Suara.com - Sampai sekarang, Ria Irawan masih menjalani pengobatan kanker getah beningnya yang sudah menyebar ke otak. Sebelumnya, Dewi Irawan memberi tahu bahwa Ria Irawan sudah terkena serangan kanker ketiga kalinya.
Dewi Irawan juga menceritakan bahwa adiknya, Ria Irawan memang masih aktif merokok sejak pertama kali didiagnosis kanker kelenjar getah bening.
Kebiasaan Ria Irawan merokok itulah yang membuat sel kankernya berkembang dan menyebar lebih cepat. Sehingga Ria Irawan sudah ketiga kalinya menjadi pengobatan kanker.
"Kali ke 3, kambuh lg , skrg ada di otak 3 titik dan 1 titik yg significant di paru2 ... Nunggu apa lg tuk berhenti rokok & vape ? Itu racun !!! Pls, jgn bandel deh," tulis Dewi Irawan di Instagram.
Seperti yang Anda ketahui, mengajak seseorang berhenti merokok adalah sesuatu yang sulit. Apalagi jika orang tersebut sudah kecanduan dan tetap tidak berhenti meski sakit parah.
Karena itu, penderita kanker yang merokok perlu mendapat perawatan khusus agar berhenti dari kebiasaan buruknya. Sebuah studi baru-baru ini menemukan bahwa hampir 46% penderita kanker berhenti merokok melalui program perawatan tembakau yang dirancang khusus.
Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) dilansir dari Medical News Today , merokok menyebabkan 480.000 kematian per tahun, atau sekitar 1 dari 5 kematian dini.
Dari kematian tersebut, 36% disebabkan oleh kanker , termasuk kanker paru-paru, mulut, kandung kemih, usus besar, dan pankreas; merokok berdampak pada hampir setiap organ dalam tubuh.
Begitu pula jika seseorang didiagnosis kanker tapi merasa sulit dan tidak bisa berhenti merokok. Kebiasaan ini akan memperburuk kondisinya.
Baca Juga: Rokok Buat Kanker Ria Irawan Makin Menyebar, Benarkah?
Studi baru-baru ini menyimpulkan bahwa program perawatan komprehensif dapat membantu orang yang didiagnosis dengan kanker berhenti merokok dengan sukses dan menjauh dari tembakau.
Para peneliti di MD Anderson Cancer Center di University of Texas di Austin menganalisis 3.245 perokok yang mengambil bagian dalam Program Perawatan Tembakau mereka dari 2006-2015.
Dalam penelitian itu peserta diminta terapi pengganti nikotin, pengobatan dan dukungan emosional melalui sesi konseling. Hasil analisisnya, peserta yang memutuskan berhenti merokok setelah 3, 6 dan 9 bulan bergabung mencapai 45,1 persen, 45,8 persen dan 43,7 persen.
Artinya, program khusus ini sangat penting bagi penderita kanker yang masih merokok agar berhenti. Karena, berhenti merokok bisa membantu tubuh lebih cepat pulih setelah perawatan, termasuk operasi dan kemoterapi.
Selain itu, berhenti merokok juga sangat mengurangi efek samping dari pengobatan kanker. Bahkan cara ini juga menurunkan risiko seseorang terserang kanker kedua kalinya.
Berita Terkait
-
Merokok, Pola Asuh Ayah, dan Persepsi Kesehatan Anak Lintas Generasi
-
Anime Chainsmoker Cat Resmi Diumumkan, Kisah Beastman Kucing Pecandu Rokok
-
Korban Penganiayaan Akibat Tegur Pasutri Merokok di Motor Tak Yakin Pelaku Sudah Ditahan
-
Larangan Jelas, Bahaya Nyata: Mengapa Pelanggaran Merokok saat Berkendara Terus Berulang?
-
Tegur Pengendara Merokok, Aldi Jadi Korban Pemukulan dan Desak Pelaku Segera Diproses Hukum
Terpopuler
- Rumor Cerai Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Memanas, Ini Pernyataan Tegas Sang Asisten Pribadi
- 5 Pelembap Viva Cosmetics untuk Mencerahkan Wajah dan Hilangkan Flek Hitam, Dijamin Ampuh
- 6 Sepeda Lipat Alternatif Brompton, Harga Murah Kualitas Tak Kalah
- Siapa Saja Tokoh Indonesia di Epstein Files? Ini 6 Nama yang Tertera dalam Dokumen
- 24 Nama Tokoh Besar yang Muncul di Epstein Files, Ada Figur dari Indonesia
Pilihan
-
Gempa Pacitan Guncang Jogja, 15 Warga Terluka dan 14 KA Berhenti Luar Biasa
-
Gempa M 4,2 Guncang Pacitan Terasa hingga Yogyakarta: 7 Orang Luka dan Sejumlah Bangunan Rusak
-
Hakim PN Depok Tertangkap Tangan Terima Ratusan Juta dari Swasta, KPK Lakukan OTT!
-
Hakim di PN Depok Tertangkap Tangan KPK, Diduga Terlibat Suap Ratusan Juta!
-
Eks Asisten Pelatih Timnas Indonesia Alex Pastoor Tersandung Skandal di Belanda
Terkini
-
Bukan Sekadar Timbangan: Mengapa Obesitas Resmi Jadi Penyakit Kronis di 2026?
-
Bayi Sering Gumoh? Umumnya Normal, Tapi Wajib Kenali Tanda Bahaya GERD
-
Melawan Angka Kematian Kanker yang Tinggi: Solusi Lokal untuk Akses Terapi yang Merata
-
Atasi Batuk Ringan hingga Napas Tidak Nyaman, Pendekatan Nutrisi Alami Kian Dipilih
-
Jangan Abaikan Kelainan Refraksi, Deteksi Dini Menentukan Masa Depan Generasi
-
Toko Sociolla Pertama di Sorong, Lengkapi Kebutuhan Kecantikan di Indonesia Timur
-
Awali 2026, Lilla Perkuat Peran sebagai Trusted Mom's Companion
-
Era Baru Kesehatan Mata: Solusi Tepat Mulai dari Ruang Dokter Hingga Mendapatkan Kacamata Baru
-
Dokter Ungkap: Kreativitas MPASI Ternyata Kunci Atasi GTM, Perkenalkan Rasa Indonesia Sejak Dini
-
Solusi Bijak Agar Ibu Bekerja Bisa Tenang, Tanpa Harus Mengorbankan Kualitas Pengasuhan Anak