Bisnis / Makro
Rabu, 22 April 2026 | 18:36 WIB
Bank Indonesia. [Suara.com/Angga Budhiyanto]
Baca 10 detik
  • Bank Indonesia menyatakan kenaikan harga BBM nonsubsidi di Jakarta hanya berdampak marginal sebesar 0,04 persen terhadap inflasi April.
  • BI berkomitmen menjaga target inflasi tahun 2026 dan 2027 melalui koordinasi pengendalian pangan dengan pemerintah pusat dan daerah.
  • BRI Danareksa Sekuritas memprediksi dampak kenaikan BBM terbatas karena konsumsi didominasi kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi dan bersifat jangka pendek.

Suara.com - Bank Indonesia (BI) mengelaborasi dampak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) terhadap tingkat inflasi. BI memandang belum ada andil kenaikan harga BBM nonsubsidi terhadap inflasi April.

"BBM nonsubsidi apabila kita lihat dengan bobotnya di inflasi maka untuk bulan April ini bisa meningkatkan inflasi tapi tidak terlalu besar. Hanya sebesar 0,04 persenan," ujar Aida S Budiman dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (22/4/2026).

Aida menuturkan, BI tetap mematok target inflasi 2026 dan 2027 tetap terjaga di kisaran 2,5 persen plus minus 1 persen. Untuk bisa menjaga target tersebut, BI teus berkoordinasi dengan pemerintah lewat tim pengendalian inflasi pusat dan daerah.

"Kami selalu bersama-sama dengan pemerintah pusat dan daerah melakukan pengendalian inflasi melalui tim pengendalian inflasi pusat dan daerah dan sekarang ini kami membawa tema gerakan pengendalian inflasi dan pangan sejahtera," ucapnya.

Petugas mengangkat nozzle mesin pengisian bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax Turbo usai melayani pelanggan di SPBU COCO Jalan Ahmad Yani, Semarang, Jawa Tengah. [ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/tom].

Deputi Gubernur BI Ricky Perdana Gozali menambahkan, selain harga BBM, BI juga mewaspadai gejolak harga-harga setelah adanya kekeringan atau El Nino yang akan terjadi.

"Begitu juga dari risiko yang akan sampai ke kita, El Nino kemungkinan yang akan datang ke kita dan akan mempengaruhi risiko kemarau yang panjang," imbuhnya.

BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya menyebut kenaikan harga BBM itu tak berpengaruh pada inflasi. Walaupun, BBM non-subsidi mencakup sekitar 44 persen dari total konsumsi, tapi umumnya dibeli oleh orang kaya atau berpenghasilan tinggi.

"Tekanan inflasi dari penyesuaian harga non-subsidi relatif lebih terbatas dan terutama beroperasi di margin, daripada menjadi pendorong utama inflasi secara keseluruhan," Tulis BRI Danareksa dalam risetnya.

Secara historis, setiap kenaikan Rp 1.000 pada BBM kelas atas tersebut hanya berkontribusi sekitar 0,02 hingga 0,15 poin persentase terhadap inflasi jauh lebih rendah dibandingkan dampak dari BBM bersubsidi.

Baca Juga: Hitung-hitungan Harga Wajar Pertamax, Benarkah Bisa Tembus Rp17.000 per Liter?

Bahkan, berdasarkan perhitungan linear, kenaikan harga terbaru diperkirakan hanya memberikan tambahan inflasi sekitar 0,17 hingga 1,26 poin persentase. Namun dampak riil yang dirasakan kemungkinan lebih kecil, mendekati batas bawah dari estimasi tersebut.

BRI Danareksa juga menilai pola kenaikan harga tahun ini berbeda dengan 2022. Kala itu, penyesuaian harga dilakukan secara bertahap dalam beberapa bulan, sebelum akhirnya mereda dalam waktu relatif singkat.

Sebaliknya, pada 2026 kenaikan harga terjadi lebih cepat dan terkonsentrasi di awal, sehingga memicu guncangan jangka pendek yang lebih tajam, namun tetap terkendali.

"Dengan basis pengguna yang lebih sempit dan keterkaitan yang terbatas dengan konsumsi massal, kenaikan ini seharusnya hanya menambah tekanan inflasi marginal," tulis riset tersebut.

Load More