Bisnis / Ekopol
Rabu, 24 Juni 2026 | 18:33 WIB
Direktur Utama PT Telkom Indonesia, Dian Siswarini, saat mengikuti rapat dengan Komisi VI DPR RI, Rabu (24/6/2026).
Baca 10 detik
  • Komisi VI DPR RI mengapresiasi strategi PT Telkom Indonesia dalam menghadapi persaingan pasar selama rapat kerja di Senayan.
  • Telkom membukukan pendapatan Rp146,7 triliun pada 2025 dengan laba bersih yang terdampak kebijakan percepatan depresiasi aset strategis.
  • Kuartal pertama 2026 menunjukkan pemulihan pendapatan sebesar Rp37,2 triliun berkat tingginya permintaan layanan data serta konektivitas internet masyarakat.

Suara.com - Komisi VI DPR RI memberikan sorotan positif terhadap langkah-langkah strategis yang diambil PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, dalam menghadapi dinamika pasar telekomunikasi yang kian kompetitif.

Dalam rapat kerja yang berlangsung di kompleks parlemen, Senayan, Rabu (24/6/2026), jajaran direksi Telkom memaparkan peta jalan (roadmap) korporasi serta capaian kinerja keuangan yang dinilai menunjukkan resiliensi di tengah tekanan makroekonomi.

Anggota Komisi VI DPR RI, Khilmi, secara terbuka melayangkan pujian terhadap kepemimpinan Direktur Utama PT Telkom Indonesia, Dian Siswarini.

Khilmi menyatakan keyakinannya, di bawah nakhoda baru ini, entitas telekomunikasi plat merah tersebut mampu mengoptimalkan seluruh potensi asetnya untuk mencapai level yang lebih tinggi, terutama dalam memperkuat penetrasi digital di berbagai wilayah Indonesia.

"Saya yakin ibu dirut akan membawa Telkomsel lebih baik. Sebab, ada sinergi dalam grup Telkom yang diharapkan memberikan layanan positif untuk publik," kata Khilmi.

Direktur Utama PT Telkom Indonesia, Dian Siswarini, saat mengikuti rapat dengan Komisi VI DPR RI, Rabu (24/6/2026).

Rapor Keuangan dan Langkah Berani Depresiasi Aset

Berdasarkan paparan resmi perusahaan, PT Telkom mencatat pendapatan sebesar Rp146,7 triliun pada tahun fiskal 2025 (FY25).

Meski angka tersebut terkoreksi tipis sebesar -2,2 persen secara Year on Year (YoY), manajemen menegaskan bahwa hasil ini masih dalam koridor yang sehat mengingat tantangan makro serta persaingan industri yang semakin sengit.

Dari sisi profitabilitas, laba usaha sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) tercatat sangat solid di angka Rp72,2 triliun.

Baca Juga: Cara Nonton Piala Dunia 2026 Lebih Murah, Telkomsel Hadirkan Paket FOLA PLAY Mulai Rp25 Ribu

Hal ini membuat margin EBITDA perusahaan tetap terjaga di level 49,2 persen. Namun, sorotan utama tertuju pada laba bersih perusahaan yang mengalami penyesuaian sebagai bagian dari langkah strategis jangka panjang.

Telkom menjelaskan, penurunan margin laba bersih menjadi 12,1 persen merupakan dampak dari kebijakan percepatan depresiasi dan perubahan umur ekonomis atas aset-aset tertentu.

Selain itu, perusahaan juga mengalokasikan anggaran untuk program pensiun dini guna merampingkan struktur organisasi agar lebih lincah (agile).

Kebijakan percepatan depresiasi ini ditegaskan sebagai transaksi non-kas, yang tidak memengaruhi arus kas perusahaan secara langsung.

Jika angka tersebut dinormalisasi, margin laba bersih Telkom sejatinya masih sangat kompetitif di angka 15,4 persen.

Tren Positif di Kuartal I 2026

Load More