Suara.com - Penelitian tentang asal usul virus Corona penting dilakukan untuk memprediksi sekaligus mencegah kemungkinan terjadinya pandemi lanjutan.
Sayangnya, para ilmuwan mengaku pesimis asal usul virus Corona bisa terungkap. Apa penyebabnya?
Melansir BBC Indonesia, ahli virologi Belanda Profesor Marion Koopmans yang juga anggota tim peneliti dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), mengatakan bahwa risiko pandemi di masa depan semakin tinggi, yang membuat penelitian asal usul virus Corona semakin penting.
"Karena cara dunia berubah - peningkatan populasi, kepadatan, dan lebih banyak interaksi antara manusia dan hewan, kita perlu belajar di mana ada kesalahan dan bagaimana kita bisa menghindarinya di masa depan," ujarnya.
Hingga saat ini, peneliti menyebut penelitian asal usul virus Corona terhambat. Padahal, peneliti sudah berhasil datang ke Wuhan, tempat kasus Covid-19 pertama dilaporkan.
Sempat muncul dugaan awal bahwa Covid-19 merupakan senjata biologis yang tidak sengaja bocor, dan China harus bertanggung jawab.
Namun, dalam laporan mereka tim WHO menyimpulkan bahwa meskipun tidak mungkin untuk menentukan bagaimana Sars-Cov-2 pertama kali menginfeksi manusia, semua bukti yang ada menunjukkan bahwa virus berasal dari hewan secara alami dan bukan virus yang dimanipulasi atau dibuat.
"Jika kita berbicara tentang kecelakaan di laboratorium, maka mereka seharusnya masih memiliki virus yang sama persis di laboratorium itu supaya bisa tidak sengaja dilepaskan. Kami tidak menemukan indikasi itu," kata Prof Koopmans.
Dugaan terkuat selanjutnya adalah virus melompat dari kelelawar ke manusia, lewat hewan ternak berbulu seperti cerpelai dan anjing rakun. Sebab penelitian serologi mengungkap, kerabat terdekat virus Sars-Cov-2 yang menginfeksi manusia ditemukan juga di kelelawar.
Baca Juga: Bertambah Ratusan Orang, RSD Wisma Atlet Kini Rawat 1.158 Pasien Positif Covid-19
Pada kunjungan tersebut, penelitian mengambil sampel dari hewan liar yang diternakkan, seperti cerpelai dan anjing rakun, yang diduga menjadi inang perantara virus melompat dari hewan ke manusia.
Namun hasilnya tidak sesuai harapan. Salah satu sebabnya adalah hewan liar yang diternakkan memiliki umur pendek.
"Semua bukti yang ada menunjukkan bahwa virus berasal dari hewan secara alami dan bukan virus yang dimanipulasi atau dibuat," katanya lagi.
Prof Koopmans mengatakan kunjungan ke Wuhan tidak memberikan hasil maksimal, karena ada kepentingan politik yang menyertainya. China dikatakannya, tersinggung dengan tuduhan terkait virus Covid-19 dibuat dengan sengaja.
Ia juga menyebut tidak mungkin rasanya menemukan pasien nol alias patien zero, pasien pertama yang didiagnosis mengidap Covid-19. Sebab, riset untuk melakukan hal tersebut harus dilakukan secara mendalam.
"Tapi yang perlu kita pelajari adalah, bagaimana kita bisa mengenali mana yang benar-benar 'kuman jahat'. Ada berbagai macam [virus kelelawar], jadi mana yang benar-benar berisiko tinggi? Dan bagaimana kita bisa mengenalinya? Itulah pelajaran yang sebenarnya bisa kita ambil dari studi ini," tutur Prof Koopmans.
Berita Terkait
-
Jerinx SID Kembali Singgung Konspirasi COVID-19, Ungkit Aksi Demo Tolak Rapid Tes Tahun 2020
-
Epstein Files Singgung Simulasi Pandemi Sebelum COVID-19, Nama Bill Gates Terseret
-
Merasa Tervalidasi oleh Epstein Files, Jerinx SID: Kini Kebenaran Makin Menyala
-
Epstein Files Singgung Bill Gates dan 'Proyek Pandemi' Sebelum Wabah COVID-19
-
Waspada Gejala Superflu di Indonesia, Benarkah Lebih Berbahaya dari COVID-19?
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
- Cerita Eks Real Madrid Masuk Islam di Ramadan 2026, Langsung Bersimpuh ke Baitullah
- Sosok Arya Iwantoro Suami Dwi Sasetyaningtyas, Alumni LPDP Diduga Langgar Aturan Pengabdian
- Menkop Ferry Minta Alfamart dan Indomaret Stop Ekspansi Karena Mengancam Koperasi Merah Putih
Pilihan
-
SBY Sentil Doktrin Perang RI: Kalau Serangan Udara Hancurkan Jakarta, Bagaimana Hayo?
-
Kasus Pembakaran Tenda Polda DIY: Perdana Arie Divonis 5 Bulan, Hakim Perintahkan Bebas
-
Bikin APBD Loyo! Anak Buah Purbaya Minta Pemerintah Daerah Stop Kenaikan TPP ASN
-
22 Tanya Jawab Penjelasan Pemerintah soal Deal Dagang RI-AS: Tarif, Baju Bekas, hingga Miras
-
Zinedine Zidane Comeback! Sepakat Latih Timnas Prancis Usai Piala Dunia 2026
Terkini
-
Selamat Tinggal Ruam! Rahasia Si Kecil Bebas Bergerak dan Mengeksplorasi Tanpa Batasan Kenyamanan
-
Tantangan Penanganan Kanker di Indonesia: Edukasi, Akses, dan Deteksi Dini
-
Virus Nipah Mengintai: Mengapa Kita Harus Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia?
-
Transformasi Layanan Kesehatan Bawa Semarang jadi Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia
-
Membangun Kebiasaan Sehat: Pentingnya Periksa Gigi Rutin bagi Seluruh Anggota Keluarga
-
Susu Kambing Etawa Indonesia Tembus Pameran Internasional: Etawanesia Unjuk Gigi di Expo Taiwan
-
Penanganan Penyintas Kanker Lansia Kini Fokus pada Kualitas Hidup, Bukan Sekadar Usia Panjang
-
Ini Rahasia Tubuh Tetap Bugar dan Kuat Menjalani Ramadan Optimal Tanpa Keluhan Tulang dan Sendi
-
Anak Sekolah Jadi Kelompok Rentan, Pemantauan Aktif Vaksinasi Dengue Diperluas di Palembang
-
Cuma Pakai Dua Jari, Dokter Ungkap Cara Deteksi Sakit Jantung dari Raba Nadi