Bisnis / Makro
Senin, 20 April 2026 | 19:27 WIB
Studi BRI Danareksa Sekuritas menyatakan kenaikan harga BBM nonsubsidi hanya menimbulkan tekanan inflasi yang terbatas. . [Antara]
Baca 10 detik
  • Studi BRI Danareksa Sekuritas menyatakan kenaikan harga BBM nonsubsidi hanya menimbulkan tekanan inflasi yang terbatas.
  • Kenaikan harga Pertamax Turbo, Pertamina Dex, dan Dexlite menyasar masyarakat berpenghasilan tinggi sehingga efek inflasinya menjadi sangat minimal.
  • Ketegangan geopolitik akibat penutupan kembali Selat Hormuz oleh Iran memicu kenaikan harga minyak Brent hingga di atas USD 90.

Suara.com - Kenaikan harga BBM nonsubsidi diperkirakan hanya menimbulkan tekanan inflasi yang terbatas. Riset BRI Danareksa Sekuritas yang diterbitkan pada Senin (20/4/2026) menyebut dampak kenaikan harga BBM nonsubsidi terbatas karena penggunanya adalah segmen masyarakat berpendapatan tinggi.

Selain itu, kenaikan harga hanya ditetapkan untuk Pertamax Turbo, Pertamina Dex, dan Dexlite. Rata-rata kenaikan sekitar Rp 8.367 per liter. Sementara harga Pertamax masih belum ada perubahan.

"Meski BBM nonsubsidi mencakup 44% konsumsi total BBM, relevansinya terhadap inflasi melemah karena komposisinya masih didominasi Pertamax. Produk yang naik paling tajam, yaitu Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex, dikonsumsi segmen berpendapatan lebih tinggi dengan efek rambatan harga yang lebih lemah," kata Chief Economist and Head of Fixed Income Research BRI Danareksa Sekuritas, Helmy Kristanto, dalam risetnya, Senin (20/4).

Secara historis, ia menambahkan, kenaikan Rp 1.000 per liter pada BBM kelas atas diperkirakan hanya menambah inflasi sekitar 0,02–0,15 poin persentase, jauh di bawah dampak penyesuaian BBM subsidi.

"Tekanan inflasi dari kenaikan harga BBM nonsubsidi relatif terbatas dan hanya bekerja di sisi marjinal, bukan menjadi pendorong utama inflasi keseluruhan," ujarnya.

Pembukaan singkat Selat Hormuz setelah gencatan senjata sementara sempat meredakan kekhawatiran pasokan dan mendorong harga minyak Brent turun hampir 10% ke USD 86 per barel, didukung optimisme negosiasi, termasuk pembahasan pelepasan dana Iran yang dibekukan.

Namun, kelegaan itu tidak bertahan lama. AS tetap mempertahankan blokade lautnya. Sementara Iran memberlakukan syarat transit ketat yang secara efektif menjaga kendali atas arus pelayaran. Ketegangan kembali meningkat pada Sabtu (18/4) ketika Iran menutup kembali Selat Hormuz sebagai respons atas tekanan lanjutan dari AS, termasuk rencana penyitaan tanker terkait Iran, sehingga harga Brent naik kembali di atas USD 90 per barel.

Load More