- Rupiah melemah ke level Rp17.988 per dolar AS pada perdagangan Rabu, 8 Juli 2026, akibat sentimen indeks kepercayaan konsumen.
- Analis menyatakan rupiah berpotensi menguat terbatas karena adanya dukungan dari data peningkatan cadangan devisa nasional yang cukup baik.
- Pelemahan mata uang turut dialami mayoritas negara Asia, kecuali won Korea Selatan yang mencatatkan penguatan terhadap dolar AS.
Suara.com - Mata uang Garuda berbalik melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Hal ini membuat rupiah masuk zona merah.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah Rabu 8 Juli 2026 dibuka ke level Rp17.988 per dolar Amerika Serikat (AS). Angka ini melemah 8 poin atau 0,04 persen dari hari sebelumnya yang ada di Rp17.980 per dolar AS.
Dalam hal ini, Analis dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pelemahan rupiah ini disebabkan oleh data indek kepercayaan konsumen.
"Namun investor masih wait and see mengatisipasi indeks kepercayaan konsumen siang ini yang membuat rupiah melemah lalu ekskalasi geopolitik di Timur Tengah bisa berbalik menekan rupiah. 17950-18050," katanya saat dihubungi Suara.com.
Kata dia, penguatan mata uang Garuda masih bisa terjadi.Apalagi peningkatan cadangan devisa (Cadev) bisa mendongkrak rupiah.
"Rupiah diperkirakan berpeluang menguat terbatas terhadap dolar AS didukung oleh data cadev yang naik kemarin," ujarnya.
Saat ini, beberapa mata uang Asia mengalami pelemahan. Salah satunya, ringgit Malaysia menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah ambles 0,27 persen. Disusul, peso Filipina yang anjlok 0,26 persen.
Selanjutnya ada yen Jepang terkapar 0,15 persen dan baht Thailand tertekan 0,14 persen. Lalu ada yuan China dan dolar Singapura yang sama-sama terkoreksi 0,07 persen. Berikutnya, dolar Taiwan tergelincir 0,03 persen dan dolar Hong Kong melemah tipis 0,005 persen pada pagi ini.
Sedangkan won Korea Selatan menjadi satu-satunya mata uang di Asia yang menguat setelah melonjak 0,2 persen terhadap the greenback.
Baca Juga: Rupiah Menguat ke Rp17.980 per Dolar AS, Ditopang Lonjakan Cadangan Devisa
Berita Terkait
Terpopuler
- Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
- 5 Serum untuk Mengecilkan Pori-pori, Bikin Kulit Mulus Sesuai Review Pembeli
- 5 Sepatu Lari Reebok yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 8 Pilihan Parfum di Alfamart yang Semakin Berkeringat Semakin Wangi
- 25 Kode Redeem FF Aktif 5 Juli 2026: Kesempatan Dapat Bundle BR Elite dan Item Premium
Pilihan
-
Roy Suryo Menang Praperadilan! Hakim Nyatakan Penangkapan dan Penahanan Tidak Sah
-
Dokumen Kunker Menteri PU ke New York Bocor, Ajak Istri dan Anak Jelang Final Piala Dunia?
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
Terkini
-
Ketegangan AS - Iran Memanas, Harga Minyak Dunia Melonjak Akibat Kekhawatiran Gangguan Pasokan
-
Gagal Bayar Meningkat, Utang Masyarakat di Pinjol Tembus Rp103,73 Triliun
-
Titipan Politik di Kursi Komisaris dan Direksi Makin Kuat di BUMN, Ini Datanya
-
Modal Asing yang Kabur dari Pasar Modal Tembus Rp19,63 Triliun, Apa Penyebabnya?
-
Panen Raya Jadi Bukti! Teknologi Benih Dongkrak Produktivitas Jagung
-
OJK Tutup 36.191 Rekening Judi Online, Perbankan Diminta Perketat Pengawasan
-
Kementerian PU Jelaskan Kunker Menteri Dody dan Keluarga ke New York Jelang Final Piala Dunia
-
Sebanyak 81 BPR Akan Digabung Menjadi 24 hingga Juni 2026
-
Danantara Lebur 4 BUMN Manajer Investasi
-
Ribut-ribut Soal Skema Bagasi Pesawat, Mana yang Lebih Baik?