Suara.com - Kinerja keuangan PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN) terdampak oleh kondisi pasar aset kripto yang dipenuhi tekanan pada kuartal I-2026. Kombinasi dari koreksi harga aset kripto, kapitalisasi pasar yang menyusut, serta penurunan volume transaksi menjadi penyebab di balik tertekannya industri aset kripto.
Mengawali tahun ini, mayoritas aset kripto mengalami koreksi yang cukup tajam. Kondisi tersebut menggerus kapitalisasi pasar aset kripto global sebesar 45% dari US$4,4 triliun menjadi US$2,4 triliun per 31 Maret 2026, yang imbasnya turut membuat volume transaksi turun hingga 39,1% menjadi US$2,7 triliun sepanjang kuartal I-2026.
Tren serupa juga terjadi di pasar aset kripto domestik. Volume transaksi mengalami penurunan 31% secara year-on-year menjadi Rp75,8 triliun sepanjang periode Januari hingga Maret 2026. Akibatnya, total pendapatan Perseroan turut mengalami kontraksi sebesar 18% dari Rp50,63 miliar di kuartal I-2025 menjadi Rp41,49 miliar pada kuartal I-2026.
Direktur Utama PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN), Ade Wahyu, menjelaskan bahwa penurunan kinerja Perseroan tidak terlepas dari dinamika pasar aset kripto sepanjang kuartal I-2026. Bahkan, tekanan tersebut turut berimbas pada EBITDA dan laba bersih Perseroan menjadi negatif.
“Salah satu yang memicu kondisi tersebut adalah perilaku risk off konsumen akibat makroekonomi global yang tidak stabil karena ketegangan geopolitik dan pengetatan likuiditas. Dengan turunnya nilai transaksi aset kripto, akhirnya berimbas negatif terhadap kinerja fundamental Perseroan,” jelas Ade di Jakarta, Kamis (30/4/2026).
Walaupun demikian, Ade berpandangan bahwa dinamika tersebut merupakan bagian dari siklus pasar yang bersifat sementara. Mengingat masih adanya segmen derivatif yang mampu menopang kinerja Perusahaan di tengah pasar aset kripto yang dinamis.
Tercatat, sepanjang kuartal I-2026, pendapatan COIN dari segmen perdagangan derivatif berhasil melonjak 125% secara year-on-year (YoY) menjadi Rp11,4 miliar, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp5,1 miliar. Pertumbuhan impresif ini membuat segmen derivatif berkontribusi hingga 27,6% terhadap keseluruhan total pendapatan Perseroan, sekaligus memposisikannya sebagai kunci penting penopang pertumbuhan pendapatan di masa depan.
Dengan karakteristik two-way opportunities, Ade menyebut konsumen dapat memanfaatkan produk derivatif kripto sebagai instrumen lindung nilai (hedging) di tengah koreksi harga. Dari segi potensi, rasio pasar derivatif kripto di Indonesia baru 0,13 kali dari pasar spot, jauh di bawah dari rasio global yang mencapai 5 kali lipat dari pasar spot, sehingga ruang pertumbuhan Perseroan masih sangat terbuka.
"Melesatnya segmen derivatif di kuartal I-2026 adalah bukti nyata penerimaan pasar terhadap inovasi Bursa Kripto CFX. Dengan ruang pertumbuhan yang masih sangat luas dibandingkan pasar global, derivatif siap menjadi pilar kekuatan COIN untuk menjaga stabilitas dan memacu kinerja ke depan," tutup Ade.
Baca Juga: CFX Bidik Peningkatan Volume demi Saingi Bursa Kripto Global
Sebagai informasi, COIN merupakan perusahaan holding yang menaungi dua anak usahanya, yaitu PT Central Finansial X (CFX) selaku Bursa Aset Kripto pertama di Indonesia, dan PT Kustodian Koin Indonesia (ICC) selaku lembaga penyimpanan aset kripto. Kedua anak usaha COIN tersebut telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).***
Berita Terkait
-
Jangan Tebak Harga, Ini Strategi yang Tepat Investasi Kripto di Tengah Pasar Sideway
-
Harga Bitcoin Justru Melonjak di Tengah Perang, Kok Bisa?
-
Bali Disiapkan Jadi Hub Kripto Global, Platform Mulai Bergerak Ekspansi
-
Punya 9,8 Juta Pengguna, Indodax Perkuat Literasi Kripto di Indonesia
-
Cetak Kinerja Solid, EBITDA PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN) Naik 156% Sepanjang 2025
Terpopuler
- Daftar Prodi Berpotensi Ditutup Imbas Fokus Industri Strategis Nasional
- 5 Parfum Scarlett yang Wanginya Paling Tahan Lama, Harga Terjangkau
- Perjalanan Terakhir Nuryati, Korban Tragedi KRL Bekasi Timur yang Ingin Menengok Cucu
- Meledak! ! Ahmad Dhani Serang Maia Estianty Sampai Ungkit Dugaan Perselingkuhan dengan Petinggi TV
- Membedah 'Urat Nadi' Baru Lampung: Shortcut 37 KM dan Jalur Ganda Siap Usir Macet Akibat Babaranjang
Pilihan
-
7 Sabun Mandi Cair Wangi Mewah yang Bikin Rileks Setelah Pulang Kerja, Ada yang Mirip Aroma Spa
-
Mantan Istri Andre Taulany Dilaporkan ke Polisi, Diduga Aniaya Karyawan
-
Stasiun Bekasi Timur akan Kembali Beroperasi Lagi Siang Ini
-
Truk Tangki BBM Meledak Hebat di Banyuasin, 4 Pekerja Terbakar saat Api Membumbung Tinggi
-
RS Polri Berhasil Identifikasi 10 Jenazah Korban Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Ini Nama-namanya
Terkini
-
Harga Avtur di Bandara SoekarnoHatta Naik Lagi, Melonjak 16,6 Persen, Tembus Rp27.357/Liter
-
Kado Pahit Buat Buruh, Permenaker 7/2026 Langgengkan 'Perbudakan Modern' Alih Daya?
-
Selat Hormuz Ditutup, Harga Minyak Dunia Tembus US$ 126 Per Barel!
-
BTN Genjot Pariwisata Nasional Lewat Keuangan Digital
-
Harga Emas Global Menguat, Kemendag Naikkan HPE dan HR Emas pada Awal Mei 2026
-
Mandiri Inhealth Raup Laba Rp82,8 Miliar di Kuartal I 2026, Apa Pendorongnya?
-
Khamenei Klaim Kemenangan atas AS, Iran Pertegas Kendali Selat Hormuz
-
Aguan Lapor: Penjualan PIK2 Meroket 112%, Tembus Rp 987 M
-
KEK Sanur Gandeng Unud Jadi Pusat Riset Kesehatan Berkelas Dunia
-
Fundamental Kuat Jadi Alasan Saham BBRI Masih Jadi Rekomendasi