Suara.com - Klorokuin, hidroksiklorokuin dan azitromisin kini digunakan sebagai obat Covid-19. Namun demikian, peneliti mengungkap terdapat bukti yang lemah untuk keefektifannya, dan dokter serta pasien harus waspada terhadap kemungkinan efek samping serius obat.
Demikian kata sebuah ulasan dalam Canadian Medical Association Journal.
"Dokter dan pasien harus mewaspadai beberapa efek samping yang jarang tetapi berpotensi mengancam jiwa dari klorokuin dan hidroksi klorokuin," kata Dr. David Juurlink, Divisi Farmakologi dan Toksikologi Klinis, Pusat Ilmu Kesehatan Sunnybrook, dan ilmuwan senior di ICES, dilansir dari Medical Express.
Efek samping potensial obat di atas meliputi:
- Aritmia jantung
- Hipoglikemia
- Efek neuropsikiatri, seperti agitasi, kebingungan, halusinasi, dan paranoia
- Interaksi dengan obat lain
- Variabilitas metabolik (beberapa orang memetabolisme klorokuin dan hydroxychloroquine dengan buruk dan sebagian kecil memetabolisme mereka dengan cepat, yang mempengaruhi respons terhadap pengobatan)
- Overdosis (klorokuin dan hidroksi klorokuin sangat beracun dalam overdosis dan dapat menyebabkan kejang, koma, dan henti jantung )
- Kekurangan obat (pasien dengan gangguan autoimun seperti rheumatoid arthritis, lupus dan penyakit kronis lainnya, yang menggunakan hidroksi klorokuin untuk mengobati kondisi ini dapat mengalami masalah dalam mengakses obat ini)
Sejenis klorokuin yang digunakan sebagai bagian dari pengobatan pasien Covid-19 di Prancis pada Februari 2020. [AFP/Gerard Julien]
Tinjauan ini merangkum rendahnya kualitas bukti yang menunjukkan bahwa perawatan ini mungkin bermanfaat pada pasien corona Covid-19. Sekaligus memperingatkan bahwa ada kemungkinan perawatan dengan obat ini dapat memperburuk penyakit.
"Meskipun ada optimisme (dalam beberapa, bahkan antusiasme) untuk potensi klorokuin atau hidroksi klorokuin dalam pengobatan Covid-19, sedikit pertimbangan telah diberikan pada kemungkinan bahwa obat-obatan tersebut dapat secara negatif memengaruhi perjalanan penyakit," kata Dr. Juurlink.
"Inilah sebabnya mengapa kita membutuhkan basis bukti yang lebih baik sebelum secara rutin menggunakan obat ini untuk mengobati pasien dengan corona Covid-19," jelasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Mobil Bekas 50 Jutaan Cocok untuk Milenial, Bodi Stylish Tak Repot Perawatan
- 5 Moisturizer dengan Alpha Arbutin untuk Memudarkan Flek Hitam, Cocok Dipakai Usia 40-an
- 5 Rekomendasi Ban Tubeless Motor Matic, Tidak Licin saat Hujan dan Jalan Berpasir
- 7 Mobil Boros Bahan Bakar Punya Tenaga Kuda, Tetapi Banyak Peminatnya
- Kronologi Lengkap Petugas KAI Diduga Dipecat Gara-Gara Tumbler Penumpang Hilang
Pilihan
-
Dirumorkan Latih Indonesia, Giovanni van Bronckhorst Tak Direstui Orang Tua?
-
Jadi Kebijakan Progresif, Sineas Indonesia Ingatkan Dampak Ekonomi LSF Hapus Kebijakan Sensor Film
-
Daftar Maskapai RI yang Pakai Airbus A320
-
5 Tempat Ngopi Tersembunyi di Palembang yang Bikin Ketagihan Sejak Seduhan Pertama
-
6 HP 5G Paling Murah di Bawah Rp 4 Juta, Investasi Terbaik untuk Gaming dan Streaming
Terkini
-
Waspada! Obesitas Dewasa RI Melonjak, Kenali Bahaya Lemak Perut yang Mengintai Nyawa
-
Kota Paling Bersih dan Sehat di Indonesia? Kemenkes Umumkan Penerimanya Tahun Ini
-
Dari Flu hingga Hidung Tersumbat: Panduan Menenangkan Ibu Baru Saat Bayi Sakit
-
Hasil Penelitian: Nutrisi Tepat Sejak Dini Bisa Pangkas Biaya Rumah Sakit Hingga 4 Kali Lipat
-
Cegah Bau Mulut akibat Celah Gigi Palsu, Ini Penjelasan Studi dan Solusi untuk Pengguna
-
Stop Jilat Bibir! Ini 6 Rahasia Ampuh Atasi Bibir Kering Menurut Dokter
-
Alarm Kesehatan Nasional: 20 Juta Warga RI Hidup dengan Diabetes, Jakarta Bergerak Melawan!
-
Panduan Memilih Yogurt Premium untuk Me-Time Sehat, Nikmat, dan Nggak Bikin Bosan
-
Radang Usus Kronik Meningkat di Indonesia, Mengapa Banyak Pasien Baru Sadar Saat Sudah Parah?
-
Stop Diet Ketat! Ini 3 Rahasia Metabolisme Kuat ala Pakar Kesehatan yang Jarang Diketahui