dibandingkan dengan rapor merah tahun 2024 yang mencapai Rp796,71 miliar, namun performa keuangan perseroan masih jauh dari kata sehat. Investor nampaknya harus kembali mengelus dada melihat kondisi fundamental yang masih rapuh.
Dari sisi top line, pendapatan KFC sepanjang 2025 tercatat sebesar Rp4,88 triliun. Angka ini bisa dibilang "jalan di tempat" alias stagnan karena hanya naik tipis dari periode sebelumnya yang sebesar Rp4,87 triliun. Upaya perseroan menggenjot penjualan nampaknya belum membuahkan hasil yang signifikan di tengah ketatnya persaingan bisnis kuliner.
Meski perseroan berhasil menekan beban pokok penjualan menjadi Rp1,99 triliun dari sebelumnya Rp2,03 triliun, hal itu belum cukup kuat untuk membalikkan keadaan menjadi laba.
Langkah efisiensi yang diambil manajemen FAST tergolong ekstrem. Fenomena "gulung tikar" terlihat nyata dari menyusutnya jumlah gerai. Hingga akhir Desember 2025, KFC tercatat hanya mengoperasikan 690 gerai, berkurang drastis sebanyak 25 gerai dari posisi akhir 2024 yang mencapai 715 gerai.
Penciutan bisnis ini berdampak langsung pada nasib para pekerja. Data menunjukkan terjadi penyusutan ribuan karyawan dalam setahun terakhir. Pada 2024 total karywan KFC mencapai 13.106 orang namun harus berkurang menjadi 11.664 orang pada 2025.
Menilik neraca keuangan, posisi liabilitas (utang) perseroan per akhir 2025 mencapai Rp4,51 triliun. Angka ini sangat timpang jika dibandingkan dengan ekuitas yang hanya sebesar Rp435,85 miliar. Dengan total aset Rp4,94 triliun, tingginya beban utang ini tentu menjadi alarm kuning bagi keberlanjutan bisnis sang "Jagonya Ayam" di masa depan.
Baca Juga: Laba Emiten Hary Tanoe Terbang 140 Persen
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- 7 Sepeda Terbaik untuk Pemula Mulai Rp1 Jutaan: dari Hybrid, Lipat hingga City Bike
- Lipstik Wardah yang Bagus Apa? Ini 4 Pilihan Paling Tahan Lama untuk Dipakai Seharian
Pilihan
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
-
Sudaryono, Mantan Ajudan Prabowo Akan Gantikan Nanik Jadi Kepala BGN
-
Nanik Mundur dari Kepala BGN, Ini Alasannya
-
Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN, Prabowo Minta Tetap Awasi MBG
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
Terkini
-
Jaksa Agung Rotasi Besar-besaran, Posisi Dirdik Jampidsus Hingga 8 Kajati Resmi Berganti
-
Review Jujur Drunken Molen: Humor Absurd yang Diam-Diam Menertawakan Hidup
-
Bos Whip Pink Ayah dan Anak Jadi Tersangka, Bareskrim Bongkar Bisnis Gas Tertawa Ilegal
-
Apakah Serum Viva Gold Bisa Menghilangkan Flek Hitam? Kenali Kandungan dan Manfaatnya
-
Wamensos Tekankan Pentingnya Pengelolaan Sarpras Sekolah Rakyat
-
Atap Stadion Pakansari Usai Diperbaiki, Kabupaten Bogor Siap Sambut Piala AFF 2026
-
Penampakan Desain Flyover Simpang Panam, Sarat Ornamen Khas Melayu
-
Berkas Perkara Taufik Hidayat Resmi Masuk Kejati Jabar
-
Dirut Pindad Beri Bocoran Motor Listrik Prabowo: Diluncurkan 13 Agustus
-
7 Cara Ampuh Menghilangkan Luka Bekas Knalpot, Jangan Tunggu sampai Menghitam