Bisnis / Energi
Rabu, 08 Juli 2026 | 09:32 WIB
Amerika Serikat kembali melancarkan serangan militer ke wilayah Iran. [Istimewa]
Baca 10 detik
  • Militer Amerika Serikat melancarkan serangan udara ke Iran sebagai respons atas penyerangan tiga kapal komersial di Selat Hormuz.
  • Pemerintah Amerika Serikat kembali memberlakukan sanksi penjualan minyak mentah setelah mencabut lisensi dagang milik negara Iran tersebut.
  • Eskalasi konflik di Selat Hormuz memicu kenaikan harga minyak mentah global sebesar hampir dua persen pada perdagangan Rabu.

Selain itu, sebuah kapal tanker minyak berbendera Arab Saudi, yang diduga merupakan supertanker Wedyan, juga dilaporkan mengalami kerusakan misterius di lepas pantai Oman.

ilustrasi Selat Hormuz (Google Gemini)

Rentetan insiden ini membangkitkan kembali kekhawatiran besar atas kelancaran arus kapal tanker di Selat Hormuz, yang secara historis mengangkut sekitar seperlima dari total pasokan energi global.

Saat ini, Iran mulai menegaskan kendalinya atas selat tersebut dengan memerintahkan kapal-kapal untuk menggunakan rute yang lebih dekat ke garis pantainya, alih-alih rute yang mendekati wilayah Oman.

Di sisi lain, Amerika Serikat bersikeras bahwa jalur perairan internasional tersebut harus tetap bebas diakses oleh semua pihak seperti sedia kala.

Kondisi ini semakin krusial mengingat banyak negara telah menguras cadangan minyak domestik mereka demi menutupi kekurangan pasokan sejak konflik dimulai.

Bahkan, data terbaru dari American Petroleum Institute menunjukkan bahwa persediaan minyak mentah AS kembali menyusut pada minggu lalu, melampaui prediksi para analis yang memperkirakan penurunan sekitar 2,4 juta barel.

Load More