Suara.com - Tidak semua wanita bisa langsung menyusui bayinya setelah melahirkan. Sekitar 15 persen wanita diketahui mengalami masalah laktasi setelah melahirkan.
Karena itu dilansir oleh The Sun, banyak donor ASI bermunculan untuk membantu ibu melahirkan yang ASI mereka belum lancar. Bahkan, sekarang banyak wanita menjual ASI melalui forum online.
Tapi, para ahli justru tidak menyarankan ibu melahirkan yang tidak menyusui membeli ASI secara online. Mereka memandang jual beli ASI online justru mengancam bayi tertular penyakit mematikan seperti hepatitis dan HIV.
Orangtua rentan membeli ASI yang kualitasnya sudah di bawah standar atau sudah terkontaminasi. Oleh karenanya, ASI berbahaya jika dikonsumsi bayi baru lahir.
Dalam posisi ini, pastinya orangtua akan mengalami kerugian besar jika membeli ASI online untuk anaknya. Artinya, mereka menempatkan anaknya pada risiko kematian atau cedera lain akibat mengonsumsi ASI sembarangan.
Apalagi ASI dapat menyebarkan penyakit menular atau infeksi bakteri, seperti Salmonella atau Streptococcus atau infeksi virus, seperti HIV.
Anda mungkin masih bisa membuktikan ASI terkontaminasi HIV atau tidak. Tetapi, mungkin Anda akan kesulitan membuktikan ASI yang rusak atau tidak sehat karena terkontaminasi virus dan bakteri.
Misalnya, salmonella yang disebarkan oleh hewan peliharaan, seperti reptil dan makanan rumah tangga biasa (ayam dan telur).
Belum lagi jika anak mengalami kejang-kejang akibat mengonsumsi ASI yang mengandung kokain. Karena itu, bayi tidak bisa sembarangan minum ASI yang belum dipasteurisasi.
Baca Juga: Rebus Kulit Pisang 10 Menit Lalu Minum, Rasakan 5 Manfaatnya pada Tubuh!
Pada intinya, praktik jual beli ASI online ini belum memberikan kepastian mengenai keamanannya dan tidak dilindungi oleh kerangka hukum.
Berita Terkait
Terpopuler
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- 6 Fakta Mencekam Pembacokan di UIN Suska Riau: Pelaku Sempat Sandera Korban di Ruang Seminar
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- Apakah Jateng Tak Punya Gubernur? Ketua TPPD: Buktinya Pertumbuhan Ekonomi Jateng Nomor Dua di Jawa
- Habiburokhman Ngamuk di DPR, Perwakilan Pengembang Klaster Vasana Diusir Paksa Saat Rapat di Senayan
Pilihan
-
Perang Meluas di Timur Tengah: Iran Hantam Arab Saudi, Bahrain, Qatar, Kuwait dan Uni Emirat Arab
-
Iran Bom Markas Besar Angkatan Laut AS! Lalu Tembakkan 75 Rudal ke Israel
-
Sabtu Pagi Teheran Dibom, Sabtu Sore Iran Langsung Kirim Rudal ke Israel
-
Kedubes Iran di Indonesia Kecam Serangan AS-Israel, Sebut Pelanggaran Berat Piagam PBB
-
'Labbaik Ya Hussein', TV Iran Siarkan Lagu Perang, Siap Balas Serangan AS dan Israel
Terkini
-
Presisi dan Personalisasi: Arah Baru Perawatan Kanker di Asia Tenggara
-
Lonjakan Kasus Kanker Global, Pencegahan dengan Bahan Alami Kian Dilirik
-
Cara Memilih dan Memakaikan Popok Dewasa untuk Cegah Iritasi pada Lansia
-
5 Fakta Keracunan MBG Cimahi: Pengelola Minta Maaf, Menu Ini Diduga Jadi Penyebab
-
4 Penjelasan Sains Puasa Membantu Tubuh Lebih Sehat: Autofagi, Insulin dan Kecerdasan
-
Mendampingi Anak Gamer: Antara Batasan, Keamanan, dan Literasi Digital
-
Selamat Tinggal Ruam! Rahasia Si Kecil Bebas Bergerak dan Mengeksplorasi Tanpa Batasan Kenyamanan
-
Tantangan Penanganan Kanker di Indonesia: Edukasi, Akses, dan Deteksi Dini
-
Virus Nipah Mengintai: Mengapa Kita Harus Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia?
-
Transformasi Layanan Kesehatan Bawa Semarang jadi Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia