Suara.com - Ketergantungan Gawai Saat Balita, Anak Bisa Terlambat Bicara
Memberikan gawai pada anak saat anak rewel memang bisa mendiamkannya dengan mudah. Dengan memberikan gawai maka anak dapat teralihkan perhatiannya dan tak lagi rewel.
Namun orang tua harus waspada, kebiasaan ini dapat memberi dampak negatif bagi sang anak di pertumbuhan usianya. Salah satunya mengakibatkan anak kurang berkonsentrasi dalam pelajaran sehingga membuat prestasi anak di sekolah cenderung memurun.
Untuk itu disampaikan Hanna Monareh, M,Psi, psikolog dari RS Siloam Manado, sudah saatnya para orang tua membatasi durasi penggunaan gawai selama dua jam sehari untuk anak anak atau maksimal tiga jam bagi mereka yang menginjak usia remaja.
"Belakangan ini orang tua kurang memberikan pengertian tentang waktu penggunaan gadget pada anak, orang tua senang dengan kondisi anak yang diam tanpa gerak aktivitas yang berlebihan. Yang harus dilakukan untuk mencegah dari ancaman teknologi yang dalam hal ini yaitu gadget adalah Pelajari, Pahami, Batasi, Awasi," ujar Hanna dalam keterangan resmi yang diterima Suara.com.
Hanna menambahkan, sebenarnya dampak gawai pada anak bisa menuju ke arah positif tetapi bisa juga berdampak ke arah yang negatif karena anak jaman now adalah seorang yang multitasking atau cepat beradaptasi dengan lingkungan.
"Dampak negatif yang banyak dialami oleh anak adalah speech delay (lambat bicara) dan akan diperparah dengan kondisi autisme," ujar dia.
Sayangnya kini banyak balita yang diberi tontonan Youtube melalui gawai sebelum usia dua tahun sehingga dapat mempengaruhi kondisinya di masa mendatang. Mengutip sebuah penelitian, Hanna menambahkan sebelum usia dua tahun anak dilarang terkontaminasi dengan gawai agar tidak ketergantungan.
"Pola asuh orang tua sangat berpengaruh dalam hal ini, artinya jangan ikuti kemauan anak. Tidak usah khawatir akan anak yang akan menangis karena pada saatnya dia lapar maka dia akan meminta makan dengan sendirinya," tambah dia.
Baca Juga: Pakai Gawai Terlalu Lama Bisa Picu Kerusakan Saraf Tepi
Sementara itu Magdalena Molenar dari RS Siloam Manado juga mengimbau para orang tua agar materi yang akan disampaikan dapat menjadi pengetahuan yang bermanfaat sehingga tumbuh kembang anak sesuai dengan yang diharapkan tanpa adanya keluhan di kemudian hari.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- Work to Run: 5 Sepatu Lari Hitam Polos yang Tetap Rapi di Kantor dan Nyaman Dipakai Lari
- 5 HP Redmi RAM 8 GB Memori 256 GB Termurah di Bawah Rp1,5 Juta, Spek Juara
Pilihan
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
-
Serangan Mematikan Rusia Jelang Gencatan Senjata, 26 Warga Ukraina Tewas
-
Bejatnya Kiai Cabul Ashari di Pati: Ngaku Keturunan Nabi hingga Istri Orang Bebas Dicium
-
Mengungkap Jejak Pelarian Kiai Cabul Pati: Terendus Ritual di Kudus, Kini Raib Bak Ditelan Bumi
-
Diterpa Kontroversi dan Dilaporkan ke Bareskrim Terkait Ceramah JK, Ade Armando Mundur dari PSI
Terkini
-
Diet Vegan Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca Hingga 55 Persen, Apa Buktinya?
-
Lebih dari Sekadar Nutrisi, Protein Jadi Kunci Hidup Aktif dan Sehat
-
Kisah Dera Bantu Suami Melawan Penyakit GERD Melalui Pendekatan Holistik
-
Dari Antre Panjang ke Serba Cepat, Smart Hospital Ubah Cara Rumah Sakit Layani Pasien
-
Berat Badan Tak Kunjung Naik? Susu Flyon Jadi Salah Satu Solusi yang Dilirik
-
Lebih Banyak Belum Tentu Lebih Baik: Fakta Mengejutkan di Balik Kebiasaan Konsumsi Suplemen Anda
-
Nyeri Lutut pada Perempuan Tak Boleh Dianggap Sepele, Mesti Waspada Hal Ini
-
Olahraga Bukan Hanya Soal Kompetisi bagi Anak: Bisa Jadi Cara Seru Membangun Gaya Hidup Aktif
-
Studi Ungkap Mikroplastik Ditemukan di Dalam Tubuh Manusia, Bisa Picu Gangguan Pencernaan
-
Kebutuhannya Berbeda dengan Dewasa, Ini 5 Alasan Si Kecil Perlu ke Dokter Gigi Anak