- Pasar saham global dan Asia melemah pada 10 Juni 2026 akibat ancaman serangan militer AS terhadap Iran.
- Kenaikan inflasi inti AS serta ketegangan geopolitik mendorong harga minyak dan kekhawatiran suku bunga tinggi jangka panjang.
- IHSG mencatatkan anomali dengan penguatan signifikan meskipun investor asing melakukan aksi jual bersih cukup masif di bursa.
Suara.com - Eskalasi geopolitik di Timur Tengah kembali memanas dan mengguncang pasar keuangan global. Indeks-indeks saham utama di bursa Wall Street Amerika Serikat ditutup melemah signifikan pada perdagangan Rabu (10/6/2026), dipicu oleh pernyataan agresif Presiden AS Donald Trump yang mengancam akan meluncurkan serangan militer lebih lanjut terhadap Iran.
Sentimen negatif ini diperparah oleh rilis data ekonomi domestik AS. Inflasi inti indeks harga konsumen (CPI) AS pada bulan Mei 2026 tercatat naik 0,2% secara bulanan (month-on-month/MoM), sedikit lebih rendah dari konsensus pasar sebesar 0,3%.
Namun secara tahunan (year-on-year/YoY), inflasi inti masih nangkring di level 2,9%. Meskipun angka tersebut sesuai ekspektasi, posisinya masih berada di atas target aman yang ditetapkan Bank Sentral AS (The Fed) sebesar 2%, sehingga membatasi ruang bagi pelonggaran moneter.
Aksi jual massal (sell-off) melanda bursa New York setelah Trump meluapkan kekesalannya di media sosial mengenai lambatnya proses diplomasi.
"Iran terlalu lama bernegosiasi untuk sebuah kesepakatan yang sebenarnya akan sangat menguntungkan mereka. Kini mereka harus membayar harganya," tegas Trump.
Pada penutupan perdagangan, indeks Dow Jones Industrial Average merosot lebih dari 900 poin atau drop 1,87%. Pelemahan ini diikuti oleh indeks S&P 500 yang terpangkas 1,62%, dan Nasdaq Composite yang berkurang 1,98%.
Kepanikan dari Washington merembet cepat ke zona Asia pada perdagangan Rabu (10/6/2026). Mayoritas bursa saham regional Asia berakhir di zona merah seiring kekhawatiran pasar terhadap ancaman gangguan pasokan energi global akibat serangan baru AS ke wilayah Iran.
Ketegangan ini otomatis mendongkrak harga minyak mentah dunia, yang memicu kekhawatiran baru atas risiko inflasi global yang tinggi serta prospek suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama (higher-for-longer).
Di Jepang, indeks Nikkei melorot 1,9% dan Topix berkurang 1,2%. Koreksi paling parah melanda Korea Selatan, di mana indeks Kospi terjerembab hingga 4,5% dan Kosdaq terpangkas 1,7%. Di bagian lain, indeks Taiex Taiwan jatuh 3,3% dan Hang Seng Hong Kong melemah tipis 0,6%. Sebaliknya, bursa ASX 200 Australia berhasil melawan arus global dengan menguat 0,6%.
Baca Juga: Indef: Pemerintah Rasional Naikkan Harga Pertamax
Investor di Asia juga terpantau mengambil posisi defensif sembari menanti rilis data inflasi tahunan AS bulan Mei yang diperkirakan pasar berpotensi merangkak naik ke level 4,2%.
Meskipun pasar global dan regional dihantam sentimen negatif, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan kemarin justru mampu mencatatkan performa anomali dengan ditutup melonjak 2,71% ke level 5.902,38.
Kendati menguat tajam, reli indeks ini masih dibayangi oleh tekanan jual investor asing yang cukup masif, di mana mencatatkan aksi jual bersih (net sell) mencapai sekitar Rp3,13 triliun.
Beberapa saham yang menjadi target utama net sell asing di antaranya adalah BBRI, TPIA, BBNI, ANTM, dan BUMI.
Pada hari ini, IHSG dibuka menguat melanjutkan reli yang telah berlangsung dalam dua hari terakhir.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) pada pukul 09.00 WIB, IHSG naik 0,06% ke level 5.905,78. Kemudian IHSG melanjutkan penguatan dengan naik 0,4%.
Berita Terkait
-
Menlu Iran ke Donald Trump: Hentikan Serangan Atau Perang Lanjut Lewat Israel
-
Menteri Perang Amerika ke Iran: Kalau Perlu Negosiasi Pakai Bom, Kami Lakukan
-
Perang Lanjut! Serangan Balasan Iran Bobol Pangkalan Udara Israel, Hanggar Jet Tempur Luluh Lantak
-
IHSG Terus Gaspol Dekati Level Rp 6.000, BBCA Masih Gacor
-
Indef: Pemerintah Rasional Naikkan Harga Pertamax
Terpopuler
- 5 Kulkas 1 Pintu Anti Bunga Es dan Hemat Listrik, Harga Mulai Rp1 Jutaan
- Tok! Panja DPR Sepakati RUU Polri: Usia Pensiun Bintara 59 Tahun, Perwira 60 Tahun
- Resmi! Chatib Basri Dapat Jabatan Baru Hari Ini
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Beda Cushion Wardah Colorfit Hijau dan Krem: Intip Harga, Kandungan, dan Manfaatnya
Pilihan
-
Raffi Ahmad Terseret Kasus Suap Impor, Padahal Cuma Basa-basi Titip Barang ke PT Blueray
-
Haji Bolot Dikabarkan Terkena Serangan Jantung, Posisi Masih di Rumah Sakit
-
Derita Masyarakat RI Bertambah Kini Harga Pertamax Naik, Apa yang Harus Dilakukan?
-
Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
-
Namanya Terseret Isu Dugaan Korupsi BGN, Yahya Golkar: Semua Anggota Komisi IX DPR Tak Terlibat!
Terkini
-
Saham BCA Lagi Murah-murahnya, Dasco: Sepanjang Melalui Mekanisme Pasar Beli Saja
-
Profil Emiten Cetak Spanduk yang Dibeli Raffi Ahmad Ratusan Miliar
-
Mengapa Pertamina Naikkan Harga Pertamax Saat Gajian Telah Habis?
-
Harga Pertamax Harusnya Tembus Rp 30.000/Liter
-
Bea Cukai Sita 8,9 Juta Batang Rokok Ilegal, Selamatkan Penerimaan Negara Rp8,66 Miliar
-
Dasco: Rupiah Menguat Pekan Depan, Publik Segera Jual Dolar AS Kalau Tak Mau Rugi
-
Setelah BBM Naik, Harga Cabai dan Telur Turun Tajam, Beras Justru Bikin Khawatir
-
Pertamax Naik, Pakar Mewanti-wanti Risiko Migrasi Massal ke Pertalite
-
Rupiah Kembali Melemah, Dolar AS Merangkak Naik ke Level Rp17.958
-
Harga Emas Turun Semua Hari Ini! Antam, Galeri 24 dan UBS 'Spesial Diskon'