- Kondisi Real Madrid 2025/2026 memburuk, ditandai kegagalan di Supercopa dan Copa del Rey, berujung pemecatan Xabi Alonso.
- Toni Kroos berpendapat Madrid butuh sedikit kekacauan spontan, bukan permainan terlalu terkontrol, untuk memenangkan laga besar.
- Kroos mengkritik kurangnya pemahaman situasi pemain Madrid dan pendekatan taktis konservatif saat melawan Barcelona.
Suara.com - Musim 2025/2026 menjadi periode sulit bagi Real Madrid. Performa Los Blancos terus menurun dalam beberapa pekan terakhir, yang berpuncak pada kekalahan dari Barcelona di final Piala Super Spanyol dan tersingkirnya mereka secara mengejutkan dari Copa del Rey oleh Albacete.
Rentetan hasil buruk tersebut bahkan berujung pada berakhirnya masa kepelatihan Xabi Alonso di Santiago Bernabeu.
Mantan gelandang Real Madrid, Toni Kroos, turut memberikan analisis tajam terkait kondisi mantan klubnya.
Berbicara dalam podcast Einfach mal luppen yang dikutip Diario AS, Kroos menilai Real Madrid kesulitan memenangkan laga besar jika permainan mereka terlalu terencana dan terkendali.
“Saya merasa mereka membutuhkan semacam kekacauan di lapangan untuk memenangkan pertandingan seperti ini. Bukan permainan yang sepenuhnya direncanakan atau dikontrol, tetapi laga yang berjalan naik turun, membiarkan hal-hal gila terjadi. Di situ, kualitas mereka bisa muncul,” ujar Kroos.
Namun, Kroos juga menyoroti kesalahan-kesalahan elementer yang justru merugikan Madrid, seperti yang terjadi pada gol pertama Barcelona di final Supercup.
Kross menilai situasi tersebut tidak seharusnya terjadi pada tim sebesar Real Madrid.
“Selama 30–35 menit mereka bertahan dengan baik. Xabi Alonso juga mengatakan merasa pertandingan terkendali, meski tanpa penguasaan bola. Setelah Raphinha gagal memanfaatkan peluang, seharusnya itu momen untuk menenangkan permainan. Tapi 30 detik kemudian mereka kembali kebobolan karena kehilangan bola dengan cara yang tidak perlu,” jelasnya.
Menurut Kroos, masalah utama Real Madrid terletak pada kurangnya pemahaman situasional di dalam pertandingan.
Baca Juga: Florentino Perez Dikepung Amarah Fans, Bernabeu Jadi Saksi Krisis Real Madrid
Ia menilai para pemain depan juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga bola dan menurunkan tempo ketika dibutuhkan.
“Dalam momen seperti itu, pemain depan harus bisa menahan bola dan tidak mengambil risiko. Saya merasa ada kekurangan dalam membaca permainan dan memahami apa yang dibutuhkan di setiap situasi,” tegas Kroos.
Kroos juga mengkritik pendekatan taktis Xabi Alonso saat menghadapi Barcelona di final Supercup di Jeddah.
Ia menilai strategi konservatif yang diterapkan memang terlihat aman, namun sulit membawa kemenangan dalam jangka panjang.
“Anda memang bisa menang dengan cara seperti itu, tapi lebih sering kalah. Real Madrid bisa menang karena kualitas individu, seperti gol Vinícius, tetapi saya merindukan permainan yang lebih terstruktur,” katanya.
Lebih lanjut, Kroos membandingkan gaya bermain Real Madrid dengan Barcelona.
Ia menilai tim yang ingin mendominasi penguasaan bola harus siap menderita saat kehilangan bola, seperti yang dilakukan Blaugrana.
“Barcelona adalah tim yang tidak suka tanpa bola, jadi mereka langsung menekan untuk merebutnya kembali. Jika Anda bisa menjaga penguasaan bola secara seimbang, peluang mengalahkan Barcelona akan jauh lebih besar. Jika hanya mengandalkan serangan balik, peluang menang tetap ada, tetapi sangat kecil,” pungkas Kroos.
Kontributor: Azka Putra
Berita Terkait
-
Florentino Perez Dikepung Amarah Fans, Bernabeu Jadi Saksi Krisis Real Madrid
-
Florentino Perez dan Vinicius Jr Dicemooh Madridista, Alvaro Arbeloa Pasang Badan
-
Xabi Alonso Masuk Bursa Pelatih, Tottenham atau Liverpool yang Dipilih?
-
Zidane Ungkap Kunci Taklukan Ruang Ganti Real Madrid: Pelatih Wajib Diterima Pemain
-
Real Madrid di Titik Terendah, Alvaro Arbeloa Mohon Dukungan kepada Sosok Ini
Terpopuler
- Menkeu Purbaya Dikabarkan Bakal Dicopot Kamis Hari Ini
- Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Diperiksa Kejagung, Lodewyk Pusung dan Sony Sanjaya Ikut Diciduk
- Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Dijemput Kejagung, 2 Lainnya Dikejar untuk Ditangkap
- 3 HP Xiaomi dengan Chipset Snapdragon dan RAM 8 GB Termurah Juni 2026
- 4 Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review dan Harga
Pilihan
-
Tersangka Korupsi MBG Sony Sonjaya Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator, Siap Ungkap Pihak Lain
-
Terbukti Korupsi! Immanuel Ebenezer 'Noel' Dijatuhi Hukuman 4,5 Tahun dan Denda Rp200 Juta
-
Purbaya Bantah Kabar Akan Dicopot dari Kursi Menteri Keuangan
-
Menkeu Purbaya Dikabarkan Bakal Dicopot Kamis Hari Ini
-
Wamen Imipas Silmy Karim Ditahan KPK, Terborgol Pakai Rompi Oranye Usai Drama Menyerahkan Diri
Terkini
-
Lamine Yamal Raih Penghargaan Pemain Terbaik Liga Spanyol 2025/2026
-
Tottenham Resmi Rekrut Andy Robertson, De Zerbi Kegirangan
-
Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Menang Lagi saat Lawan Mozambik
-
Bali United Lepas Yusuf Meilana, Kembalikan ke Persik Kediri
-
Tepis Penalti, Emil Audero Ungkap Kunci Permainan Solid Lawan Oman
-
John Herdman Minta Timnas Indonesia Tak Jumawa usai Kalahkan Oman 3-0
-
Pelatih Oman Kena 'Prank' Timnas Indonesia, Peringkat Tidak Sesuai Kualitas
-
Penantian Panjang, Timnas Indonesia Butuh Waktu 38 Tahun untuk Kembali Kalahkan Oman
-
Hasil Timnas Indonesia vs Oman: Garuda Menang Telak!
-
Sesi Potret Erling Haaland Jelang Piala Dunia 2026 Panen Kritik Dianggap Fasis dan Neo Nazi