- Rupiah melemah hingga Rp18.209 per dolar AS, memicu kekhawatiran masyarakat.
- Nasabah money changer mulai melirik dolar AS sebagai aset perlindungan.
- Harga BBM dan biaya hidup naik, daya beli masyarakat semakin tertekan.
Suara.com - Pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp18.209 per dolar Amerika Serikat (AS) mulai memicu kekhawatiran masyarakat terhadap kondisi ekonomi nasional. Kekhawatiran tersebut terlihat dari meningkatnya aktivitas penukaran mata uang asing di sejumlah gerai money changer.
Salah satu nasabah PT Haji La Tunrung, Al, mengaku cemas dengan dampak pelemahan rupiah terhadap harga kebutuhan sehari-hari.
"Khawatir mas, serba naik semua. Apalagi saya pedagang, segala kebutuhan naik semua," ujarnya kepada Suara.com.
Menurut dia, pelemahan rupiah juga berdampak terhadap nilai tukar mata uang lain seperti euro. Saat ini, satu euro tercatat setara lebih dari Rp20 ribu, jauh lebih tinggi dibanding saat dirinya menukarkan euro pada tahun lalu.
"Terakhir saya tukar 50 euro pada Agustus 2025, waktu itu masih di kisaran Rp18 ribuan hingga Rp19 ribuan," katanya.
Tidak hanya euro, mata uang regional seperti ringgit Malaysia juga ikut menguat terhadap rupiah. Kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat mulai mempertimbangkan ulang strategi penyimpanan aset mereka.
Fenomena serupa diungkapkan Yo, nasabah lainnya yang mengaku semakin berat membeli mata uang asing akibat nilai tukar rupiah yang terus melemah.
"Saya khawatir dengan rupiah melemah. Jadi harus keluar rupiah lebih banyak untuk membeli yen," ujarnya.
Selain faktor nilai tukar, masyarakat juga menyoroti kenaikan harga bahan bakar yang dinilai semakin menekan daya beli.
Baca Juga: Sinyal dari Thamrin: Isi Dompet Warga RI Mendadak Ludes, Apa yang Terjadi?
"Saya habis dari Jepang dan menukar yen ke rupiah. Ya khawatir juga, Pertamax sekarang mahal," kata Tarno, nasabah lainnya.
Pelemahan rupiah turut mendorong meningkatnya kunjungan masyarakat ke gerai penukaran uang asing. Sebagian nasabah bahkan mulai mempertimbangkan dolar AS sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi.
"Saat ini saya melihat aset dolar lebih aman ketimbang rupiah. Ada pertimbangan membeli valas untuk jaga-jaga karena rupiah sedang melemah," ujar Yo.
Meski minat terhadap investasi valuta asing mulai meningkat, pelaku usaha money changer mencatat transaksi pembelian dolar AS dan mata uang asing lainnya belum mengalami lonjakan signifikan. Tingginya kurs membuat sebagian masyarakat memilih menunda pembelian valas meski menganggapnya sebagai aset yang lebih aman.
Rep: Dhia Sukmahadi Putra Nugraha
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Jaksa Skakmat Nadiem: Mau Putus Konflik Kepentingan, Kok Saham Gojek Tak Dijual?
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Resmi! Chatib Basri Dapat Jabatan Baru Hari Ini
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
Pilihan
-
Silakan Tabrak Kami! Polisi Tantang Massa Mahasiswa UI yang Nekat ke Bundaran HI
-
Mahasiswa Belum Muncul, Begini Kondisi Terkini Bundaran HI Jelang Aksi 12 Juni
-
Harry de Fretes Bagikan Kabar Haji Bolot Meninggal, Keluarga: Hoaks, Itu Orang Kurang Kerjaan
-
Prediksi Meksiko vs Afrika Selatan: Head to Head, Susunan Pemain dan Fakta Menarik
-
Rekor Gila ARMY Indonesia! Belum Genap Sejam, Ratusan Ribu Tiket Konser OT7 BTS Ludes Tanpa Sisa
Terkini
-
Terbitkan Obligasi USD 1,5 Milar, Danantara Spill Siapa Pembelinya
-
Tak Hanya Saham, Kripto Mulai Jadi Koleksi Warga RI untuk Investasi
-
Mendag Tegaskan Amerika Serikat Negara Tujuan Ekspor Terpenting
-
Sinyal dari Thamrin: Isi Dompet Warga RI Mendadak Ludes, Apa yang Terjadi?
-
Marketeers Tech for Business 2026: Jurus Baru Digital Marketing di Era AI
-
Listrik Sejumlah Wilayah Jawa Padam, Mas Bahlil Bilang Masalahnya di PLN
-
Gegara Bau Asap, Perokok Mulai Berbondong-bondong Gunakan Vape
-
IHSG Tembus Level 6.000 Lagi, Saham BUMI dan BRMS Diburu Investor
-
Kemnaker Raih 2 Penghargaan Government Social Media Summit 2026
-
Prabowo Mau Borong Rudal BrahMos dari India, Ekonom Ingatkan Risiko Utang Rp7 Triliun