Suara.com - Kasus virus corona Wuhan semakin berkembang. Menurut laporan CBS News, setidaknya ada 17.205 kasus infeksi di seluruh dunia dan 361 kasus kematian pada Minggu (2/2/2020).
Dari semua pasien yang terinfeksi, sebagian besar adalah orang dewasa. Mengapa demikian?
Sebuah makalah yang diterbitkan dalam New England Journal of Medicine pada Kamis (30/1/2020) menganalisis 425 orang pertama di Wuhan yang terinfeksi virus.
Dari studi ini, peneliti menemukan pasien yang terinfeksi tidak ada yang lebih muda dari usia 15 tahun. Usia rata-rata pasien adalah 59 dan orang termuda yang meninggal masih berusia 36 tahun.
Satu-satunya anak kecil yang selama ini positif terinfeksi adalah seorang bayi berusia 9 bulan di Beijing.
Ternyata, hal ini juga terjadi saat wabah SARS pada 2003 lalu, kata dr. Mark Denison, seorang spesialis penyakit menular anak-anak di Vanderbilt University School of Medicine.
Infeksi SARS kurang umum di antara anak-anak daripada orang dewasa. Saat itu, anak berusia di bawah 13 tahun memiliki gejala yang jauh lebih sedikit daripada orang dewasa.
Menurut Denison, hal ini disebabkan oleh sel anak yang mungkin kurang ramah terhadap virus. Membuat virus sulit bereplikasi dan menularkan ke orang lain.
Peneliti studi ini pun menuliskan bahwa mungkin saja anak terinfeksi virus, namun gejala mereka akan lebih ringan dibandingkan orang dewasa.
Baca Juga: Rapat dengan Menkes, Komisi IX Bahas Pencegahan dan Penanganan Virus Corona
Denison mengatakan ini sesuai dengan perilaku penyakit yang disebabkan oleh virus.
"Secara evolusi, kita dirancang untuk terpapar hal-hal seperti ini saat masih kanak-kanak, dan kemudian kita akan memiliki kekebalan tubuh (terhadap virus tersebut)," ujar Denison, dilansir Time.
Sharon Nachman, seorang spesialis penyakit menular anak di Rumah Sakit Anak Stony Brook, di Stony Brook, NY, menambahkan bahwa lingkungan dapat membantu anak-anak dalam memerangi virus.
"Mereka ada di sekolah dan tempat penitipan anak. Mereka berada dalam lingkungan yang mudah menularkan penyakit. Mungkin ada beberapa sistem imun dari virus corona (yang dibangun tubuh anak), tapi itu tidak bertahan lama," ujar Sharon.
Tapi, Denison tetap menekankan bahwa ini bukan berarti anak-anak tidak dapat terinfeksi dan menularkannya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
- 4 AC Hemat Listrik untuk Rumah Daya Listrik 450 VA, Pilihan Terbaik agar Tidak Jeglek
Pilihan
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
Terkini
-
Sering Menatap Layar? Waspadai Miopia dan Mata Silinder yang Kini Banyak Menyerang Usia Produktif
-
El Nino dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Mengapa Kita Harus Lebih Waspada?
-
Penyakit Jantung Tak Menunggu Tua: Ini Strategi Proteksi di Tengah Lonjakan Biaya Medis
-
WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global
-
Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental
-
Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!
-
Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens
-
Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?
-
Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak
-
Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh