Suara.com - Hasil awal dari uji coba vaksin virus corona potensial dari Rusia tidak menunjukkan efek samping negatif yang besar, menurut sebuah penelitian yang terbit dalam jurnal medis The Lancet, Jumat (4/9/2020).
Dokter yang terlibat dalam uji coba melakukan dua studi fase 1/2 terbuka dan tidak acak di rumah sakit di Rusia pada 76 sukarelawan sehat berusia 18 hingga 60 tahun.
Ia menambahkan, formulasi dari vaksin yang diuji aman dan dapat ditoleransi dengan baik.
“Dua uji coba 42 hari, termasuk 38 orang dewasa yang sehat, tidak menemukan efek samping yang serius di antara peserta, dan memastikan bahwa kandidat vaksin memperoleh respons antibodi,” tulis penulis penelitian, dilansir CNBC.
Menurutnya, uji coba panjang yang besar, termasuk dengan perbandingan plasebo. Pemantauan lebih lanjut juga diperlukan untuk menetapkan keamanan jangka panjang dan efektivitas vaksin untuk mencegah infeksi Covid-19.
Sputnik V
Vaksin yang dijuluki Sputnik V di Rusia ini menjadi yang pertama didaftarkan setelah disetujui oleh regulator kesehatan negara itu bulan lalu.
Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan bahwa produksi vaksin skala penuh akan dimulai pada September.
Namun, kabar ini justru menuai kritik dari ilmuwan di seluruh dunia tentang keamanan dan kemanjurannya. Tapi terbitan The ini menandai bahwa uji coba 'tervalidasi' aman.
Baca Juga: Anies: Pakai Masker Itu Tidak Nyaman, Tapi Lebih Baik daripada Kena Corona
“Kami memiliki banyak minat pada vaksin Rusia, (dengan) publikasi di Lancet, yang merupakan salah satu majalah utama Barat tentang kedokteran,” kata Kirill Dmitriev, kepala dana kekayaan kedaulatan Rusia RDIF.
“Sangat penting untuk berbagi informasi dengan dunia. Hasilnya sangat bagus tetapi pada dasarnya penelitian menunjukkan ada respon antibodi dan kekebalan sel yang sangat kuat," sambungnya.
Ia menjelaskan bahwa saat ini sedang dilakukan 40.000 uji klinis di Rusia yang dimulai akhir Agustus. Fase ini juga akan dilakukan di UAE, Arab Saudi, Filipina dan negara lainnya.
"Tidak hanya tersedia di Rusia, tetapi juga di negara-negara utama lainnya sekitar November," tandasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Hadir ke Cikeas Tanpa Undangan, Anies Baswedan Dapat Perlakuan Begini dari SBY dan AHY
- 7 Rekomendasi Bedak Tabur yang Bagus dan Tahan Lama untuk Makeup Harian
- 30 Kode Redeem FF 25 Maret 2026: Klaim Bundle Panther Gratis dan Skin M14 Sultan Tanpa Top Up
- 5 Rekomendasi HP Samsung Terbaru Murah dengan Spek Gahar, Mulai Rp1 Jutaan
- 10 Potret Rumah Baru Tasya Farasya yang Mewah, Intip Detail Interiornya
Pilihan
-
Mengamuk! Timnas Indonesia Hantam Saint Kitts dan Nevis Empat Gol
-
Skandal Rudapaksa Turis China di Bali: Pelaku Ditangkap Saat Hendak Kembalikan iPhone Korban!
-
Arus Balik Susulan, 14 Ribu Kendaraan Diprediksi Lewat GT Purwomartani Sabtu Ini
-
Fokus Timnas Indonesia, John Herdman Ogah Ikut Campur Polemik Paspor Dean James
-
Video Jusuf Kalla di Pesawat Menuju Iran adalah Hoaks
Terkini
-
Dokter Muda di Cianjur Meninggal Akibat Campak, Kemenkes Lakukan Penyelidikan Epidemiologi
-
Madu Herbal untuk Daya Tahan Tubuh: Kenali Manfaat dan Perannya bagi Kesehatan
-
Kenali Manfaat Injeksi Vitamin C untuk Daya Tahan dan Kesehatan Kulit
-
Sering Sakit Kepala? Ini Ciri-Ciri yang Mengarah ke Tumor Otak
-
Pentingnya Edukasi Menstruasi untuk Remaja Perempuan, Kunci Sehat dan Percaya Diri Sejak Dini
-
Jaga Hidrasi Saat Ramadan, Ini Pentingnya Menjaga Ion Tubuh di Tengah Mobilitas Tinggi
-
Waspada Makan Berlebihan Saat Lebaran: 5 Tips Cerdas Nikmati Opor Tanpa Gangguan Pencernaan!
-
Ancaman Senyap di Rumah: Mengapa Kualitas Udara Buruk Sebabkan Bronkopneumonia pada Anak?
-
Tips Mudik Aman untuk Pasien Gangguan Irama Jantung
-
Jangan Abaikan Kesehatan Saat Mudik, Ini Tips Agar Perjalanan Tetap Nyaman