Suara.com - Setiap tanggal 5 Juni, kita memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia atau World Environment Day (WED). Tahun ini, tema yang diusung adalah 'Time for Nature' dengan fokus pada 'Keanekaragaman Hayati' atau biodiversity.
Selain menjadi sumber daya, alam juga dapat kita nikmati. Sebuah studi menunjukkan, kecintaan dengan alam dapat meningkatkan kebahagiaan secara keseluruhan.
Dalam studi 2017, paparan ruang terbuka hijau dapat mengurangi depresi, kecemasan dan risiko kesehatan seperti tekanan darah tinggi, obesitas, serta diabetes.
Bahkan, dokter telah menyarankan untuk mengunjungi taman kepada anak-anak yang kelebihan berat badan dan remaja yang depresi.
Sebuah studi baru yang terbit dalam Scientific Reports, jurnal peer-review dari Nature Research menemukan, untuk mendapatkan manfaat kesehatan dari alam, jumlah waktu yang optimal untuk dihabiskan di ruang hijau (seperti taman kota, hutan, atau pantai) adalah dua jam per minggu.
Hasil ini didapat dari survei pemerintah yang meminta 20.000 peserta yang berbasis di Inggris untuk melacak kegiatan mereka selama seminggu.
Peserta yang setidaknya menghabiskan waktu dua jam di alam melaporkan kesehatan dan kesejahteraan yang lebih baik dibandingkan mereka yang tidak.
Data juga menunjukkan, setelah sekitar 200 hingga 300 menit berada di alam, manfaat positif terhadap kesehatan meningkat, tetapi menghabiskan lebih dari lima jam per minggu di alam tidak memiliki manfaat lainnya.
Dilansir CNBC, ambang batas dua jam ini konsisten di semua kelompok sampel, terlepas dari jenis kelamin, usia, lokasi tinggal, atau kelas sosial.
Baca Juga: Menilik Pantai Alam Indah, Wisata di Tegal yang Pertama Lakukan New Normal
"Bahkan mereka yang memiliki penyakit jangka panjang lebih mungkin melaporkan kesehatan dan kesejahteraan yang lebih baik jika mereka menghabiskan 120 menit seminggu di alam," kata Mathew White, seorang dosen senior di bidang psikologi lingkungan di University of Exeter.
Para penulis berharap temuan mereka akan mendorong pemerintah untuk mempertimbangkan manfaat dari kesehatan yang berharga dari alam ketika melibatkan ruang hijau dan membangun infrastruktur baru.
"Akses ke sebagian besar taman dan ruang hijau itu gratis, sehingga anggota masyarakat yang paling miskin, dan seringkali paling tidak sehat, memiliki akses yang sama untuk kesehatan dan kesejahteraan mereka. Kami berharap bukti seperti milik kami akan membantu menjaga mereka tetap seperti itu," lanjutnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 55 Kode Redeem FF Max Terbaru 18 Maret 2026: Raih Pulsa, Skin Trogon Rose, dan Diamond
- 7 HP Baru 2026 Paling Murah Jelang Lebaran, Spek Gahar Mulai Rp1 Jutaan
- Ratusan Warga Cianjur Gagal Rayakan Lebaran Gara-gara Kena Tipu Paket Sembako Bodong
- Lebaran 2026 Tanggal Berapa? Cek Jadwal Idulfitri Pemerintah, NU, Muhammadiyah, dan Negara Lain
- Update Posisi Hilal Jelang Idulfitri, Ini Prediksi Lebaran 2026 Pemerintah dan NU
Pilihan
-
Serangan AS-Israel di Malam Takbiran Tewaskan Jubir Garda Revolusi Iran
-
Mencekam! Jirayut Terjebak Baku Tembak di Thailand
-
Pak Menteri Siap Potong Gaji? Siasat Prabowo Hadapi Krisis Global Contek Pakistan
-
Kabar Duka! Pemilik Como 1907 Sekaligus Bos Djarum Meninggal Dunia
-
Resmi! Hasil Sidang Isbat Pemerintah Tetapkan Idulfitri 1447 H Jatuh pada Sabtu 21 Maret 2026
Terkini
-
Pentingnya Edukasi Menstruasi untuk Remaja Perempuan, Kunci Sehat dan Percaya Diri Sejak Dini
-
Jaga Hidrasi Saat Ramadan, Ini Pentingnya Menjaga Ion Tubuh di Tengah Mobilitas Tinggi
-
Waspada Makan Berlebihan Saat Lebaran: 5 Tips Cerdas Nikmati Opor Tanpa Gangguan Pencernaan!
-
Ancaman Senyap di Rumah: Mengapa Kualitas Udara Buruk Sebabkan Bronkopneumonia pada Anak?
-
Tips Mudik Aman untuk Pasien Gangguan Irama Jantung
-
Jangan Abaikan Kesehatan Saat Mudik, Ini Tips Agar Perjalanan Tetap Nyaman
-
Pelangi di Mars Tayang Jelang Lebaran, Film Anak yang Ajarkan Berani Bermimpi
-
Cedera Lutut hingga Bahu Paling Banyak Dialami Atlet dan Penggemar Olahraga
-
Jelang Lebaran, Korban Banjir Aceh Tamiang Dibayangi ISPA hingga Diare: Imunitas Harus Diperhatikan
-
Deteksi Dini dan Kebijakan Ramah Lingkungan: Solusi Terpadu untuk Menangani Penyakit Ginjal