Suara.com - Ilmuwan China Ungkap Alasan Covid-19 Sulit Dimusnahkan Secara Total
Sejumlah ilmuwan telah memprediksi tentang perkembangan terkini virus corona atau Covid-19. Belum lama ini, ilmuwan top China mengatakan virus ini tidak akan bisa dieradikasi atau dimusnahkan total.
Pendapat itu mendukung kemungkinan bahwa virus tu akan kembali dalam gelombang seperti flu. Ini lantaran virus itu telah menginfeksi orang dengan tanpa gejala.
Kelompok asimptomatik ini membuat sulit untuk sepenuhnya memutus virus karena mereka tidak bergejala. Demikian ungkap sekelompok peneliti virus dan China seperti dilansir dari Times of India.
Saat SARS dahulu, mereka yang terinfeksi menjadi sakit parah. Begitu mereka dikarantina dari yang lain, virus itu berhenti menyebar. Sebaliknya, China masih menemukan lusinan kasus virus corona yang tidak bergejala setiap hari meskipun mengendalikan epidemi.
"Ini sangat mungkin menjadi epidemi yang hidup berdampingan dengan manusia untuk waktu yang lama, menjadi musiman dan berkelanjutan dalam tubuh manusia," kata Jin Qi, direktur Institute of Pathogen Biology di China.
Anthony Fauci, direktur Institut Alergi dan Penyakit Menular Nasional AS, mengatakan bulan lalu bahwa Covid-19 dapat menjadi penyakit musiman seperti yang dibuktikan oleh kasus-kasus yang sekarang muncul di negara-negara di belahan bumi selatan yang terlambat memasuki musim dingin.
Sementara itu, beberapa orang, termasuk Presiden A.S. Donald Trump telah menyatakan harapan bahwa penyebaran virus akan melambat ketika suhu di negara-negara belahan bumi utara meningkat pada musim panas. Namun, para ahli China pada hari Senin mengatakan bahwa mereka tidak menemukan bukti untuk ini.
"Virus ini peka terhadap panas, tetapi saat itulah ia terpapar 56 derajat Celcius selama 30 menit dan cuaca tidak akan pernah sepanas itu," kata Wang Guiqiang, kepala departemen penyakit menular Rumah Sakit Pertama Universitas Peking.
Baca Juga: Hoaks Corona Capai 101 Kasus, Motifnya Tak Puas dengan Pemerintah dan Iseng
"Jadi secara global, bahkan selama musim panas, kemungkinan kasus turun secara signifikan kecil."
Berita Terkait
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- Urutan Skincare Wardah Pagi dan Malam untuk Wajah Bercahaya
Pilihan
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
-
Serangan Mematikan Rusia Jelang Gencatan Senjata, 26 Warga Ukraina Tewas
Terkini
-
Pemulihan Optimal Setelah Operasi Dimulai dari Asupan Nutrisi yang Tepat
-
Diet Vegan Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca Hingga 55 Persen, Apa Buktinya?
-
Lebih dari Sekadar Nutrisi, Protein Jadi Kunci Hidup Aktif dan Sehat
-
Kisah Dera Bantu Suami Melawan Penyakit GERD Melalui Pendekatan Holistik
-
Dari Antre Panjang ke Serba Cepat, Smart Hospital Ubah Cara Rumah Sakit Layani Pasien
-
Berat Badan Tak Kunjung Naik? Susu Flyon Jadi Salah Satu Solusi yang Dilirik
-
Lebih Banyak Belum Tentu Lebih Baik: Fakta Mengejutkan di Balik Kebiasaan Konsumsi Suplemen Anda
-
Nyeri Lutut pada Perempuan Tak Boleh Dianggap Sepele, Mesti Waspada Hal Ini
-
Olahraga Bukan Hanya Soal Kompetisi bagi Anak: Bisa Jadi Cara Seru Membangun Gaya Hidup Aktif
-
Studi Ungkap Mikroplastik Ditemukan di Dalam Tubuh Manusia, Bisa Picu Gangguan Pencernaan