Suara.com - Salah satu upaya pemerintah dalam mewujudkan peningkatan mutu pelayanan kesehatan di Indonesia di bidang kedokteran adalah dengan melakukan Program Internsip Dokter Indonesia (PIDI).
Menurut Menteri Kesehatan (Menkes) RI, Nila F Moeloek, adanya PIDI yang sudah ditentukan sesuai dengan amanat Undang-Undang Praktik Kedokteran No.29 tahun 2004 ini, diharapkan dapat meningkatkan kemahiran, kinerja dan pemandirian, serta dapat menerapkan standar kompetisi para dokter yang dicapai selama pendidikan.
Tak hanya itu, lanjut dia, PIDI juga dapat dijadikan sebagai salah satu wadah untuk menerapkan standar profesi dokter dalam melaksanakan praktik kedokteran. Untuk mencapai hal tersebut, maka dilakukanlah proses pelatihan keprofesian pra-registrasi.
"Proses tersebut menjadi prasyarat dan dilaksanakan sebelum mendapat kewenangan praktik kedokteran berupa Surat Tanda Registrasi dan Konsil Kedokteran Indonesia yang berlangsung selama satu tahun, yang disebut peogram internsip ini," katanya di Jakarta, Senin (18/12/2017).
Di Indonesia, lanjut dia, secara resmi program ini telah dibahas dan disepakati oIeh Kementerian Kesehatan, Konsil Kedokteran Indonesia (KKI), Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Kementerian Pendidikan Nasional sejak tahun 2008.
Pelaksanaan PIDI untuk pertama kali dilaksanakan di Sumatera Barat pada buIan Maret 2010. Pelaksanaan ditandai dengan Soft Launching Internsip oIeh Menteri Kesehatan, Menteri Dalam Negeri, dan Wakil Menteri Pendidikan Nasionai di Padang pada tanggal 22 Februari 2010.
"Jadi, lulus dokter ditandai dengan ijazah dokter dan telah mengucapkan sumpah dokter, sedangkan Sertifikat Kompetensi diperoleh dari Kolegium Dokter Indonesia melalui Uji Kompetensi Dokter Indonesia," ujarnya.
Peserta pertama yang mengikuti PIDI adalah dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Andalas dan saat ini peserta yang mengikuti PIDI berasal dari 73 - 75 Fakultas Kedokteran. Sampai dengan November 2017, sebanyak 10.756 dokter telah mengikuti program ini yang ditempatkan di 34 Provinsi di Indonesia.
Untuk 2017, diperkirakan sebanyak 11.250-12.000 dokter akan mengikuti PIDI. Sementara jumIah dokter pendamping baru yang dibutuhkan untuk mendampingi dokter peserta internsip adaIah 2.164 orang, dengan ratio 1:5.
Baca Juga: Kasus Abdul Somad Dibawa ke Komnas HAM
Program ini menempatkan para dokter di fasiIitas peIayanan kesehatan yaitu Rumah Sakit (RS dan Puskesmas seluruh Indonesia. Dengan adanya tambahan Sumber Daya Manusia (SDM) di RS dan Puskesmas ini, diharapkan dapat meningkatkan status kesehatan masyarakat di suatu daerah.
Adanya para dokter internsip ini, juga mempermudah akses pelayanan kesehatan pada masyarakat dan peningkatan kualitas dokter serta jaminan keselamatan pasien.
"Apalagi saat ini, sudah ada larangan untuk tidak boleh menjadikan pasien sebagai objek praktik mahasiswa kedokteran demi menghormati hak-hak azasi pasien," tambah Nila.
Sehingga, pada masa pendidikan klinik selama kepaniteraan klinik, mahasiswa tidak lagi menangani pasien secara mandiri tanpa supervisi yang ketat. Tanggung jawab mutu pelayanan dan legal aspek selama kepaniteraan klinik, berada pada pembimbingnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP RAM 8 GB Harga di Bawah Rp1,5 Juta: Kamera Bagus, Performa Juara
- 28 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 10 Januari 2026, Ada 15.000 Gems dan Pemain 111-115
- Link Gratis Baca Buku Broken Strings, Memoar Pilu Aurelie Moeremans yang Viral
- 4 Mobil Bekas Rp50 Jutaan yang Ideal untuk Harian: Irit, Gesit Pas di Gang Sempit
- 5 Cat Rambut untuk Menutupi Uban: Hasil Natural, Penampilan Lebih Muda
Pilihan
-
Profil Beckham Putra, King Etam Perobek Gawang Persija di Stadion GBLA
-
4 HP Snapdragon RAM 8 GB Paling Murah untuk Gaming, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
Rupiah Terancam Tembus Rp17.000
-
QRIS Jadi 'Alat Bantu' Judi Online: Mengapa Sistem Pembayaran BI Ini Rentan Disalahgunakan?
-
Klaim Pakai Teknologi Canggih, Properti PIK2 Milik Aguan Banjir
Terkini
-
Apa Beda Super Flu dengan Flu Biasa? Penyakitnya Sudah Ada di Indonesia
-
5 Obat Sakit Lutut Terbaik untuk Usia di Atas 50 Tahun, Harga Mulai Rp 13 Ribu
-
Kalimantan Utara Mulai Vaksinasi Dengue Massal, Kenapa Anak Jadi Sasaran Utama?
-
Kesehatan Anak Dimulai Sejak Dini: Gizi, Anemia, dan Masalah Pencernaan Tak Boleh Diabaikan
-
Krisis Senyap Pascabencana: Ribuan Pasien Diabetes di Aceh dan Sumut Terancam Kehilangan Insulin
-
Fakta Super Flu Ditemukan di Indonesia, Apa Bedanya dengan Flu Biasa?
-
Soroti Isu Perempuan hingga Diskriminasi, IHDC buat Kajian Soroti Partisipasi Kesehatan Indonesia
-
Mengapa Layanan Wellness dan Preventif Jadi Kunci Hidup Sehat di 2026
-
Ancaman Kuman dari Botol Susu dan Peralatan Makan Bayi yang Sering Diabaikan
-
Terlalu Sibuk Kerja Hingga Lupa Kesehatan? Ini Isu 'Tak Terlihat' Pria Produktif yang Berbahaya