Suara.com - Kasus demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi masalah bagi Indonesia. Meski angka kematian DBD terus mengalami penurunan, jumlah kasus DBD terus terjadi sepanjang tahun.
Untuk menekan angka kejadian DBD, pemerintah dalam hal ini Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menggalakkan program 1 rumah 1 jumantik. Dalam program ini, satu anggota keluarga diharapkan bisa menjadi juru pemantau jentik di rumahnya sendiri.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes, Mohamad Subuh mengatakan jumantik dalam suatu rumah tangga nantinya akan memastikan bahwa tidak ada jentik di tempat tinggalnya sehingga kasus penularan virus DBD dari nyamuk Aedes Aegypti bisa ditekan.
"Pengalaman kita tahun lalu ke Tangerang bersama Menkes, masuk ke tempat privat suatu rumah tangga itu sangat sulit. Kamar mandi, misalnya ada di kamar tidur pribadi mereka sehingga kalau jumantiknya berasal dari keluarga tersebut jadi lebih mudah untuk memantu jentik-jentik di area privat," ujarnya pada temu media 'ASEAN Dengue Day ke-6' di Jakarta, Rabu (15/6/2016).
Lebih lanjut Subuh mengatakan, dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 250 juta, maka jumlah jumantik yang diharapkan dapat mencapai 65 juta jumantik, dengan asumsi satu keluarga terdiri dari empat anggota keluarga.
"Apakah ini mungkin? Kita harus optimis ini akan berhasil. Karena sebenernya pengetahuan masyarakat sudah tinggi tentang bagaimana mereka melakukan pencegahan DBD. Kalau kita lihat angka kematian DBD pada 1968 mencapai 41 persen tapi saat ini dengan perkembangan teknologi dan pemahaman masyarakat yang sudah baik dalam mendeteksi DBD, angka kematian bisa menurun hingga dibawah 1 persen," imbuhnya.
Subuh berharap program satu rumah satu jumantik ini bisa menekan angka kejadian DBD hingga 0 persen. Untuk itu ia mengimbau agar masyarakat tak lengah untuk membasmi sarang nyamuk dimulai dari lingkungan tempat tinggalnya.
"Untuk itulah upaya harus kita lakukan, jangan lengah sedikit pun. PSN (pemberantasan sarang nyamuk) harus dilakukan tiap minggu. Kalau satu tahun ada 52 minggu maka 52 kali harus kita lakukan PSN ini," pungkasnya.
Berita Terkait
-
DPR Dorong Kemenkes Pastikan Pengobatan Terbaik untuk Andrie Yunus
-
Komisi III DPR Desak Polri Usut Tuntas Penyerangan Andrie Yunus, Minta Kemenkes Tanggung Pengobatan
-
Gerakan 'United Against Dengue' Diluncurkan Demi Tekan Angka Kematian DBD di Indonesia
-
Kemenkes Akui Baru 60 Persen Puskesmas Tangani Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak
-
Hasil Cek Kesehatan Gratis, Kemenkes Ungkap 10 Persen Anak Indonesia Alami Masalah Kesehatan Mental
Terpopuler
- Ratusan Warga Cianjur Gagal Rayakan Lebaran Gara-gara Kena Tipu Paket Sembako Bodong
- 61 Kode Redeem FF Max Terbaru 20 Maret 2026: Raih THR Idul Fitri, AK47 Lava, dan Joker
- Lebaran 2026 Tanggal Berapa? Cek Jadwal Idulfitri Pemerintah, NU, Muhammadiyah, dan Negara Lain
- 7 HP Samsung Terbaik untuk Orang Tua: Layar Besar, Baterai Awet
- 30 Link Twibbon Idul Fitri 2026 Simpel Elegan, Cocok Dibagikan ke Grup Kantor dan Rekan Kerja
Pilihan
-
Skandal Dean James Melebar! Pakar Hukum Belanda Sebut Status WNI Jadi Masalah Utama
-
Serangan AS-Israel di Malam Takbiran Tewaskan Jubir Garda Revolusi Iran
-
Mencekam! Jirayut Terjebak Baku Tembak di Thailand
-
Pak Menteri Siap Potong Gaji? Siasat Prabowo Hadapi Krisis Global Contek Pakistan
-
Kabar Duka! Pemilik Como 1907 Sekaligus Bos Djarum Meninggal Dunia
Terkini
-
Pentingnya Edukasi Menstruasi untuk Remaja Perempuan, Kunci Sehat dan Percaya Diri Sejak Dini
-
Jaga Hidrasi Saat Ramadan, Ini Pentingnya Menjaga Ion Tubuh di Tengah Mobilitas Tinggi
-
Waspada Makan Berlebihan Saat Lebaran: 5 Tips Cerdas Nikmati Opor Tanpa Gangguan Pencernaan!
-
Ancaman Senyap di Rumah: Mengapa Kualitas Udara Buruk Sebabkan Bronkopneumonia pada Anak?
-
Tips Mudik Aman untuk Pasien Gangguan Irama Jantung
-
Jangan Abaikan Kesehatan Saat Mudik, Ini Tips Agar Perjalanan Tetap Nyaman
-
Pelangi di Mars Tayang Jelang Lebaran, Film Anak yang Ajarkan Berani Bermimpi
-
Cedera Lutut hingga Bahu Paling Banyak Dialami Atlet dan Penggemar Olahraga
-
Jelang Lebaran, Korban Banjir Aceh Tamiang Dibayangi ISPA hingga Diare: Imunitas Harus Diperhatikan
-
Deteksi Dini dan Kebijakan Ramah Lingkungan: Solusi Terpadu untuk Menangani Penyakit Ginjal