Bisnis / Keuangan
Rabu, 22 April 2026 | 12:46 WIB
Pekerja memfoto layar pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
Baca 10 detik
  • IHSG melemah 0,20 persen ke level 7.544 pada sesi pertama perdagangan Rabu, 22 April 2026 akibat sentimen global.
  • Pemicu utama penurunan adalah eskalasi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran serta kebijakan blokade kapal di wilayah tersebut.
  • Sentimen domestik meliputi penangguhan penilaian MSCI serta penantian pelaku pasar terhadap keputusan suku bunga acuan Bank Indonesia.

Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih tengkurep pad sesi pertama perdagangan Rabu, 22 April 2026, seiring tekanan sentimen global yang masih membayangi pasar.

Mengutip dari riset Pilarmas Investindo Sekuritas, pada sesi I, IHSG turun 15 poin atau 0,20 persen ke level 7.544. Pelemahan ini sejalan dengan pergerakan bursa saham Asia yang juga berada di zona merah.

Tekanan pasar dipicu meningkatnya kekhawatiran geopolitik di Timur Tengah, terutama setelah gagalnya rencana putaran kedua pembicaraan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Presiden Donald Trump memang memperpanjang gencatan senjata dengan Iran, yang sempat meredakan kekhawatiran eskalasi konflik. Namun, ketegangan belum sepenuhnya mereda lantaran blokade AS terhadap kapal-kapal Iran masih diberlakukan.

Pengunjung melihat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (8/4/2025). [Suara.com/Alfian Winanto]

Situasi semakin kompleks setelah Wakil Presiden AS, JD Vance, dilaporkan membatalkan kunjungan ke Islamabad untuk negosiasi damai. Pembatalan tersebut terjadi setelah Iran melalui Pakistan menyatakan tidak akan berpartisipasi dalam pertemuan tersebut.

Selain itu, Iran juga mengindikasikan akan tetap menutup Selat Hormuz selama pencegatan angkatan laut AS berlangsung, bahkan memberi sinyal tidak akan sepenuhnya mematuhi gencatan senjata.

Dari dalam negeri, pergerakan IHSG juga dipengaruhi sentimen negatif lain, termasuk penangguhan penilaian saham Indonesia oleh MSCI.

Di sisi lain, pelaku pasar kini menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia terkait arah kebijakan moneter.

Pasar memprediksi suku bunga acuan akan tetap dipertahankan di level 4,75 persen guna menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan global serta mengendalikan inflasi.

Baca Juga: IHSG Masih Tertekan di Awal Sesi ke Level 7.528

Trafik Perdagangan

Pada perdagangan Sesi I, sebanyak 25,39 juta saham diperdagangkan dengan nilai transaksi sebesar Rp 9,23 triliun, serta frekuensi sebanyak 1,65 juta kali.

Dalam perdagangan sesi I, sebanyak 421 saham bergerak naik, sedangkan 266 saham mengalami penurunan, dan 272 saham tidak mengalami pergerakan.

Pada sesi pertama hari ini, sejumlah saham mencatatkan penguatan, di antaranya BDMN, SIPD, WBSA, BOBA, dan BABY.

Sementara saham yang mengalami penurunan terbesar antara lain KICI, DEFI, DSSA, YPAS, dan POLU.

Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan dan analisis pasar yang ditujukan sebagai informasi umum, bukan saran atau rekomendasi investasi. Keputusan investasi tetap berada di tangan pembaca, dan setiap risiko investasi menjadi tanggung jawab pribadi.

Load More