Suara.com - Menyusi atau memberikan Air Susu Ibu (ASI) pada anak telah diketahui memiliki banyak manfaat bagi keduanya. Tapi, yang tidak banyak diketahui, bahwa menyusui juga bisa membantu menyelamatkan bumi. Kok Bisa?
Dikutip dari ANTARA, Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan Kirana Pritasari menjelaskan, ibu yang menyusui anaknya dengan ASI (air susu ibu) tidak memerlukan susu formula yang bisa berdampak buruk pada lingkungan. Bukan hanya dalam proses pembuatan, tapi juga pendistribusian produk susu tersebut.
Kirana menyebutkan bahwa 720.450 ton susu formula yang digunakan di enam negara Asia menghasilkan 2,9 juta ton emisi gas rumah kaca. Jumlah yang dihasilkan dari buangan produk susu formula tersebut setara dengan 1,03 juta ton sampah.
Selain itu, diperkirakan lebih dari 4.000 liter air dibutuhkan untuk memproduksi tiap satu kilogram susu bubuk formula pengganti ASI.
Mendukung argumentasi tersebut, Ahli gizi dari Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) Entos Zainal menjelaskan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan dan dilanjutkan hingga usia dua tahun lebih ekonomis.
Ia mengungkapkan bahwa orangtua tidak perlu membeli susu formula. Bahkan dia menyebut bayi usia nol sampai enam bulan sebenarnya tidak memerlukan biaya tambahan untuk kebutuhan gizinya karena sudah tercukupi hanya dengan ASI.
Sementara itul, Ketua Asosiasi Ibu Menyusui (Aimi) Nia Umar menjelaskan bahwa ASI adalah sumber makanan yang sangat murah dan ramah lingkungan sehingga sangat membantu dalam membangun bumi yang sehat.
"Menyusui tidak meninggalkan limbah apapun. Sangat berbeda dan susu formula," kata Nia.
Dia menjelaskan proses produksi hingga distribusi susu formula menghasilkan limbah dari pabrik, menggunakan bahan bakar yang menghasilkan emisi saat proses transportasi pendistribusian, penggunaan gas di rumah untuk memasaknya, dan juga sampah dari kemasan susu formula itu sendiri.
Baca Juga: Di Tengah Pandemi Covid-19, Amankah Inisiasi Menyusi Dini Dilakukan?
Sebagai informasi, tema Pekan Menyusui Sedunia yang mengangkat tema Ibu Terlindungi, Anak Kuat, Bumi Sehat mengajak agar para ibu tidak membeli dan memberikan susu formula pada anak-anaknya.
Sebelumnya, Instagram Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) juga sempat menguggah berbagai manfaat dari menyusui. Berikut ini beberapa di antaranya:
1. Menyusui salah satu hak setiap anak
Pemenuhan kebutuhan Air Susu Ibu atau ASI eksklusif 6 bulan, kemudian dilanjutkan selama masa MPASI hingga usia 2 tahun, merupakan upaya pemenuhan hak anak untuk tumbuh dan berkembang optimal.
2. Penting untuk perkembangan otak
ASI memiliki kandungan asam lemak tak jenuh ganda yang tinggi, sebagai nutrisi penting untuk perkembangan otak. Pada bulan-bulan pertama kehidupannya bayi belum dapat memproduksi asam lemak ini sehingga sangat tergantung dari ASI sebagai sumbernya.
3. Jumlah ASI ditentukan dari ukuran payudara ibu
Jumlah ASI yang dapat dihasilkan tidak tergantung dari ukuran payudara. Seorang ibu dengan payudara kecil tetap dapat menghasilkan ASI sebanyak atau bahkan lebih banyak dari ibu yang payudaranya lebih besar.
4. Penurunan berat badan di awal kelahiran bukan karena kebutuhan bayi tidak tercukupi
Bayi ASI atau bukan ASI akan mengalami penurunan berat badan di hari-hari pertama setelah lahir. Hal itu tidak perlu dikhawatirkan. Berat badan bayi ASI pada umumnya tidak turun melebihi 7 persen berat lahir pada 72 jam pertama dan secara keseluruhan tidak melebihi 10 persen berat lahir. Pada usia 2 minggu berat bayi diharapkan sudah kembali mencapai berat lahirnya.
5. Menyusui langsung akan mendapat lebih banyak keuntungan
Menyusui langsung dari payudara memberikan lebih banyak keuntungan dibanding ASI perah. Bayi yang mengonsumsi ASI perah kehilangan peluang "melengkapi" koloni kuman baik dari permukaan areola dan puting ibu, serta tidak mendapat kesempatan "memesan" komposisi ASI melalui sinyal di saliva (air liur) seperti yang dilakukan bayi saat menyusu di payudara ibu.
6. ASI membentuk zat imun bayi
Kontribusi ASI sebagai zat imun sejak awal kehidupan bayi sangat besar, terutama berasal dari imunoglobulin A yang berlimpah dalam kolostrum, komponen oligosakarida (HMOs), dan sitokin TGF-β. Ketiganya melindungi bayi yang disusui dari infeksi dan alergi, dengan cara menyeimbangkan lingkungan mikroba saluran cerna, meredakan peradangan dan membantu berkembangnya toleransi imun.
Berita Terkait
Terpopuler
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
- Sepatu Lari Cocok untuk Jalan Kaki? Ini 3 Sepatu Terbaik Menurut Pakar Beserta Harganya
- 5 Sunscreen Lokal untuk Hempas Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harganya
Pilihan
-
674 Korban Kebakaran Kemayoran Mengungsi, Posko Bantuan dan Layanan Kesehatan Disiagakan
-
Kebakaran Kemayoran: Ratusan KK Terdampak, Korban Dievakuasi ke RS Hermina
-
Atma Jaya Yogyakarta Temukan Empat Mahasiswa Terlibat Kasus Riset AI, Kampus Siapkan Sanksi
-
Prabowo: Kalau Kita Lapar, Tidak Ada Bangsa Lain yang Kasihan dan Bantu
-
Prabowo Tabuh Genderang Perang: Kita Lawan Kelompok Anti Tanah Air
Terkini
-
Bukan Sekadar Kenyang, Ahli Gizi Ingatkan Pentingnya Nutrisi Seimbang untuk Menjaga Kualitas Hidup
-
Waspada! Ini Tanda Kelebihan Vitamin B6, dari Kesemutan hingga Kerusakan Saraf
-
Fakta Kanker Payudara yang Jarang Dibahas: Harapan Baru dan Pentingnya Skrining
-
Perempuan Hadapi Dampak Lebih Besar dari Gelombang Panas Ekstrem
-
Cara Memilih Susu Formula, Ini 5 Kriteria yang Perlu Diperhatikan Orang Tua
-
Bikin Khawatir, Biaya Kesehatan Makin Mahal: Apa yang Harus Kita Lakukan?
-
Ribuan Bayi Lahir dengan Talasemia Tiap Tahun, Skrining Dini Semakin Mendesak
-
Ritme Sirkadian dan Usus Saling Terhubung, Begadang Bisa Ganggu Pencernaan
-
Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern
-
Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian