Bisnis / Energi
Kamis, 23 April 2026 | 18:57 WIB
Pemerintah Diminta untuk ubah pembelian batu bara tak lagi menggunakan dolar AS [Antara]
Baca 10 detik
  • Komisi XII DPR RI mendorong penggunaan mata uang rupiah untuk pembelian batu bara DMO demi menekan risiko fluktuasi kurs.
  • Kebijakan penggunaan rupiah bertujuan menjaga stabilitas biaya pembangkitan listrik nasional serta mengurangi beban keuangan negara akibat kurs dolar.
  • Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan pengurangan pembangkit diesel untuk meningkatkan efisiensi energi dan memperkuat kemandirian sektor energi nasional.

Suara.com - Pelemahan nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan di sektor energi. Salah satunya makin tingginya rupiah membuat pembelian bahan baku energi juga semakin mahal.

Terutama, pada pembelian batu baru yang masih menggunakan nilai tukar dolar AS. Maka dari itu, Komisi XII DPR RI mendorong penggunaan mata uang rupiah dalam transaksi batu bara untuk mengurangi risiko fiskal akibat fluktuasi kurs dan harga energi global.

Anggota Komisi XII DPR RI dari Fraksi Gerindra, Rokhmat Ardiyan menilai penggunaan rupiah dalam skema Domestic Market Obligation (DMO) menjadi langkah strategis untuk menjaga stabilitas biaya pembangkitan listrik nasional.

"Saya mendukung agar transaksi-transaksi menggunakan rupiah, terutama pembelian batu bara tersebut, sehingga tidak mengalami kerugian negara yang cukup besar," ujar Rokhmat seperti dikutip, Kamis (23/4/2026).

Ilustrasi Dolar AS. [Suara.com/Alfian Winanto]

Menurutnya, penggunaan rupiah dalam transaksi energi domestik akan membantu menjaga stabilitas biaya pembangkitan listrik sekaligus mengurangi tekanan terhadap anggaran negara yang selama ini dipengaruhi perubahan kurs dan dinamika harga energi global.

Rokhmat menjelaskan, batu bara yang dimaksud merupakan pasokan DMO yang dialokasikan khusus untuk kebutuhan pembangkit listrik dalam negeri. Saat ini, transaksi pembelian batu bara untuk kebutuhan domestik diketahui berada pada kisaran USD 70 per ton.

Pada volume kebutuhan yang besar, beban keuangan berisiko melonjak apabila kurs rupiah melemah terhadap dolar AS, sehingga penggunaan rupiah dinilai dapat memberikan kepastian biaya sekaligus meminimalkan eksposur terhadap fluktuasi nilai tukar.

"Karena transaksi dilakukan di dalam negeri, penggunaan rupiah dinilai lebih efisien dan logis dibandingkan menggunakan mata uang asing," kata Rokhmat.

Selain itu, Rokhmat juga menyinggung instruksi Presiden Prabowo Subianto yang menekankan pengurangan pembangkit listrik berbahan bakar diesel sebagai bagian dari program prioritas nasional untuk meningkatkan efisiensi energi.

Baca Juga: Kondisi Rupiah Kian Memburuk, Keponakan Prabowo Bisa Apa?

Menurutnya, pembangkit diesel memiliki biaya produksi yang relatif tinggi serta masih bergantung pada bahan bakar impor. "Karena itu, pengurangan penggunaannya dinilai sejalan dengan upaya memperkuat kemandirian energi nasional," katanya.

Rokhmat menambahkan, penggunaan rupiah dalam transaksi batu bara DMO dan pengurangan pembangkit diesel merupakan langkah strategis yang saling melengkapi dalam memperkuat ketahanan energi nasional.

"Kebijakan tersebut tidak hanya mengurangi risiko keuangan, tetapi juga mendukung transisi energi yang lebih efisien dan berkelanjutan," pungkasnya.

Load More