Bisnis / Keuangan
Rabu, 08 Juli 2026 | 07:57 WIB
Ilustrasi modal asing keluar. [Ist]
Baca 10 detik
  • OJK melaporkan pasar saham domestik mengalami konsolidasi dan koreksi IHSG hingga 7,90 persen pada Juni 2026 akibat ketidakpastian global.
  • Investor asing mencatatkan aksi jual bersih saham sebesar Rp19,63 triliun, namun tetap menunjukkan minat positif pada obligasi negara Indonesia.
  • Industri pengelolaan investasi mencatat penurunan nilai aset kelolaan menjadi Rp1.011,81 triliun seiring terjadinya net redemption reksa dana pada Juni 2026.

Suara.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pasar saham domestik masih berada pada fase konsolidasi di Juni 2026. Hal ini dipengaruhi oleh berlanjutnya ketidakpastian global dan penyesuaian (rebalancing) portofolio investor.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, mengatakan I Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada level 5.643,19, terkoreksi 7,90 persen mtm atau 34,74 persen ytd.

"Di tengah dinamika tersebut, resiliensi dan likuiditas pasar modal dalam negeri secara umum tetap manageble," katanya saat rapat RDK secara virtual, Selasa (7/7/2026).

Tidak hanya itu, modal investor asing yang sudah kabur di bulan Juni terus meningkat. Adapun, dana asing yang keluar dari Indonesia mencapai Rp19,63 triliun.

"Investor asing membukukan net sell di pasar saham senilai Rp19,63 triliun (Mei 2026: net sell Rp4,10 triliun) seiring volatilitas pasar keuangan global dan penyesuaian portofolio investor," jelasnya.

Sementara itu, dari sisi likuiditas, rata-rata bid-ask spread di pasar saham domestik di Juni 2026 berada di level 1,75 persen, yang menunjukkan kondisi likuiditas pasar secara umum tetap terjaga (Mei 2026: 1,50 persen).

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi [Suara.com/Rina A]

Sedangkan, rata-rata Nilai Transaksi Harian (RNTH) di pasar saham tercatat sebesar Rp22,23 triliun (Mei 2026: Rp22,86 triliun). Di pasar obligasi, Indonesia Composite Bond Index (ICBI) pada Juni 2026 ditutup pada level 429,85; terkoreksi 1,69 persen mtm atau 2,49 persen ytd.

Adapun yield Surat Berharga Negara (SBN) pada periode yang sama secara rata-rata mengalami kenaikan sebesar 40,00 bps mtm atau 96,22 bps ytd, dipengaruhi oleh dinamika persepsi risiko akibat ketidakpastian global.

Meskipun pasar obligasi bergerakdinamis, minat investor asing tetap positif terhadap SBN, tercermin dari net buysebesar Rp22,43 triliun mtm (Mei 2026: net sell Rp3,70 triliun).

Baca Juga: OJK Tutup 36.191 Rekening Judi Online, Perbankan Diminta Perketat Pengawasan

Sementara itu, pasar obligasi korporasi mencatatkan net sell asing sebesar Rp0,07 triliun mtm (Mei 2026: net buy Rp0,20 triliun).

Sejalan dengan perkembangan pasar, kinerja industri pengelolaan investasi menunjukkan moderasi terbatas di bulan laporan. Nilai Asset Under Management (AUM) per 30 Juni 2026 mencapai Rp1.011,81 triliun, mencatatkan penurunan moderat sebesar 3,14 persen mtm atau 2,96 persen ytd.

Adapun Nilai Aktiva Bersih (NAB) Reksa Dana tercatat sebesar Rp652,90 triliun turun 4,79 persen mtm atau 3,32 persen ytd. Investor Reksa Dana membukukannet redemption sebesar Rp23,75 triliun secara mtm, sedangkan secara ytd tercatat net redemption terbatas sebesar Rp2,14 triliun.

Load More