Suara.com - Pakar keperawatan maternitas Ns. Rita Dewi, M.Kep. Sp.Kep.Mat mengingatkan kesibukan berkarier bagi perempuan bukan halangan memberikan air susu ibu (ASI) eksklusif.
"Kendala yang sering dialami perempuan karier yang punya anak yang masih bayi adalah pemberian ASI eksklusif. Namun, sesibuk apapun, tetap berikan ASI secara eksklusif," katanya di Semarang, Sabtu (15/10/2016)
Hal tersebut diungkapkannya saat menjadi pemateri kegiatan "parenting class" bertema "Perawatan Bayi Baru Lahir" yang diprakarsai Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Kusuma Pradja Semarang.
Jebolan Magister Keperawatan Maternitas Universitas Indonesia (UI) itu menjelaskan ibu yang berkarier tetap berkesempatan memberikan ASI eksklusif dengan cara diperah atau dipompa.
"Mestinya, ada ruang laktasi di unit-unit kerja. Jadi, ibu yang masih masa menyusui bisa menyempatkan waktu untuk memompa ASI untuk diberikan pada anaknya meski mereka bekerja," katanya.
Rita yang juga Kepala Bidang Keperawatan RSIA Kusuma Pradja Semarang itu mengatakan ASI yang sudah dipompa dan ditempatkan dalam botol atau wadah khusus bisa bertahan sekitar 6-8 jam.
"Itu dalam kondisi ruangan dengan suhu biasa. Kalau dimasukkan dalam kulkas, ASI bisa bertahap sampai 3 hari. Jika mau lebih lama, bisa dimasukkan 'freezer'. Bisa sampai satu bulan," katanya.
Maka dari itulah, kata dia, berkarier atau bekerja sebenarnya bukan halangan bagi para ibu untuk tetap memberikan ASI-nya secara eksklusif, sebab banyak upaya yang bisa dilakukan.
Selain itu, Rita mengatakan kendala pemberian ASI eksklusif biasanya juga dialami ibu-ibu muda atau yang belum pernah memiliki anak, sebab tidak memiliki pengetahuan cukup mengenai ASI.
"Ibu-ibu muda yang belum pernah punya anak kan sering khawatir saat mengetahui ASI-nya tidak keluar banyak. Ketika bayinya menangis, mereka menganggap anaknya masih lapar karena ASI kurang," katanya.
Ia mengungkapkan sebenarnya aliran ASI yang kurang itu normal selama 1-3 hari setelah melahirkan, namun banyak ibu yang tidak tahu, tidak paham, tidak sabar, atau khawatir anaknya menangis.
Seringkali, kata dia, para ibu muda yang belum paham itu malah menambahnya dengan susu formula yang diberikan melalui botol susu, padahal ASI harus terus distimulus melalui hisapan mulut bayi.
"Kalau ASI-nya ingin lancar dan banyak, ya, harus terus menyusui bayinya. Bayi yang sudah terbiasa 'ngedot' akan enggan menyusu ibunya. Ya, bagaimana mau lancar ASI-nya kalau begitu," pungkasnya. (Antara)
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Bedak Marcks Tabur untuk Usia Berapa? Ini Penjelasan dan 3 Pilihan Variannya
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
Pilihan
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
Terkini
-
El Nino dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Mengapa Kita Harus Lebih Waspada?
-
Penyakit Jantung Tak Menunggu Tua: Ini Strategi Proteksi di Tengah Lonjakan Biaya Medis
-
WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global
-
Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental
-
Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!
-
Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens
-
Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?
-
Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak
-
Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh
-
Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi