Suara.com - Di tengah suasana perayaan 80 tahun kemerdekaan Indonesia, sejarah panjang perjuangan bangsa di atas lapangan hijau turut menjadi pembahasan media Belanda, NOS.
Jauh sebelum menjadi olahraga terpopuler, sepak bola disebut NOS memainkan peran penting sebagai alat perjuangan dan simbol perlawanan terhadap kolonialisme, menorehkan babak awal dari sejarah Timnas Indonesia yang penuh dengan narasi kompleks.
Olahraga ini awalnya diperkenalkan oleh orang-orang Belanda pada akhir abad ke-19 dan menjadi permainan eksklusif kaum Eropa.
Namun, masyarakat pribumi dengan cepat mengadopsinya sebagai medium untuk menyatukan semangat nasionalisme, yang puncaknya adalah berdirinya PSSI pada 1930 di Yogyakarta sebagai tandingan federasi bentukan Belanda.
Visi PSSI sebagai alat pemersatu bangsa langsung diuji dalam kontroversi Piala Dunia 1938, di mana tim Hindia Belanda berpartisipasi.
Kisah kiper legendaris Tan Mo Heng, salah satu dari sedikit pemain pribumi di tim itu, menjadi simbol kompleksitas identitas dan perjuangan di tengah dominasi kolonial saat itu.
Menurut sejarawan sepak bola, Ferry Klinkert, sepak bola dengan cepat dilihat oleh para pejuang kemerdekaan sebagai alat yang efektif.
Pendiri PSSI, Soeratin Sosrosoegondo, melihat permainan ini sebagai cara untuk menyatukan masyarakat dari berbagai pulau yang saat itu masih terpecah-belah di bawah kekuasaan Hindia Belanda.
“Soeratin melihat sepak bola sebagai alat untuk menyatukan orang Indonesia,” ungkap Klinkert dalam video dokumenter NOS.
Baca Juga: Senyum Mees Hilgers di Tribun, Meski Masa Depannya di FC Twente Suram
Konflik besar pecah saat NIVU (Nederlandsch-Indische Voetbal Unie), federasi sepak bola yang dikuasai Belanda, membentuk tim untuk berangkat ke Piala Dunia 1938 di Prancis.
PSSI menolak keras keikutsertaan tim tersebut karena dua alasan fundamental: komposisi pemain dan nama yang digunakan.
PSSI menuntut agar lebih banyak pemain Indonesia dilibatkan dalam skuad dan nama tim diubah dari "Hindia Belanda" menjadi "Indonesia".
Namun, tuntutan yang sarat dengan muatan nasionalisme ini ditolak mentah-mentah oleh NIVU, yang justru memperdalam jurang pemisah antara kedua federasi.
Di tengah konflik itulah, sosok penjaga gawang Tan Mo Heng menjadi representasi dilema yang dihadapi para atlet pribumi.
Ia adalah salah satu pemain Indonesia yang terpilih, namun harus bermain di bawah bendera Hindia Belanda, sebuah cerminan perjuangan identitas bangsa yang terjebak dalam sistem kolonial.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Serum untuk Mengecilkan Pori-pori, Bikin Kulit Mulus Sesuai Review Pembeli
- 3 Rekomendasi Air Cooler 50 Watt yang Dingin Maksimal dan Suaranya Senyap
- Mulai Besok Kendaraan Nunggak Pajak Dilarang Isi BBM Bersubsidi
- 3 Sepatu Running Brodo Terlaris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- 7 Sunscreen Tone Up Terbaik untuk Kulit Kusam sesuai Review dan Harga
Pilihan
-
Resmi! Muktamar NU ke-35 akan Digelar di Ponpes Bahrul Ulum Jombang
-
Babak Belur Emiten Kaesang: Hanya Mampu Bayar Buruh Harian dan Operasikan Satu Pabrik
-
Roy Suryo Menang Praperadilan! Hakim Nyatakan Penangkapan dan Penahanan Tidak Sah
-
Dokumen Kunker Menteri PU ke New York Bocor, Ajak Istri dan Anak Jelang Final Piala Dunia?
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
Terkini
-
Kylian Mbappe Dijuluki 'Mobut' di Timnas Prancis, Apa Artinya?
-
Daftar Pemain Timnas Indonesia untuk Piala AFF 2026, Persija dan Persib Sumbang Paling Banyak
-
Wasit Argentina Pimpin Perancis vs Maroko, Les Bleus Tak Gentar Lawan Keputusan FIFA
-
Wasit Final Piala Dunia 2022 Bongkar Kesalahan VAR Anulir Gol Mesir ke Gawang Argentina
-
FIFA Disorot! Seluruh Ofisial Laga Prancis vs Maroko Berasal dari Argentina
-
Granit Xhaka Tak Takut Hadapi Lionel Messi, Swiss Siap Ukir Sejarah Kontra Argentina
-
Kasusnya Viral, Senator Paraguay Ancam Penjarakan Kylian Mbappe
-
Mesir Tuduh Piala Dunia Diseting untuk Argentina: Dunia Memang Tak Adil, Kenapa di Olahraga Juga?
-
Lengkap! Daftar 8 Tim dan Jadwal Perempat Final Piala Dunia 2026
-
Lionel Messi Lampaui Diego Maradona, Kembali Ukir Rekor Baru di Piala Dunia 2026