- Presiden AS terus melanjutkan kampanye militer terhadap Iran tanpa otorisasi Kongres meski batas waktu konstitusional tersisa satu minggu.
- Konflik berkepanjangan di Gaza dan Lebanon telah menelan banyak korban jiwa serta memicu ketegangan militer yang kian meningkat.
- Ketidakpastian geopolitik menyebabkan lonjakan harga minyak dunia serta menekan nilai tukar Rupiah hingga mencapai Rp17.315 per dolar AS.
Suara.com - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terus melanjutkan kampanye militernya terhadap Iran tanpa hambatan berarti dari legislatif.
Meskipun tenggat waktu hukum yang krusial semakin dekat, faksi Republik di Kongres dilaporkan tetap memberikan dukungan penuh (free pass), membiarkan Trump menjalankan mesin perang tanpa otorisasi baru dari parlemen.
Berdasarkan War Powers Resolution, seorang presiden AS hanya diizinkan mengerahkan pasukan selama 60 hari tanpa persetujuan resmi Kongres.
Saat ini, "jam pasir" hukum tersebut menyisakan waktu tepat satu minggu sebelum jatuh tempo. Jika tidak ada intervensi legislatif, Trump akan melewati batas kewenangan konstitusionalnya.
Dukungan politik yang solid dari Capitol Hill berbanding terbalik dengan kondisi di akar rumput. Berbagai indikator menunjukkan bahwa masyarakat mulai merasakan beban berat dari konflik ini:
- Lonjakan Biaya Hidup: Pemilih Amerika mulai mengeluhkan kenaikan drastis biaya hidup dan harga bahan bakar (BBM) yang melambung tinggi akibat instabilitas di Selat Hormuz.
- Permintaan Anggaran Fantastis: Militer AS kini mengajukan tambahan dana sebesar US$200 miliar untuk menopang operasi tempur, di saat tingkat persetujuan publik terhadap kinerja Kongres sedang merosot tajam.
- Popularitas Trump Terancam: Survei terbaru menunjukkan posisi elektabilitas sang presiden mulai berada di "garis api" akibat ketidakpuasan terhadap durasi perang yang tak kunjung usai.
Namun, mayoritas anggota parlemen dari Partai Republik memilih untuk tetap berdiri di belakang Trump, mengabaikan tekanan dari kelompok oposisi yang menuntut pembatasan wewenang perang.
Gaza dan Lebanon: Gencatan Senjata yang Rapuh
Di belahan bumi lain, situasi kemanusiaan akibat dampak domino konflik ini kian memprihatinkan. Meskipun status "gencatan senjata" secara teknis masih berlaku, kekerasan justru meningkat di beberapa titik:
- Tragedi Kemanusiaan di Gaza: Korban jiwa warga Palestina akibat serangan Israel telah menembus angka mengerikan, yakni 71.568 jiwa sejak Oktober 2023. Ribuan lainnya masih tertimbun di balik reruntuhan bangunan, sementara jumlah korban luka mencapai lebih dari 172.000 orang.
- Tewasnya Jurnalis di Lebanon: Human Rights Watch (HRW) mendesak investigasi internasional atas kematian jurnalis Lebanon, Amal Khalil, yang tewas dalam serangan Israel pada Rabu lalu. "Menargetkan warga sipil dan jurnalis yang sedang bertugas adalah kejahatan perang," tegas Ramzi Kaiss, peneliti HRW, dikutip via aljazeera.
- Perlawanan Hezbollah: Di perbatasan utara, kelompok Hezbollah mengklaim telah menembak jatuh drone Israel di Majdal Zoun dan menyerang konsentrasi pasukan Israel di kota Taybeh, Lebanon Selatan.
Dampak Global: Rupiah Tertekan, Minyak Memanas
Baca Juga: Wall Street Pecahkan Rekor Baru Setelah Trump Perpanjang Gencatan Senjata
Konflik yang berlarut-larut ini telah memukul pasar keuangan Asia secara telak. Seperti dilaporkan sebelumnya, ketidakpastian seputar perang AS-Iran telah mendorong harga minyak mentah ke level tertinggi tahun ini.
Bagi Indonesia, situasi ini menjadi "badai sempurna". Pelemahan nilai tukar Rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.315 per dolar AS dipicu oleh beban subsidi BBM yang membengkak serta pelarian modal (capital outflow) ke aset yang lebih aman (safe haven).
Dunia kini menanti, apakah dalam tujuh hari ke depan Kongres AS akan mengambil langkah untuk mengerem ambisi militer Trump, ataukah "cek kosong" dari Partai Republik akan membawa kawasan Timur Tengah ke dalam konfrontasi yang lebih luas dan merusak ekonomi global secara permanen.
Berita Terkait
-
Pemerintah Diminta Tak Wajibkan Penggunaan Dolar AS untuk Transaksi Batu Bara DMO
-
Geger! Organisasi HAM AS Dituding Suntik Dana untuk Ku Klux Klan hingga Neo Nazi
-
Siapa Karoline Leavitt? Jubir Gedung Putih, Pembela Donald Trump Paling Vokal
-
Detik-detik Pasukan Iran Sita Dua Kapal Kargo di Selat Hormuz, Gedung Putih Sebut Perompak
-
Iran Menang Banyak! Tol Selat Hormuz Resmi Hasilkan Cuan di Tengah Kepungan AS-Israel
Terpopuler
- Sepeda Dewasa Merek Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Pilihan Terbaik untuk Harian
- 7 Pilihan Lipstik yang Awet 12 Jam, Anti Pudar Terkena Air dan Minyak
- Begini Respons Kopassus Usai Beredar Isu Orang Istana Digampar Pangkopassus
- 5 Parfum Indomaret dengan Wangi Segar Tahan Lama, Cocok Dipakai saat Cuaca Panas
- 12 Promo Makanan Hari Kartini 2026, Diskon Melimpah untuk Rayakan Momen Spesial
Pilihan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
-
Terungkap Jalur Gelap 10 Ton Pupuk Subsidi di Sumsel, Dijual ke Pihak Tak Berhak
-
Garap Kasus Haji, KPK Panggil Ustaz Khalid Basalamah Hari Ini
-
Merantau ke Kota Kecil, Danu Tetap Sulit Cari Kerja: Sampai Melamar Pawang Satwa
-
Purbaya Copot Febrio dan Luky dari Dirjen Kemenkeu
Terkini
-
Lewat Kartini BISA Fest, Telkom Perkuat Peran Perempuan di Era Digital
-
Babak Akhir Utang 'Whoosh', RI Siap Sodorkan Skema Restrukturisasi ke China
-
Pemerintah Gunakan Cara Baru Pantau BBM Subsidi Agar Tak Bocor
-
Pengguna Aktif GoPay Tembus 26 Juta
-
Danantara Umbar Biang Kerok Kinerja Garuda Indonesia Masih Seret
-
Pegang 42 Persen Cadangan Dunia, Nikel Masih Jadi 'Raja' Investasi Hilirisasi RI
-
Jumlah BUMN Dipangkas Jadi Hanya 300, Begini Klaster-klasternya
-
Pemerintah Diminta Tak Wajibkan Penggunaan Dolar AS untuk Transaksi Batu Bara DMO
-
Rugi Bersih Garuda Indonesia Susut 45% di Kuartal I-2026
-
Pertamina Trans Kontinental Bersama Galangan Nasional Resmi Mulai Pembangunan Utility Boat 22 Pax