Bisnis / Energi
Senin, 04 Mei 2026 | 21:41 WIB
Kapal Tanker Iran masuk wilayah Indonesia @TankerTrackers
Baca 10 detik
  • Dua kapal tanker super Iran, DERYA dan HUGE, berhasil melewati pengawasan Angkatan Laut AS menuju Kepulauan Riau.
  • Kapal-kapal tersebut membawa jutaan barel minyak mentah Iran di tengah peningkatan aktivitas pengiriman melalui perairan Indonesia.
  • Strategi militer AS kini berfokus pada target ekonomi di Selat Hormuz guna menghindari risiko konflik berskala besar.

Jika sebelumnya fokus utama Washington adalah isu-isu besar yang bersifat politis dan militer ekstrem, kini target tersebut tampak lebih pragmatis dan berorientasi ekonomi.

“Pada awal konflik ini, tujuan yang dinyatakan adalah perubahan rezim dan pembongkaran sistem rudal balistik serta nuklir Iran,” ujar Hackett dalam wawancaranya dengan Al Jazeera.

“Target utama tersebut telah bergeser selama 60 hari terakhir menuju hasil ekonomi yang lebih fokus pada Selat Hormuz. Tampaknya, ini adalah hasil yang lebih mungkin dicapai dan menjadi jalan keluar (off-ramp) yang lebih mudah bagi Amerika Serikat.”

Presiden Trump sendiri membingkai operasi militer ini sebagai misi kemanusiaan untuk membantu kapal-kapal yang terjebak di zona konflik.

Namun, Hackett memperingatkan adanya dimensi diplomatik yang rumit di balik narasi tersebut. Ia mempertanyakan bagaimana kriteria bantuan akan diberikan jika kapal-kapal yang terjebak berasal dari negara-negara yang tidak memiliki hubungan baik dengan Amerika Serikat.

“Trump mendeskripsikan ini sebagai operasi kemanusiaan, jadi perlu ada tolok ukur mengenai seberapa lama orang-orang terjebak di sana dan seberapa sedikit pasokan makanan serta air yang mereka miliki,” tambah Hackett.

Risiko terbesar dari operasi ini adalah potensi bentrokan langsung dengan pihak Iran. Jika terjadi perlawanan di lapangan, Hackett memperingatkan bahwa situasi bisa memburuk dengan cepat. Amerika Serikat kemungkinan besar akan kekurangan aset jika harus beralih dari sekadar "mengawal" menjadi "mempertahankan" kapal-kapal tersebut secara aktif.

Kondisi ini diprediksi akan menciptakan kalkulasi risiko baru yang sangat tinggi bagi perusahaan-perusahaan asuransi pelayaran internasional, yang pada akhirnya dapat mengganggu stabilitas pasar energi global.

Harga minyak dunia saat ini terpantau di kisaran US$ 110 per barel.

Baca Juga: Kewarasan yang Dipertanyakan: 'Juminten Edan' Bawa Isu Sosial ke Level Horor yang Menakutkan

Load More