Bisnis / Energi
Minggu, 17 Mei 2026 | 16:53 WIB
Gamsunoro, kapal tanker milik Pertamina International Shipping. [Antara]
Baca 10 detik
  • Ibrahim Assuaibi memprediksi harga minyak WTI pekan depan akan bergerak fluktuatif di rentang US$91,600 hingga US$110,600 per barel.
  • Eskalasi geopolitik di Timur Tengah dan keamanan jalur distribusi di Selat Hormuz menjadi pemicu utama potensi kenaikan harga minyak.
  • Upaya diplomasi AS terkait Selat Hormuz serta hubungan dagang AS-Tiongkok diproyeksikan akan memengaruhi stabilitas harga komoditas energi global tersebut.

Suara.com - Grafik harga minyak mentah dunia diperkirakan masih berpotensi melanjutkan tren kenaikan tajam pada perdagangan pekan depan. Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan pergerakan komoditas energi global ini akan diselimuti volatilitas tinggi, terpengaruh langsung oleh eskalasi geopolitik di kawasan Timur Tengah serta perkembangan negosiasi pengamanan jalur maritim di Selat Hormuz.

Secara teknikal, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) diproyeksikan akan bergerak melebar dengan rentang batas bawah (support) di level US$91,600 per barel dan batas atas (*resistance*) yang cukup tinggi di level US$110,600 per barel.

“Kemudian untuk WTI crude oil, dalam perdagangan minggu depan pun juga kemungkinan besar support-nya di 91.600, kemudian resistance-nya di 110.600,” ujar Ibrahim kepada wartawan, Minggu (17/5/2026).

Ibrahim menjelaskan bahwa lebarnya rentang target tersebut mencerminkan kuatnya tekanan sentimen dari sisi kepastian pasokan serta keamanan jalur distribusi logistik global.

Selama riak politik di Timur Tengah belum menemui titik temu, ruang bagi komoditas minyak untuk merangkak naik tetap terbuka lebar.

“Artinya apa? Harga minyak, indeks dolar, ini masih akan menguat, ya, di minggu depan. Nanti ada apa, nanti akan lihat di fundamentalnya,” jelas Ibrahim.

Faktor utama yang kini memegang kendali paling sensitif bagi pergerakan harga energi adalah stabilitas di Selat Hormuz. Selat strategis ini merupakan jalur nadi distribusi komoditas minyak mentah dunia.

Konsekuensinya, setiap gesekan politik yang melibatkan kekuatan militer Iran, Amerika Serikat, beserta sekutu regionalnya akan langsung berdampak instan terhadap pasokan pasar.

Saat ini, fokus para pelaku pasar global tertuju pada upaya diplomasi Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang tengah mengupayakan kesepakatan kolektif guna mengamankan jalur logistik tersebut.

Baca Juga: 3 Kapal Tanker Raksasa 'Bebas' Lewati Selat Hormuz Hari Ini, Pertanda Baik?

“Trump sendiri bolak-balik ingin adanya kesepakatan. Bukan kesepakatan sepihak, tapi kesepakatan bersama untuk apa? Membuka Selat Hormuz,” ucapnya.

Manajemen risiko di pasar uang mencatat, jika konsensus politik internasional berhasil mengembalikan stabilitas di Selat Hormuz, volatilitas harga minyak mentah perlahan akan melandai.

Sebaliknya, apabila tensi di lapangan justru meruncing—terutama dengan adanya risiko perluasan konflik langsung antara Iran dan Israel—maka potensi lonjakan harga energi ke tingkat tertinggi baru sulit untuk dihindari akibat ancaman terhentinya rantai pasok.

Di luar isu keamanan Timur Tengah, dinamika hubungan dagang antara dua kekuatan ekonomi dunia, yakni Amerika Serikat dan Tiongkok, turut andil menjadi katalis pendukung pasar.

Tanda-tanda membaiknya hubungan bilateral pasca-pertemuan bilateral antara Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping diharapkan dapat memicu solusi yang saling menguntungkan (win-win solution) bagi stabilitas makro.

Jika kesepakatan dagang tersebut berjalan mulus dan Tiongkok meningkatkan volume penyerapan komoditas energi dari AS, sisi permintaan (demand) global dipastikan akan menguat secara signifikan.

Load More