Bisnis / Makro
Senin, 18 Mei 2026 | 11:48 WIB
Ilustrasi Utang Luar Negeri Indonesia. [ANTARA]
Baca 10 detik
  • Bank Indonesia melaporkan posisi Utang Luar Negeri Indonesia pada triwulan I 2026 mencapai 433,4 miliar dolar AS.
  • Pertumbuhan utang pemerintah melambat menjadi 3,8 persen, sementara sektor swasta justru mencatatkan kontraksi sebesar 1,8 persen.
  • Struktur utang dinilai tetap sehat dengan rasio terhadap PDB yang menurun menjadi 29,5 persen pada periode tersebut.

Suara.com - Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa posisi Utang Luar Negeri Indonesia pada triwulan I 2026 menunjukkan tren pertumbuhan yang melambat.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny, menyampaikan bahwa posisi ULN Indonesia pada periode tersebut tercatat sebesar 433,4 miliar dolar AS atau sekitar Rp7.649 triliun.

Secara tahunan, angka ini hanya tumbuh sebesar 0,8 persen, mengalami perlambatan signifikan jika dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan IV 2025 yang mencapai 1,9 persen.

"Perkembangan Utang Luar Negeri Indonesia ini sangat dipengaruhi oleh dinamika pada sektor publik maupun sektor swasta," katanya dalam siaran pers yang diterima, Senin (19/5/2026).

Dari sisi pemerintah, posisi ULN tercatat sebesar 214,7 miliar dolar AS atau tumbuh 3,8 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 5,5 persen (yoy).

Menurutnya, melambatnya pertumbuhan ini sejalan dengan aliran modal masuk asing pada Surat Berharga Negara (SBN) internasional, yang menandakan bahwa kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi nasional masih terjaga dengan sangat baik.

ULN pemerintah tersebut dikelola secara cermat dan akuntabel guna mendukung belanja prioritas.

Direktur Eksekutif Komunikasi BI Ramdan Denny di Gedung BI, Jumat (7/11/2025). [Suara.com/Rina]

Berdasarkan sektor ekonominya, pemanfaatan utang diarahkan pada sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial sebesar 22,1 persen, Administrasi Pemerintah, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib sebesar 20,2 persen, Jasa Pendidikan sebesar 16,2 persen, Konstruksi sebesar 11,5 persen, serta Transportasi dan Pergudangan sebesar 8,5 persen.

Mayoritas utang pemerintah merupakan utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 99,99 persen.

Baca Juga: Mengapa Komentar Presiden soal Rupiah dan Dolar Menyesatkan sekaligus Berbahaya?

Di sisi lain, ULN sektor swasta justru mengalami penurunan. Pada triwulan I 2026, posisi utang swasta tercatat sebesar 191,4 miliar dolar AS, turun dari 194,2 miliar dolar AS pada triwulan sebelumnya.

Secara tahunan, sektor swasta mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 1,8 persen (yoy).

Penurunan ini terjadi baik pada lembaga keuangan (financial corporations) maupun perusahaan bukan lembaga keuangan (nonfinancial corporations) yang masing-masing terkontraksi sebesar 3,6 persen (yoy) dan 1,3 persen (yoy).

Struktur Utang Luar Negeri Indonesia tetap terjaga sehat berkat penerapan prinsip kehati-hatian yang ketat.

Ramdan Denny menekankan bahwa rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) berhasil turun menjadi 29,5 persen dari sebelumnya 30,0 persen.

"Bank Indonesia dan Pemerintah berkomitmen untuk terus memperkuat koordinasi guna memantau perkembangan utang agar tetap optimal dalam menopang pembiayaan pembangunan tanpa mengganggu stabilitas ekonomi nasional yang berkelanjutan," tandasnya.

Load More