Suara.com - Meskipun makanan tidak dapat benar-benar menyebabkan atau memicu radang usus buntu, tetapi ada makanan tertentu yang dapat memperburuk masalah usus buntu.
Jika seseorang telah mengalami penyakit usus buntu, maka hanya sedikit yang dapat dilakukan untuk mencegahnya. Dan ketika usus buntu pecah akibat peradangan, maka bisa menyebabkan situasi yang mengancam jiwa.
Penyebab peradangan usus buntu adalah penyumbatan pada usus buntu. Kondisi ini dapat terjadi di usia berapapun, namun seringkali terjadi pada usia 10-30 tahun. Untuk meminimalisir kondisi ini, mari kita lihat beberapa makanan penyebab usus buntu yang dihimpun oleh hellosehat.com.
1. Makanan Pedas
Meskipun makanan pedas dapat membuat sumbatan yang menyebabkan radang usus buntu, namun sebenarnya makanan pedas bukanlah masalah utama yang menyebabkan kondisi tersebut. Bagaimanapun, makanan pedas dapat menyebabkan kondisi lain yang dapat membuat Anda merasa tidak nyaman dan mungkin menyerupai gejala awal penyakit usus buntu.
Makan makanan pedas seperti cabai, paprika pedas, atau saus dapat menyebabkan gangguan pencernaan. Gangguan pencernaan ini dapat menyebabkan rasa sakit parah di daerah antara tulang dada dan pusar, disertai dengan mual.
Rasa sakit dapat menjadi sangat tidak nyaman, yang mungkin sulit dibedakan dengan gejala usus buntu. Jika Anda menduga bahwa itu adalah kondisi usus buntu, maka carilah bantuan medis segera.
Kondisi usus buntu tidak akan hilang dengan sendirinya kecuali ada bantuan perawatan medis. Jika Anda rentan terhadap gangguan pencernaan yang menyakitkan setelah makan makanan pedas, maka Anda harus membatasi kuantitas dan frekuensi konsumsi makanan tersebut.
2. Popcorn
Seperti yang kita ketahui, makanan yang tersumbat adalah salah satu penyebab radang usus buntu. Potongan kecil makanan dapat memblokir permukaan rongga yang membentang di sepanjang usus buntu, dan itu dapat mengakibatkan pembengkakan dan pembentukan nanah.
Potongan kecil makanan yang menyumbat permukaan akan membuat bakteri terbentuk di dalam usus buntu. Jika tidak diobati, radang akan menyebabkan usus buntu pecah dan menyebarkan bakteri ke seluruh tubuh.
Dalam hal yang berkaitan dengan popcorn, Anda bisa saja menelan biji popcorn secara tidak sengaja, dan membuat biji tersebut mencapai permukaan rongga yang membentang di sepanjang usus buntu Anda. Dan itu dapat menyebabkan usus buntu, meskipun hal ini kurang umum terjadi.
Selain biji popcorn, popcorn yang belum dikunyah secara menyeluruh juga dapat menyebabkan penyumbatan, yang mengarah ke radang usus buntu.
3. Makanan rendah serat
Meningkatnya konsumsi makanan cepat saji, yang tinggi karbohidrat dan rendah serat dapat meningkatkan kontribusi dalam peningkatan kasus radang usus buntu.
Dalam studi kasus terkontrol di Yunani yang bertujuan untuk menyelidiki peran serat dan pengaruhnya pada usus buntu, peneliti melibatkan 203 anak yang telah terbukti secara riwayat keluarga mengalami radang usus buntu, dan 1922 anak yang tidak memiliki riwayat radang usus buntu.
Studi ini menekankan bahwa anak-anak dengan radang usus buntu memiliki asupan serat yang lebih rendah dibandingkan dengan anak-anak yang tidak memilikinya.
Dalam studi kasus terkontrol lainnya yang dilakukan di Amerika Serikat, ditemukan bahwa anak-anak yang memiliki persentase asupan serat lebih dari 50 persen memiliki risiko 30 persen lebih rendah terkena radang usus buntu, ketimbang yang asupan seratnya rendah.
Selain itu, konsumsi gula dan makanan manis yang besar dapat menyebabkan sembelit dan meningkatkan pemaparan infeksi, yang pada akhirnya menyebabkan penyakit usus buntu.
4. Daging
Sistiserkosis (penyakit yang disebabkan oleh cacing pita pada babi) dan Taeniasis (penyakit akibat cacing pita dari sapi dan babi) terus menjadi masalah kesehatan utama di negara-negara berkembang. Manusia adalah satu-satunya makhluk yang bisa terinfeksi akibat mengonsumsi telur dari spesies Taenia (cacing pita) pada daging (terutama daging babi dan sapi).
Meskipun kasus ini jarang dilaporkan, namun ada satu kasus yang telah diketahui para peneliti. Terjadi di Nepal, seorang perempuan berusia 38 tahun mengeluh nyeri akut pada perut. Setelah dioperasi dan didiagnosis, ia menderita radang usus buntu gangren akibat mengonsumsi daging yang mengandung telur cacing pita.
Oleh karena itu, daging juga bisa jadi salah satu penyebab usus buntu, meskipun hanya sebagai perantara.
Berita Terkait
Terpopuler
- Selamat Tinggal Jay Idzes? Sassuolo Boyong Amunisi Pertahanan Baru dari Juventus Jelang Deadline
- 4 Calon Pemain Naturalisasi Baru Era John Herdman, Kapan Diperkenalkan?
- Kakek Penjual Es Gabus Dinilai Makin 'Ngelunjak' Setelah Viral, Minta Mobil Saat Dikasih Motor
- Rumor Cerai Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Memanas, Ini Pernyataan Tegas Sang Asisten Pribadi
- 4 Mobil Kecil Bekas 80 Jutaan yang Stylish dan Bandel untuk Mahasiswa
Pilihan
-
Dugaan Skandal PT Minna Padi Asset Manajemen dan Saham PADI, Kini Diperiksa Polisi
-
Epstein Gigih Dekati Vladimir Putin Selama Satu Dekade, Tawarkan Informasi 'Rahasia AS'
-
Bertemu Ulama, Prabowo Nyatakan Siap Keluar dari Board of Peace, Jika...
-
Bareskrim Tetapkan 5 Tersangka Dugaan Manipulasi Saham, Rp674 Miliar Aset Efek Diblokir
-
Siswa SD di NTT Akhiri Hidup karena Tak Mampu Beli Buku, Mendikdasmen: Kita Selidiki
Terkini
-
Jangan Abaikan Kelainan Refraksi, Deteksi Dini Menentukan Masa Depan Generasi
-
Toko Sociolla Pertama di Sorong, Lengkapi Kebutuhan Kecantikan di Indonesia Timur
-
Awali 2026, Lilla Perkuat Peran sebagai Trusted Mom's Companion
-
Era Baru Kesehatan Mata: Solusi Tepat Mulai dari Ruang Dokter Hingga Mendapatkan Kacamata Baru
-
Dokter Ungkap: Kreativitas MPASI Ternyata Kunci Atasi GTM, Perkenalkan Rasa Indonesia Sejak Dini
-
Solusi Bijak Agar Ibu Bekerja Bisa Tenang, Tanpa Harus Mengorbankan Kualitas Pengasuhan Anak
-
Dokter Saraf Ungkap Bahaya Penyalahgunaan Gas Tawa N2O pada Whip Pink: Ganggu Fungsi Otak!
-
Tidak Semua Orang Cocok di Gym Umum, Ini Tips untuk Olahraga Bagi 'Introvert'
-
Dehidrasi Ringan Bisa Berakibat Serius, Kenali Tanda dan Solusinya
-
Indonesia Masih Kekurangan Ahli Gizi, Anemia hingga Obesitas Masih Jadi PR Besar