- Kemampuan beli mobil masyarakat Indonesia mentok di angka Rp200 juta.
- Penjualan mobil listrik didominasi unit seharga Rp400 juta–Rp700 juta.
- Mobil listrik masih dianggap barang mewah bagi kelas menengah ke atas.
Suara.com - Institute for Development of Economics and Finance (Indef) memberikan catatan kritis terkait program transisi kendaraan listrik di Tanah Air. Kendala utama yang membayangi ambisi hijau pemerintah rupanya masih berkutat pada urusan isi dompet masyarakat.
Kepala Pusat Industri, Perdagangan, dan Investasi Indef, Andry Satrio Nugroho, mengungkapkan terjadi ketimpangan (gap) yang sangat lebar antara daya beli konsumen dengan harga pasar mobil listrik saat ini.
Menurut Andry, mayoritas konsumen di Indonesia sebenarnya memiliki kemampuan beli di kisaran Rp200 juta. Namun sayangnya, unit mobil listrik yang tersedia di pasar justru dibanderol jauh di atas angka tersebut.
"Saya ingin berkaca dari sisi demand side-nya, di mana kalau kita melihat sebetulnya daya beli dari masyarakat untuk kendaraan bermotor, khususnya mobil, itu range-nya tidak lebih daripada Rp200 juta," ujar Andry dalam diskusi publik yang digelar Indef di Jakarta, Kamis (23/4/2026).
Andry memaparkan data lapangan yang menunjukkan bahwa penetrasi mobil listrik saat ini masih didominasi oleh segmen premium. Mobil listrik yang mencatatkan penjualan tinggi justru berada di rentang harga yang sulit dijangkau masyarakat luas.
"Mobil listrik yang paling banyak terjual itu berada di kisaran Rp400 juta sampai Rp700 juta," jelasnya lagi.
Kondisi ini, menurut Andry, mempertegas persepsi publik bahwa kendaraan nirkabel masih berstatus sebagai barang mewah. Alhasil, adopsi kendaraan listrik belum bisa menyentuh lapisan masyarakat menengah ke bawah secara masif.
"Ini mengartikan bahwa sebetulnya mobil listrik masih dianggap sebagai kendaraan untuk kelas menengah ke atas," imbuhnya.
Indef menilai, jika pemerintah serius ingin mempercepat transisi energi di sektor transportasi, kuncinya terletak pada kemampuan industri dalam menciptakan efisiensi harga. Produsen dituntut untuk lebih inovatif dalam menghadirkan lini produk yang ramah di kantong.
Baca Juga: Kena Regulasi Baru, Segini Itung-itungan Pajak BYD Atto 1: Masih Worth It?
"Jadi ini adalah PR bagi produsen untuk menciptakan mobil listrik agar bisa ketemu dengan daya beli dari masyarakat itu sendiri," pungkas Andry.
Berita Terkait
Terpopuler
- Sepeda Dewasa Merek Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Pilihan Terbaik untuk Harian
- 7 Pilihan Lipstik yang Awet 12 Jam, Anti Pudar Terkena Air dan Minyak
- Begini Respons Kopassus Usai Beredar Isu Orang Istana Digampar Pangkopassus
- 5 Parfum Indomaret dengan Wangi Segar Tahan Lama, Cocok Dipakai saat Cuaca Panas
- 12 Promo Makanan Hari Kartini 2026, Diskon Melimpah untuk Rayakan Momen Spesial
Pilihan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
-
Terungkap Jalur Gelap 10 Ton Pupuk Subsidi di Sumsel, Dijual ke Pihak Tak Berhak
-
Garap Kasus Haji, KPK Panggil Ustaz Khalid Basalamah Hari Ini
-
Merantau ke Kota Kecil, Danu Tetap Sulit Cari Kerja: Sampai Melamar Pawang Satwa
-
Purbaya Copot Febrio dan Luky dari Dirjen Kemenkeu
Terkini
-
Pertamina Trans Kontinental Bersama Galangan Nasional Resmi Mulai Pembangunan Utility Boat 22 Pax
-
RUPS Astra 2026: Presiden Direktur Diganti, Dividen Rp15,67 Triliun Ditebar
-
Ekonomi Digital RI Diramal Bakal Cerah, Investasi Data Center Melejit Gila-gilaan!
-
Purbaya Tak Tahu Sumber Anggaran untuk Gaji Manajer Kopdes Merah Putih
-
Investasi Saham RI, AS, Kripto, hingga Reksa Dana Kini Bisa Diakses dari Satu Aplikasi
-
Warisan Jokowi Buat RI Kebagian Duit Rp147 Triliun Dalam 3 Bulan
-
BCA Cetak Laba Bersih Rp14,7 Triliun di Kuartal I-2026
-
Bank Jakarta Bakal Ambil Peran Orkestrator Ekonomi Ibu Kota
-
Dana Asing Rp 120 T Nyaris Kabur, Penundaan MSCI Jadi Kabar Baik Pasar Modal?
-
Blak-blakan Airlangga: 40 Persen Investasi di RI Belum Untung