Bola / Bola Dunia
Rabu, 03 Juni 2026 | 21:50 WIB
Republik Ceko kembali ke Piala Dunia 2026 dengan mengandalkan ketajaman Patrik Schick dan kekuatan bola mati usai absen selama 20 tahun. [Dok. IG ceskarepre]
Baca 10 detik
  • Timnas Republik Ceko kembali lolos ke Piala Dunia 2026 setelah menanti selama dua dekade melalui babak kualifikasi play-off.
  • Skuad asuhan Miroslav Koubek kini mengandalkan kolektivitas tim dan kekuatan bola mati dibandingkan ketergantungan pada talenta pemain bintang.
  • Republik Ceko akan bersaing melawan Korea Selatan, Afrika Selatan, dan Meksiko untuk membuktikan kualitas fisik serta organisasi permainannya.

Suara.com - Timnas Republik Ceko akhirnya kembali menginjakkan kaki di panggung tertinggi sepak bola dunia, Piala Dunia 2026, setelah menuntaskan penantian panjang selama dua dekade.

Kehadiran skuad berjuluk Narodak ini membawa misi besar untuk melampaui catatan buruk pada edisi 2006 sekaligus membuktikan bahwa kolektivitas tim lebih berharga daripada sekadar deretan pemain bintang.

Dengan mengandalkan ketajaman bomber Patrik Schick dan strategi bola mati yang mematikan, Republik Ceko siap memberikan kejutan di tengah persaingan grup yang seimbang melawan Korea Selatan, Afrika Selatan, dan Meksiko.

Perjalanan menuju Amerika Utara ini menandai era baru bagi bangsa yang pernah mencapai semifinal Euro 2004 tersebut.

Identitas tim saat ini telah bergeser sepenuhnya dari ketergantungan pada talenta individu menjadi unit yang memiliki etos kerja tinggi.

Era Baru Tanpa Bayang-Bayang Generasi Emas

Berbeda dengan skuad 2006 yang dibangun di sekitar legenda seperti Pavel Nedved dan Petr Cech, tim saat ini lebih menekankan gaya permainan fisik yang menuntut daya tahan tinggi saat tidak menguasai bola.

Kini, Narodak tidak lagi mengandalkan banyak nama besar dari liga elite Eropa, kecuali beberapa pemain yang berkiprah di kompetisi papan atas.

Ladislav Krejí dari Wolverhampton Wanderers dan Tomáš Souek dari West Ham United menjadi representasi langka pemain yang berkarier di Premier League.

Baca Juga: Timnas Kongo Tersandung Jelang Piala Dunia 2026, Laga Uji Coba Dibatalkan Gegara Ebola

Kondisi ini justru membuat tim asuhan Miroslav Koubek tampil lebih solid karena setiap pemain memiliki peran yang bisa digantikan pemain lain tanpa mengurangi kualitas permainan.

Miroslav Koubek, pelatih berusia 74 tahun, menjadi sosok di balik keberhasilan Republik Ceko menembus putaran final melalui jalur play-off yang menegangkan.

Raja Bola Mati dari Eropa

Menyitat Opta Analyst, salah satu kekuatan utama yang wajib diwaspadai setiap lawan adalah efektivitas Republik Ceko dalam memanfaatkan situasi bola mati atau set-piece.

Republik Ceko tercatat sebagai tim yang paling banyak mencetak gol melalui bola mati pada kualifikasi zona UEFA.

Sebanyak 11 gol atau 50 persen dari total gol tim lahir melalui skema tendangan bebas, sepak pojok, hingga lemparan ke dalam.

Load More