Suara Denpasar - Upaya gencatan senjata antara tentara Sudan dan Paramiliter (RSF), gagal dilaksanakan. Beberapa saksi mata mengatakan, bahwa pertempuran antara keduanya, kian berkobar.
Sebelumnya, tentara Sudan dan Paramiliter menyepakati gencatan senjata selama 24 jam, terhitung sejak hari Rabu (19/4/2023).
Gencatan senjata yang ditengahi oleh negara-negara yang berusaha mengevakuasi warganya, seharusnya mulai berlaku pada pukul 6 sore, Rabu, (19/4/2023).
Kini, sejumlah pihak khawatir dengan menipisnya kebutuhan pokok. Warga kehabisan makanan dan bahan bakar. Selain itu, sistem perawatan kesehatan di Sudan juga terancam.
“Kami sangat membutuhkan jeda kemanusiaan, agar warga sipil yang terluka dan sakit, dapat diobati di rumah sakit,” kata Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB, dilansir dari Xinhua, Jumat, (21/4/2023).
"Orang-orang di Khartoum [Ibu Kota Sudan] kesulitan membeli makanan, mereka terancam, dan kebutuhan pokok lainnya sulit pula didapat," katanya lagi.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dikabarkan telah menghadiri pertemuan virtual di Sudan pada hari Kamis, (20/4/2023).
"Ia berupaya mengamankan gencatan senjata 24 jam antara pihak yang bertikai di Sudan," kata Stephane Dujarric, juru bicara Antonio Guterres.
Sekretaris Jenderal Liga Arab, Ahmed Aboul-Gheit, juga meminta pihak-pihak yang bertikai di Sudan untuk menghentikan peperangan menjelang Idul Fitri.
Baca Juga: Haykal Alhafiz Berlabuh Ke PSIS Semarang, Mahesa Jenar Incar Aset Persebaya Lainnya?
Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu, turut angkat bicara. Ia mengatakan pada hari Rabu (19/4/2023), bahwa pihaknya sedang mengadakan pembicaraan di Sudan. Hal ini ditujukan untuk mendamaikan kedua pihak yang bertikai di Sudan.
"Kami sedang bernegosiasi dengan kedua belah pihak. Kami sedang bernegosiasi untuk menghentikan konflik," katanya kepada wartawan.
Sementara Presiden Kenya, William Ruto, mendesak masyarakat internasional untuk meningkatkan upaya untuk mengakhiri kerusuhan di Sudan.
Untuk diketahui bahwa perang saudara di Sudan kini telah memasuki hari kelima. Ia mencatat bahwa ada bahaya nyata mengenai eskalasi permusuhan di Sudan.
Hal tersebut, memungkinkan untuk terjadinya krisis keamanan dan kemanusiaan dalam skala yang mengerikan.
Sebagai tambahan informasi, bahwa perang saudara antara tentara Sudan dan paramiliter RSF awalnya pecah pada hari Sabtu lalu.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 67 Kode Redeem FF Max Terbaru 13 April 2026: Sikat Item Undersea, Evo Draco, dan AK47
- 5 Rekomendasi Parfum Lokal yang Wanginya Segar seperti Malaikat Subuh
Pilihan
-
Bukan Hanya soal BBM, Kebijakan WFH Mengancam Napas Bisnis Kecil di Magelang
-
Solidaritas Tanpa Batas: Donasi WNI untuk Rakyat Iran Tembus Rp9 Miliar
-
CFD Ampera Bikin Macet, Akademisi: Ada yang Salah dari Cara Kota Diatur
-
Polisi: Begal Petugas Damkar Tertangkap Saat Pesta Narkoba Didampingi Wanita di Pluit
-
Warga Sambeng Borobudur Terancam Kehilangan Mata Air, Sendang Ngudal Dikepung Tambang
Terkini
-
Lagu Erika Viral karena Lecehkan Perempuan, HMT ITB Resmi Minta Maaf dan Tarik Konten
-
WALHI Kritik Menhan Sjafrie Sjamsoeddin di Satgas PKH: Waspada Ekspansi Militer di Ruang Sipil
-
IHSG Terkoreksi di Sesi I, 344 Saham Anjlok
-
Menilik Labirin Penarikan Dana Trading: Mengapa Transfer Internasional Tak Pernah Instan?
-
RedMagic 11s Pro Lolos Sertifikasi, Calon HP Gaming Gahar dengan Chipset Kencang
-
Review Film Wind Breaker: Adaptasi Manga yang Seru dan Brutal!
-
Melihat Kapal Macet Mau ke Selat Hormuz Berdasarkan Data Pelacakan Maritim
-
Israel Hari Ini: Ancaman Roket Hizbullah hingga Serangan Lebah dan Cuaca Ekstrem
-
Webtoon Populer Youth Blossom Resmi Diadaptasi Jadi Serial Animasi
-
GIGI Akui Ada Perbedaan Pendapat dan Gesekan, Pastikan Thomas Ramdhan Batal Hengkang