Bisnis / Makro
Rabu, 20 Mei 2026 | 16:03 WIB
ARSIP-Pengunjung melihat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (8/4/2025). [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen pada 20 Mei 2026.
  • Kebijakan moneter tersebut bertujuan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan inflasi akibat dampak konflik geopolitik global.
  • Keputusan kenaikan suku bunga menyebabkan pasar modal merespons negatif hingga IHSG terkoreksi ke level 6.330,20 poin.

Suara.com - Bank Indonesia (BI) mengambil langkah moneter agresif guna membentengi perekonomian domestik dari efek rembetan konflik geopolitik global.

Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 19-20 Mei 2026, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo resmi mengumumkan kenaikan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 50 basis poin (bps) hingga menyentuh level 5,25 persen.

Sejalan dengan kebijakan tersebut, bank sentral juga mengerek suku bunga Deposit Facility menjadi 4,25 persen serta suku bunga Lending Facility berada di angka 6,00 persen.

Penyesuaian ini mengindikasikan bahwa otoritas moneter saat ini memprioritaskan stabilitas nilai tukar rupiah dan mitigasi risiko inflasi di atas target ekspansi ekonomi jangka pendek.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan bahwa pengetatan moneter ini merupakan langkah lanjutan dan antisipatif terhadap tingginya volatilitas pasar keuangan global akibat eskalasi perang di Timur Tengah.

Langkah ini dinilai krusial untuk memastikan realisasi inflasi pada periode 2026–2027 tetap terkendali dalam sasaran pemerintah, yaitu sebesar 2,5±1 persen.

Meski kebijakan moneter diperketat, Perry memastikan kebijakan makroprudensial serta sistem pembayaran tetap dipertahankan longgar (pro-growth).

Strategi ini diterapkan agar penyaluran kredit ke sektor riil tetap berjalan optimal, sehingga aktivitas dunia usaha dan investasi domestik tidak kehilangan momentum pertumbuhan di tengah tekanan eksternal.

Di saat yang sama, pengembangan ekosistem pembayaran digital terus diakselerasi untuk menopang ketahanan ekonomi masyarakat luas.

Baca Juga: Rumor Badan Ekspor Bikin IHSG Anjlok, Ini Saham Paling Boncos

Bank Indonesia juga mempererat sinergi dengan pemerintah dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Langkah koordinasi yang solid ini bertujuan merumuskan bauran kebijakan fiskal dan moneter yang tepat demi memitigasi dampak rambatan konflik internasional terhadap stabilitas makroekonomi nasional.

IHSG Terkoreksi ke Level 6.330 Merespons Putusan BI

Keputusan mengejutkan dari MH Thamrin langsung memicu volatilitas di pasar modal domestik. Menjelang penutupan sesi kedua perdagangan hari Rabu (20/5/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertahan di zona merah akibat aksi jual investor pasca-pengumuman kenaikan suku bunga.

Berdasarkan data dari RTI pada pukul 15.51 WIB, indeks saham domestik tercatat melemah sebesar 0,63 persen ke level 6.330,20. Sepanjang perdagangan sesi kedua, IHSG bergerak fluktuatif dengan mencatatkan level tertinggi di posisi 6.459,55 dan sempat menyentuh titik terendah pada angka 6.215,56.

Koreksi pada indeks saham utamanya dibebani oleh merosotnya harga 508 saham emiten. Sementara itu, hanya terdapat 172 saham yang bergerak menguat dan 135 saham lainnya cenderung stagnan atau tidak mengalami perubahan harga.

Secara historis, kenaikan tingkat suku bunga acuan memberikan sentimen negatif bagi pasar saham dalam jangka pendek. Pengetatan ini secara langsung akan mengerek biaya pinjaman emiten (cost of fund) yang berpotensi menekan profitabilitas korporasi.

Load More