Suara.com - Ibu hamil disarankan untuk melakukan pemeriksaan hepatitis B. Jika ditemukan hasilnya positif terinfeksi dan memiliki tingkat HBV (hepatitis B virus) yang tinggi dalam darah atau viral load HBV, maka ibu hamil harus menjalani terapi antivirus preventif.
Anjuran itu berdasarkan rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yang menyarankan agar terapi antivirus preventif dilakukan dengan tenofovir dari usia kehamilan 28 minggu sampai waktu kelahiran.
"Obat antivirus, tenofovir, tersedia dengan biaya rendah di banyak negara di dunia dengan harga kurang dari US $ 3 (Rp 43.600) per bulan," dikutip dari situs resmi WHO, Selasa (28/7/2020).
Dalam proses pemeriksaan, jika tes viral load HBV tidak tersedia, WHO merekomendasikan penggunaan tes biaya rendah alternatif (HBeAg) untuk menentukan apakah ibu hamil memenuhi syarat untuk terapi antivirus pencegahan.
Menurut WHO, tes rutin infeksi HBV ibu hamil serta rutin imunisasi hepatitis B terhadap bayi menjadi langkah yang efektif dalam mencegah penularan hepatitis B dari ibu ke anak.
“Menghentikan penularan vertikal HBV adalah tujuan utama dari prakarsa global yang berupaya menghilangkan penularan tiga infeksi dari ibu ke anak yang lazim terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah, yaitu HIV, sifilis dan hepatitis B virus,” kata Direktur Global HIV, Program Hepatitis dan IMS, Dr. Meg Doherty.
Doherty beranggapan, memutus penularan HBV dari ibu ke bayi menjadi langkah penting untuk mencapai target strategi hepatitis global. WHO menargetkan infeksi hepatitis B bisa berkurang hingga 90 persen dan kematian menurun sampai 65 persen dibandingkan dengan tahun 2015.
Namun, akibat pandemi Covid-19, disebutkan hal ini dapat menghambat proses penurunan jumlah infeksi HBV. Menurut sebuah studi pemodelan baru yang dilakukan oleh Imperial College London bekerja sama dengan WHO, gangguan pada program vaksinasi hepatitis B akibat pandemi dapat berdampak serius pada upaya untuk mencapai target strategi global.
Akibat tingkat gangguan yang tinggi, baik dari angka kelahiran dan imunisasi HBV masa kanak-kanak, serta penundaan dan memperlambat pemulihan dalam perluasan program vaksinasi, akan ada proyeksi 5,3 juta infeksi HBV kronis tambahan di antara anak-anak yang lahir pada rentang tahun 2020-2030.
Baca Juga: Virus Hepatitis Bisa Ditularkan Melalui Aktivitas Sehari-Hari, Apa Saja?
Selain itu, 1 juta kematian terkait HBV diperkirakan bisa terjadi pada anak-anak di kemudian hari. Sehingga, lalai dalam melakukan proses pencegahan HBV baru akan memiliki dampak yang jangka pada kehidupan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- 5 HP Memori 256 GB Harga di Bawah Rp2 Juta, Bisa Simpan Ribuan File dan Gaming
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- 3 Rekomendasi Bedak Padat di Indomaret untuk Makeup Halus dan Tahan Lama
- 4 HP Murah Terbaru 2026 untuk Anak Sekolah: Baterai 7000 mAh hingga Koneksi 5G
Pilihan
-
Korban Meninggal Latsarmil SPPI Bertambah Menjadi 5 Orang, Ini Penjelasan Kemhan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
Terkini
-
World Allergy Week 2026: Saatnya Ubah Sudut Pandang Soal Alergi Susu Sapi pada Anak
-
Festival Keluarga Kimomby 2026 Resmi Diluncurkan, Jawab Kebutuhan Orang Tua Modern
-
Dokter Ungkap Bahaya Mata Juling yang Kerap Tak Disadari Orang Tua
-
Jangan Terlalu Melarang! Psikolog Ungkap Pentingnya Anak Bermain Bebas Saat Liburan
-
Sering Menatap Layar? Waspadai Miopia dan Mata Silinder yang Kini Banyak Menyerang Usia Produktif
-
El Nino dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Mengapa Kita Harus Lebih Waspada?
-
Penyakit Jantung Tak Menunggu Tua: Ini Strategi Proteksi di Tengah Lonjakan Biaya Medis
-
WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global
-
Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental
-
Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!