Suara.com - Pandemi Covid-19 meningkatkan risiko hipertensi atau tekanan darah tinggi akibat beban kerja semakin berat yang memicu stres, dan gaya hidup tidak aktif hanya di dalam rumah saja.
Hipertensi adalah kondisi ketika tekanan darah meningkat di atas normal atau lebih dari 130/mmHG.
Inilah sebabnya alat pengukur tekanan darah atau alat tensi (tensimeter) perlu dimiliki untuk memantau dan mengontrol hipertensi yang akan mencegah sakit jantung, stroke, hingga gagal ginjal.
Sayangnya, hasil penelitian JETRO Survey and OHQ Market di 2019 menunjukkan kepemilikan alat tensi di Indonesia jumlahnya masih sangat sedikit, sebagaimana yang diungkap Herry Hendrayadi, Marketing Manager OMRON Healthcare Indonesia.
"Memang awareness (pengetahuan) alat tekanan darah itu masih cukup rendah di Indonesia. Kita lihat dibandingkan negara Asia lainnya, di Indonesia kepemilikan dari alat tensimeter masih cukup rendah dibandingkan negara yang lain," ujar Herry dalam acara virtual OMRON, Kamis (3/6/2021).
Dalam survei tersebut menunjukkan dari 43 pasien dengan hipertensi di Jepang, kepemilikan alat tensi hanya 7,3 persen. Pada 21 pasien hipertensi di Filipina hanya 1,1 persen yang punya alat tensi.
Di Vietnam hanya 3,0 persen dari 21 pasien hipertensi memiliki alat tensi, dan di Indonesia dari 58 pasien hipertensi hanya 0,6 persennya saja yang memiliki alat tensi.
Padahal menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, menunjukkan prevalensi hipertensi di Indonesia sebesar 34,1 persen dari 270 juta jiwa penduduk Indonesia.
Perlu diingat, hipertensi juga sering disebut sebagai silent killer alias pembunuh diam-diam. Ini karena pasien hipertensi kerap tidak merasakan gejala apapun saat tekanan darahnya sedang melonjak, parahnya kondisi tersebut sudah terjadi bertahun-tahun.
Baca Juga: Beban Kerja Bertambah saat Pandemi, Berisiko Tingkatkan Hipertensi pada Milenial
Bahkan menurut data World Hypertension League (WHL), lebih dari 50 persen atau 1 miliar penduduk dunia tak menyadari bahwa dirinya memiliki tekanan darah tinggi atau hipertensi.
Padahal hipertensi sangatlah berbahaya, karena membuat penderitanya bisa tiba-tiba mengalami serangan stroke, gagal jantung, bahkan gagal ginjal.
Itulah sebabnya memeriksakan tekanan darah jadi hal yang penting, dan dianggap sebagai pemeriksaan kesehatan dasar.
Berita Terkait
Terpopuler
- Menkeu Purbaya Dikabarkan Bakal Dicopot Kamis Hari Ini
- Prabowo Timbang Chatib Basri Gantikan Purbaya, Senin Disebut Bakal Ada Reshuflle Kabinet
- 4 Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review dan Harga
- 4 Sepatu Lari Lokal Harga Rp100 Ribuan dengan Ulasan Terbaik, Pas Buat Jogging
- Mengenal Sosok Alexandra Askandar, Bankir Perempuan Berpengaruh di Jajaran Top Level BUMN
Pilihan
-
Dasco Pagi-pagi Kumpulkan Menkeu Purbaya dan Gubernur BI di DPR, Evaluasi Ekonomi
-
Purbaya Disebut Bakal Jadi Gubernur BI, Prabowo Sedang Timbang Chatib Basri Jadi Menkeu
-
Prabowo Timbang Chatib Basri Gantikan Purbaya, Senin Disebut Bakal Ada Reshuflle Kabinet
-
Tersangka Korupsi MBG Sony Sonjaya Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator, Siap Ungkap Pihak Lain
-
Terbukti Korupsi! Immanuel Ebenezer 'Noel' Dijatuhi Hukuman 4,5 Tahun dan Denda Rp200 Juta
Terkini
-
Pencernaan Sehat Jadi Kunci Anak Aktif, Lahap Makan, dan Tidur Nyenyak
-
Stop Anggap Lemak Itu Jahat! Ini Alasan Mengapa Anak Justru Wajib Mengonsumsinya
-
Etawanesia dan Etawalin: Rekomendasi Susu Kambing Etawa Unggulan, Paling Diminati 2 Tahun Terakhir
-
Jangan Anggap Sepele Payudara Nyeri Saat Menyusui, Mastitis Bisa Berujung Operasi Abses
-
Mengenal Rontgen Gigi 3D: Teknologi yang Bantu Diagnosis Lebih Akurat dan Cepat
-
World Milk Day 2026: Perjalanan Peternak Menjaga Kualitas Nutrisi Segelas Susu
-
2 Susu Kambing Etawa untuk Mendukung Pemenuhan Nutrisi Penderita Saraf Kejepit
-
Bukan Cuma Perempuan, Faktor Pria Capai 30 Persen Kasus Infertilitas di Indonesia
-
Ribuan Sekolah Bergerak, Kesadaran Membangun Budaya Hidup Sehat Kian Menguat
-
Bukan Sekadar Kenyang, Ahli Gizi Ingatkan Pentingnya Nutrisi Seimbang untuk Menjaga Kualitas Hidup