Suara.com - Musisi sekaligus dokter bedah plastik dr. Teuku Adifitrian, Sp.BP-RE meminta masyarakat untuk tidak memilih-milih vaksin Covid-19. Sebab, semakin banyak masyarakat yang mendapatkan vaksinasi, semakin cepat pula tercapainya herd immunity alias kekebalan kelompok.
“Kalau saya pribadi, sih, enggak milih-milih. Apa yang ada, saya ambil saja dulu. Jadi enggak milih harus Pfizer, Sinovac, AstraZeneca, atau Moderna. Karena yang penting sekarang tervaksin terlebih dahulu,” kata Tompi dilansir ANTARA.
Tompi menyoroti pemilihan vaksin tertentu bisa mengganggu jalannya program vaksinasi nasional pemerintah. Salah satunya adalah kelompok masyarakat yang dengan sengaja menunda vaksinasi, demi mendapatkan vaksin Pfizer.
Padahal, menurut Tompi, nilai efikasi suatu jenis vaksin dapat berubah-ubah bergantung situasi dan kondisi. Oleh sebab itu, seharusnya masyarakat tidak perlu meributkan dan berebut vaksin Pfizer hanya karena nilai efikasinya disebut lebih tinggi daripada jenis vaksin lain.
“Perkara efikasinya, ada yang 98 persen, 96 persen, 60 sampai 70 persen. Kalau kita amati, angka itu juga kan terus berubah-ubah,” ujar Tompi
“Kita lihat misalnya data-data yang diluncurkan beberapa waktu terakhir tentang bagaimana efikasi Sinovac terhadap virus COVID-19 ini, yang tadinya enggak tinggi-tinggi amat, sekitar 60 persen kalau tidak salah, ternyata dia terbukti efektif dan untuk varian-varian tertentu,” lanjutnya.
Ia juga mengingatkan bahwa COVID-19 merupakan penyakit baru sehingga masih terus dilakukan penelitian jangka panjang yang cukup kompleks. Maka untuk saat ini, akan lebih bijak jika masyarakat mendapatkan vaksin sesuai ketersediaan.
Saat ini terdapat enam jenis vaksin yang digunakan di Indonesia untuk melawan virus COVID-19, yaitu Coronavac, Sinovac, AstraZeneca, Moderna, Pfizer, dan vaksin produksi Bio Farma dengan bahan baku dari Sinovac.
Tompi mengatakan jumlah ketersediaan vaksin saat ini terbatas sementara populasi penduduk Indonesia sangat banyak sehingga tidak bijak jika masyarakat menunda penyuntikan vaksin hanya karena ingin memilih merek tertentu.
Baca Juga: Update Covid-19 Global: Selandia Baru Laporkan Kematian Pertama Akibat Vaksin
“Misalnya, di dekat rumah Anda kebagiannya Sinovac tapi ingin memilih Pfizer sehingga menunda suntik. Atau, misalnya, Anda tinggal di Jakarta Selatan, lalu lari ke Kelapa Gading demi mendapatkan Pfizer, ya, jangan begitu,” tuturnya.
Selain itu, ia berpendapat bahwa sebaiknya orang sehat bisa mengalah dan mendahulukan kelompok penerima yang direkomendasikan pemerintah untuk mendapatkan vaksin Pfizer.
Sebagai informasi, vaksin Pfizer sudah bisa didapatkan warga DKI Jakarta yang belum pernah mendapatkan vaksin, baik dosis pertama maupun dosis kedua. Dinas DKI Jakarta memprioritaskan empat kelompok penerima, yaitu usia 12 ke atas, ibu hamil dan menyusui, penyakit kormobid terkontrol, dan penderita gangguan imunologi yang harus disertai surat keterangan dari dokter.
“Jadi, ya, kita bagi-bagilah porsinya. Yang relatif tidak punya masalah dengan autoimun, misalnya, bisa pakai jenis vaksin yang lain,” pungkas Tompi.
Berita Terkait
-
Mengintip Basic Skincare dr. Tompi untuk Kulit Sehat dan Awet Muda
-
Tompi Sebut Operasi Hidung karena Alasan Sinus Belum Tentu Berbohong, Bela Ria Ricis?
-
Berapa Biaya Oplas Hidung di Dokter Tompi seperti yang Dilakukan Rina Nose?
-
Tompi Curhat Pasiennya Tak Kunjung Bayar Usai Operasi Plastik, dari Tummy Tuck Sampai Pasang Implan
-
3 Basic Skincare Apa Saja? Ini Kata Dokter Tompi untuk Kulit Lembap Terlindungi
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
Terkini
-
Perempuan Jadi Kelompok Paling Rentan di Tengah Krisis Iklim dan Bencana, Bagaimana Solusinya?
-
Jangan Anggap Sepele Ruam dan Gangguan Cerna, Ini Pentingnya Deteksi Dini Alergi pada Anak
-
Pekan Imunisasi Dunia Jadi Pengingat, DBD Kini Mengancam Anak hingga Dewasa
-
Riset Harvard Ungkap Bermain Bersama Orang Tua Bantu Bangun Koneksi Otak Anak
-
Krisis Iklim Berdampak ke Kesehatan, Seberapa Siap Layanan Primer Indonesia?
-
Geger Hantavirus Menyebar di Kapal Pesiar, Tiga Orang Dilaporkan Meninggal Dunia
-
Hasil Investigasi KKI: 92% Konsumen Keluhkan Galon Tua, Ternyata Ini Dampak Buruknya bagi Tubuh
-
Tips Memilih Susu Berkualitas, Nutrisionis: Perhatikan Sumber dan Kandungannya
-
Pemulihan Optimal Setelah Operasi Dimulai dari Asupan Nutrisi yang Tepat
-
Diet Vegan Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca Hingga 55 Persen, Apa Buktinya?